Penampakan Grapes Cosmic atau Kosmik Anggur di luar angkasa (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Para astronom menemukan sebuah galaksi unik dari masa awal alam semesta yang dijuluki “Cosmic Grapes” atau Kosmik Anggur. Galaksi ini terbentuk sekitar 900 juta tahun setelah Big Bang, namun sudah menunjukkan struktur yang jauh lebih teratur daripada perkiraan ilmuwan sebelumnya.
Cosmic Grapes sebelumnya terlihat seperti sebuah cakram halus dan utuh dalam citra Teleskop Hubble. Namun keterbatasan resolusi membuat detail kecil menyatu menjadi satu bercak cahaya. Ketika teknologi observasi yang lebih canggih diterapkan, gambaran galaksi tersebut berubah drastis.
Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Seiji Fujimoto dari University of Texas at Austin mengombinasikan efek lensa gravitasi dengan data teleskop mutakhir. Lensa gravitasi terjadi ketika gravitasi dari gugus galaksi di depan membelokkan dan memperkuat cahaya dari objek yang sangat jauh, sehingga galaksi latar tampak jauh lebih besar dan lebih detail.
Berkat teknik ini, Cosmic Grapes diketahui sebagai salah satu galaksi jauh yang mengalami pelensaan gravitasi terkuat yang pernah ditemukan. Perbesaran ekstrem tersebut memungkinkan para peneliti memetakan struktur internal galaksi dengan ketelitian yang sebelumnya tidak mungkin dicapai.
Hasilnya mengejutkan. Alih-alih berupa cakram tunggal yang halus, Cosmic Grapes ternyata tersusun dari banyak gumpalan padat pembentuk bintang yang saling berdekatan. Setidaknya terdapat 15 gumpalan besar yang berada dalam satu sistem cakram berotasi.
Dikutip dari Earth pada Rabu (21/1), pengamatan terhadap gerak gas di dalam galaksi menunjukkan bahwa seluruh gumpalan tersebut bergerak dalam satu pola rotasi yang sama.
Ini menandakan bahwa mereka bukan hasil tabrakan galaksi acak, melainkan bagian dari satu sistem cakram yang sedang berkembang.
Untuk mengungkap komposisi material pembentuk bintang, para astronom memanfaatkan Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA). Teleskop radio ini mampu memetakan gas dingin dan debu, dua komponen utama pembentuk bintang, yang tidak terlihat pada cahaya tampak.
Sementara itu, James Webb Space Telescope (JWST) dengan pengamatan inframerahnya berhasil memisahkan gumpalan bintang muda dari populasi bintang yang lebih tua di sekitarnya. Kombinasi ALMA dan JWST membuat estimasi usia serta massa setiap gumpalan menjadi jauh lebih akurat.
Dengan resolusi spasial hingga sekitar 30 tahun cahaya, para peneliti dapat mengamati detail struktur galaksi yang sangat kecil. Pada skala ini, Cosmic Grapes terlihat jauh lebih kompleks dibandingkan hasil simulasi komputer tentang galaksi awal.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa cakram galaksi yang kaya gas dapat terpecah menjadi gumpalan ketika gravitasi internal mengalahkan tekanan dan rotasi. Proses ini dikenal sebagai ketidakstabilan gravitasi, dan secara alami menghasilkan struktur padat yang menjadi lokasi lahirnya bintang baru.
Yang membuat temuan ini semakin penting adalah fakta bahwa Cosmic Grapes tergolong galaksi “normal”. Galaksi ini berada di jalur utama pembentukan bintang, yaitu hubungan umum antara massa galaksi dan laju pembentukan bintang yang diikuti sebagian besar galaksi aktif.
Artinya, para ilmuwan tidak bisa menjelaskan keberadaan gumpalan tersebut sebagai hasil kondisi ekstrem atau peristiwa langka seperti tabrakan besar. Sebaliknya, gumpalan-gumpalan ini tampaknya merupakan bagian alami dari proses pembentukan galaksi awal.
Di sinilah tantangan bagi simulasi komputer modern. Banyak model galaksi saat ini terlalu menghaluskan distribusi gas atau memasukkan efek pemanasan yang kuat, sehingga gumpalan kecil mudah menghilang dalam perhitungan. Cosmic Grapes menunjukkan bahwa pendekatan tersebut mungkin perlu direvisi.
Selain itu, peran umpan balik bintang muda juga menjadi sorotan. Radiasi dan ledakan supernova dapat memanaskan serta mendorong gas di sekitarnya, yang biasanya menghancurkan awan padat. Namun jika efek ini lebih lemah pada galaksi awal, gumpalan dapat bertahan lebih lama dan tumbuh lebih besar.
Rekonstruksi citra Cosmic Grapes membutuhkan perhitungan matematis yang sangat teliti karena lensa gravitasi tidak hanya memperbesar cahaya, tetapi juga mendistorsi bentuk objek. Dengan model lensa yang akurat, para peneliti berhasil mengembalikan bentuk galaksi ke wujud aslinya.
Rekonstruksi ini memastikan bahwa gumpalan yang terlihat bukan sekadar artefak lensa, melainkan benar-benar struktur fisik di dalam galaksi. Standar analisis ini akan menjadi acuan penting untuk studi galaksi terlensa lainnya di masa depan.
Para astronom kini berencana mengamati lebih banyak galaksi serupa untuk memastikan apakah pola gumpalan ini memang umum terjadi. Dengan data ALMA dan JWST yang konsisten, mereka berharap dapat membandingkan struktur galaksi dari berbagai usia kosmik.
Jika temuan ini terus terkonfirmasi, teori pembentukan galaksi awal harus disusun ulang. Para ilmuwan perlu menjelaskan bagaimana cakram galaksi dapat terbentuk stabil, tetapi tetap terfragmentasi menjadi banyak bagian kecil.
Secara keseluruhan, Cosmic Grapes menunjukkan bahwa galaksi awal alam semesta mungkin jauh lebih terstruktur daripada yang selama ini dibayangkan. Galaksi tidak selalu tumbuh secara halus dan seragam, melainkan bisa terbentuk dari potongan-potongan padat yang kemudian menyatu dalam satu sistem.
Studi ini dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
galaksi Cosmic Grapes galaksi awal alam semesta pembentukan galaksi dini

















