Rabu, 21/01/2026 15:35 WIB

Flu yang Sama dengan Dampak Beda, Kenapa Bisa Terjadi?





Banyak orang mengira perbedaan gejala flu semata-mata ditentukan oleh seberapa ganas virus yang menyerang.

Ilustrasi seseorang terserang flu (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Banyak orang mengira perbedaan gejala flu semata-mata ditentukan oleh seberapa ganas virus yang menyerang. Namun, sebuah studi terbaru justru menunjukkan bahwa faktor penentu terbesar sering kali bukan terletak pada virus, melainkan cara tubuh manusia meresponsnya.

Rhinovirus, penyebab utama flu biasa, hampir selalu hadir di sekitar manusia. Sebagian besar orang terpapar virus ini berulang kali sepanjang hidupnya. Meski demikian, hasil akhirnya sangat beragam, mulai dari tanpa gejala sama sekali hingga infeksi berat yang mengganggu aktivitas harian dan pernapasan.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Cell Press Blue menyoroti bahwa kunci utama perbedaan tersebut terletak pada kecepatan dan ketepatan respons awal sistem pertahanan tubuh. Dengan kata lain, bukan hanya seberapa kuat virus, tetapi seberapa cepat tubuh mengenali dan melawannya.

Untuk memahami proses ini, dikutip dari Earth pada Rabu (21/1), para peneliti dari Yale School of Medicine mengembangkan jaringan hidung manusia di laboratorium.

Jaringan ini ditumbuhkan dari sel punca hidung selama empat minggu, dengan bagian permukaannya dibiarkan terpapar udara agar menyerupai kondisi saluran pernapasan manusia sebenarnya.

Pendekatan ini penting karena rhinovirus hanya menunjukkan perilaku khas pada manusia, sehingga penelitian menggunakan hewan sering kali tidak memberikan gambaran yang akurat. Model jaringan hidung ini mampu mereplikasi berbagai jenis sel yang terdapat pada lapisan hidung, termasuk sel penghasil lendir dan sel bersilia yang berfungsi menggerakkan lendir keluar dari saluran napas.

Menurut peneliti senior Ellen Foxman, model ini mencerminkan respons tubuh manusia jauh lebih akurat dibandingkan metode laboratorium konvensional. Hal ini memungkinkan para ilmuwan mengamati langsung apa yang terjadi pada tingkat seluler dan molekuler saat rhinovirus menginfeksi jaringan hidung.

Peran utama dalam pertahanan tubuh ini dimainkan oleh interferon, yaitu protein yang dilepaskan sel ketika mendeteksi keberadaan virus. Interferon tidak membunuh virus secara langsung, tetapi mengirimkan sinyal peringatan ke sel-sel lain agar bersiap menghadapi invasi, sehingga virus lebih sulit berkembang dan menyebar.

Dalam model jaringan hidung tersebut, interferon terbukti mampu menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat bagi virus. Jika respons interferon muncul cukup cepat, virus kesulitan memperluas infeksi. Namun, ketika proses deteksi awal ini sengaja dihambat dalam eksperimen, virus dengan cepat menguasai lebih banyak sel dan menyebabkan kerusakan jaringan yang jauh lebih besar.

Penulis utama studi, Bao Wang, menegaskan bahwa respons interferon yang cepat merupakan faktor krusial dalam mengendalikan infeksi, bahkan tanpa bantuan sel-sel sistem imun lainnya. Temuan ini menunjukkan bahwa lapisan hidung bukan sekadar korban pasif, melainkan garis depan pertahanan tubuh yang aktif dan terkoordinasi.

Namun, penelitian ini juga mengungkap sisi lain dari pertahanan tubuh. Ketika virus sudah terlanjur berkembang, respons lanjutan tubuh bisa menjadi kurang terkontrol. Produksi lendir meningkat, peradangan meluas, dan gejala menjadi semakin berat, terutama pada penderita asma atau penyakit paru kronis.

Reaksi berlebihan inilah yang sering membuat flu terasa jauh lebih menyiksa daripada yang seharusnya. Dalam kondisi tertentu, justru respons tubuh terhadap virus yang menjadi penyebab utama munculnya gejala berat, bukan virus itu sendiri.

Implikasi temuan ini sangat penting bagi pengembangan terapi di masa depan. Para peneliti menyarankan bahwa pengobatan seharusnya tidak hanya berfokus pada menekan virus, tetapi juga mengelola respons tubuh agar tetap efektif tanpa memicu peradangan berlebihan.

Strateginya adalah memperkuat respons antivirus awal yang bermanfaat, sekaligus mencegah lonjakan peradangan dan produksi lendir yang memicu penderitaan. Pendekatan ini dinilai berpotensi besar, terutama bagi kelompok rentan yang sering mengalami komplikasi akibat flu.

Meski demikian, para peneliti mengakui bahwa model jaringan laboratorium belum mampu meniru sepenuhnya kompleksitas tubuh manusia. Faktor lain seperti mikrobioma, alergi, paparan asap, serta kondisi peradangan dasar juga memengaruhi bagaimana jaringan hidung bereaksi terhadap virus.

Karena itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami bagaimana berbagai faktor tersebut “menyetel” respons tubuh terhadap infeksi. Pemahaman ini diharapkan dapat membuka jalan bagi terapi yang lebih presisi dan personal.

Secara keseluruhan, studi ini mengubah cara pandang tentang flu biasa. Penyakit ini bukan hanya soal tertular virus, melainkan tentang bagaimana tubuh menanggapi ancaman tersebut. Dua orang bisa terpapar virus yang sama, tetapi hasil akhirnya bisa sangat berbeda.

KEYWORD :

respons interferon dampak flu virus flu biasa infeksi rhinovirus




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :