Ilustrasi - Kisah ibadah Rasulullah mana kala Syaban telah datang (Foto: Islam Ramah)
Jakarta, Jurnas.com - Madinah belum sepenuhnya terlelap ketika Aisyah RA terjaga. Udara malam terasa sejuk, dan dari sudut rumah sederhana itu, ia mendengar langkah-langkah pelan Rasulullah SAW. Tidak tergesa, tidak bising. Seperti biasa, suaminya bangun dalam sunyi, sunyi yang hanya diisi oleh dzikir dan kesungguhan hati.
Aisyah mengenali malam-malam itu. Bulan Sya’ban telah datang.
Sebagai istri Nabi, Aisyah RA bukan hanya pendamping hidup, tetapi juga saksi paling dekat dari ibadah Rasulullah SAW. Dari balik tirai rumah yang sederhana, ia melihat bagaimana Nabi memperlakukan bulan Sya’ban dengan cara yang berbeda.
Tidak ada pengumuman, tidak ada seruan khusus, tetapi ada perubahan yang terasa-lebih banyak puasa, lebih sering bermunajat, dan kesungguhan yang kian mendalam.
Aisyah pernah mengamati, hari demi hari berlalu, dan Rasulullah SAW hampir selalu dalam keadaan berpuasa. Hingga suatu ketika, dalam keheningan yang penuh makna itu, Aisyah menyimpan kesaksiannya dalam ingatan. Kelak, kesaksian itu ia sampaikan kepada umat.
Belajar Makna Sabar dari Kisah Nabi Ayyub AS
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadan. Dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunnah daripada di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kesaksian itu bukan sekadar catatan ibadah, melainkan potret batin seorang Nabi. Aisyah melihat bagaimana Rasulullah SAW seolah sedang menata jiwanya. Puasa-puasa di bulan Sya’ban bukanlah beban, melainkan jeda. Sebuah persiapan yang tenang sebelum memasuki gelombang besar bernama Ramadan.
Di malam-malam Sya’ban itu, Aisyah menyaksikan doa-doa yang lirih. Tidak panjang, tidak berlebihan, tetapi penuh makna. Rasulullah SAW seperti sedang berbicara dengan Tuhannya dalam bahasa yang hanya dipahami oleh hati yang tunduk. Aisyah tidak selalu mendengar kata-katanya, tetapi ia merasakan ketenangan yang memenuhi rumah itu.
Bagi Aisyah RA, Sya’ban bukan sekadar bulan di antara Rajab dan Ramadan. Ia adalah bulan ketika Rasulullah SAW memperlihatkan bahwa persiapan iman tidak dilakukan dengan kegaduhan, melainkan dengan konsistensi. Bahwa kekuatan ibadah justru tumbuh dalam kesunyian dan keikhlasan.
Kelak, ketika umat Islam bertanya tentang Sya’ban, Aisyah tidak berbicara tentang ritual baru atau amalan yang dibuat-buat. Ia hanya menyampaikan apa yang ia lihat dan rasakan: seorang Nabi yang memperbanyak puasa, menenangkan jiwa, dan bersiap menyambut Ramadan dengan hati yang telah dilatih sejak jauh hari.
Melalui kesaksian Aisyah RA, Sya’ban hidup bukan sebagai bulan yang ramai oleh tradisi, tetapi sebagai ruang sunyi yang penuh cahaya. Sebuah teladan bahwa ibadah terbaik sering kali tumbuh diam-diam, jauh dari sorot mata, namun dekat dengan langit.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Bulan Syaban Kisah Aisyah Ibadah Sunnah Kisah Nabi














