Rabu, 21/01/2026 10:39 WIB

WHO Ingatkan Bahaya Stres di Tempat Kerja dan Cara Mencegahnya





Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa tempat kerja menjadi salah satu faktor krusial yang memengaruhi kesehatan mental orang dewasa

Ilustrasi pekerja stres di tempat kerja (Foto: Nubelson Fernandes/Unsplash)

Jakarta, Jurnas.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa tempat kerja menjadi salah satu faktor krusial yang memengaruhi kesehatan mental orang dewasa, mengingat hampir separuh waktu harian dihabiskan untuk bekerja dan berinteraksi dengan rekan kerja. Namun di balik tuntutan produktivitas, lingkungan kerja yang tidak sehat kerap memicu stres, kecemasan, hingga gangguan mental serius.

Dikutip dari Kemenkes, WHO mencatat lingkungan kerja yang buruk, mulai dari diskriminasi, beban kerja berlebihan, kontrol kerja yang rendah, hingga ketidakpastian pekerjaan, terbukti membahayakan kesehatan mental. Dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga ekonomi global, dengan estimasi 12 miliar hari kerja hilang setiap tahun akibat depresi dan kecemasan, yang setara kerugian sekitar 1 triliun dolar AS.

Kondisi tersebut sering muncul dalam bentuk tekanan kerja berlebih, jam kerja panjang yang tidak fleksibel, peran pekerjaan yang tidak jelas, minimnya dukungan atasan, hingga konflik antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Selain itu, budaya organisasi yang permisif terhadap perundungan, pelecehan, dan diskriminasi memperparah risiko gangguan mental di tempat kerja.

Melihat situasi ini, WHO menekankan pentingnya pencegahan sejak dini agar pekerja tidak terjerumus dalam masalah kesehatan mental yang lebih berat. Salah satu langkah utama adalah membangun kesadaran bahwa stres kerja bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan isu sistemik yang perlu ditangani bersama.

WHO merekomendasikan pelatihan kesehatan mental bagi pimpinan agar mampu mengenali tanda-tanda gangguan emosional pada pekerja serta membangun komunikasi yang lebih terbuka dan empatik. Di sisi lain, pekerja juga didorong mendapatkan edukasi literasi kesehatan mental guna mengurangi stigma dan meningkatkan kemampuan mengenali kondisi diri sendiri.

Selain itu, intervensi individual dinilai penting, termasuk pengelolaan stres, dukungan psikososial, serta pemberian ruang untuk aktivitas fisik dan rekreasi yang dapat membantu menjaga keseimbangan mental. Upaya ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.

Dinamika dan konflik di tempat kerja adalah hal yang tidak terhindarkan, namun respons terhadapnya dapat dikendalikan. Pekerja disarankan berani mengambil jeda, membatasi interaksi yang tidak sehat, menyampaikan pendapat secara asertif, serta tidak ragu mencari bantuan profesional jika tekanan mental terasa semakin berat.

Dengan langkah yang tepat dari individu maupun organisasi, tempat kerja tidak hanya menjadi ruang mencari nafkah, tetapi juga lingkungan yang mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan jangka panjang. (*)

KEYWORD :

Kesehatan Mental Anti-stres di Tempat Kerja Mencegah stres Lingkungan Kerja




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :