Piramida Agung Giza di Mesir (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Piramida Agung Giza kembali memicu perdebatan ilmiah setelah sebuah studi terbaru mengajukan gagasan bahwa bangunan raksasa itu memiliki sistem pengangkatan internal tersembunyi.
Menurut penelitian tersebut, para pekerja Mesir kuno kemungkinan memanfaatkan struktur batu piramida sebagai bagian dari mekanisme untuk mengangkat jutaan balok batu ke ketinggian.
Jika hipotesis ini terbukti, Piramida Agung tidak hanya dapat dipahami sebagai makam kerajaan, tetapi juga sebagai mesin rekayasa raksasa yang membantu membangun dirinya sendiri.
Artinya, sebagaimana dikutip dari Earth pada Selasa (20/1), arsitektur internal piramida bukan sekadar ruang simbolik atau ritual, melainkan bagian aktif dari proses konstruksi.
Gagasan ini dikembangkan oleh tim ilmuwan dari Weill Cornell Medicine (WCM) di New York. Penelitian dipimpin oleh Dr. Simon Andreas Scheuring, seorang profesor yang biasanya meneliti struktur membran sel dan protein. Dalam studi ini, ia menerapkan pendekatan mekanika dan rekayasa pada tata ruang Piramida Agung.
Scheuring memandang lorong dan ruang internal piramida sebagai bukti fungsional. Ia kemudian memetakan bagaimana balok batu kapur dan granit, yang beratnya bisa mencapai 60 ton, mungkin dipindahkan melalui jalur-jalur di dalam piramida selama proses pembangunan.
Dalam makalahnya, Scheuring menegaskan bahwa metode konstruksi Piramida Agung milik Firaun Khufu masih menjadi perdebatan besar di kalangan arkeolog dan insinyur. Teori ramp eksternal yang selama ini dominan dinilai memiliki kelemahan serius, terutama jika dikaitkan dengan waktu pembangunan sekitar 20 tahun.
Berdasarkan perhitungan Scheuring, para pekerja harus memasang satu balok setiap satu hingga tiga menit untuk menyelesaikan piramida tepat waktu. Dengan beban hingga 132.000 pon per batu, sistem ramp besar di luar piramida dianggap tidak realistis secara logistik dan struktural.
Sebagai alternatif, model baru ini mengusulkan bahwa balok diangkat melalui lorong-lorong curam di dalam piramida. Lorong Ascending Passage dan Grand Gallery, yang berada dalam satu garis lurus dan memiliki kemiringan serupa, dipandang sebagai sepasang ramp internal.
Dalam sistem ini, batu ditarik menggunakan tali yang melewati balok kayu seperti katrol sederhana. Sebuah beban penyeimbang meluncur turun di sisi lain, memanfaatkan gravitasi untuk membantu mengangkat batu utama ke atas melalui poros vertikal.
Model tersebut bergantung pada prinsip dasar fisika: ketika beban berat bergerak turun, gaya tarik pada tali meningkat dan mengangkat batu lain ke atas. Para pekerja kemudian mengarahkan batu dengan presisi melalui lorong sempit menuju posisi yang diinginkan.
Scheuring juga menekankan bahwa sistem ini menuntut kontrol ketat. Kayu, tali, dan batu memiliki batas kekuatan, sehingga proses harus dilakukan bertahap dengan penyesuaian dan pengaturan ulang yang sering.
Ia mengaitkan posisi beberapa ruang penting di dalam piramida yang tampak tidak simetris dengan keterbatasan mekanis sistem pengangkatan internal. Menurutnya, ruang-ruang tersebut diletakkan bukan semata-mata karena alasan simbolik, melainkan karena jalur pengangkatan batu memaksakan kompromi desain.
Beberapa permukaan aus dan alur pahatan pada dinding lorong juga ditafsirkan sebagai bekas dudukan balok kayu penyangga. Meski tanda-tanda ini dapat memiliki makna lain, Scheuring menilai bahwa semuanya konsisten dengan aktivitas penggeseran beban berat secara berulang.
Petunjuk tambahan datang dari permukaan luar piramida. Survei modern menunjukkan adanya lekukan kecil pada setiap sisi, serta guratan vertikal tipis di bagian tengah. Model ini menghubungkan pola tersebut dengan tinggi lapisan batu yang disusun bertahap.
Menurut teori ini, para pekerja menyelesaikan satu lapisan ketinggian, lalu memulai lagi dari dasar dengan lapisan berikutnya yang lebih tebal. Batu pelapis luar yang kini telah hilang kemungkinan menutupi bekas-bekas konstruksi tersebut selama ribuan tahun.
Para arkeolog sebenarnya sudah memiliki gambaran cukup jelas tentang bagaimana batu dikirim ke Giza, namun bukan bagaimana batu diangkat. Catatan logistik kuno dari pelabuhan Laut Merah menunjukkan bahwa batu kapur dari Tura dikirim melalui sungai Nil menuju lokasi piramida.
Eksperimen modern juga membuktikan bahwa pasir yang dibasahi tipis dapat mengurangi gaya tarik saat menyeret kereta luncur batu. Lapisan air di antara butir pasir membuat permukaan lebih kaku dan stabil di bawah beban.
Sementara itu, teknologi pemindaian non-invasif seperti radiografi muon telah memetakan rongga besar di atas Grand Gallery pada 2017. Teknik ini menggunakan partikel kosmik untuk mendeteksi perbedaan kerapatan di dalam batu kapur.
Penelitian lanjutan menemukan koridor lain di dekat sisi utara piramida. Bagi pendukung model pengangkatan internal, rongga-rongga ini merupakan petunjuk penting, meski belum menjadi bukti langsung.
Untuk menguji teori ini, para peneliti mengusulkan kombinasi pemetaan mikrogravitasi dan pemindaian struktural guna melihat apakah poros dan ruang yang diprediksi benar-benar ada. Uji tarik skala penuh dengan replika batu, tali, dan kayu juga dapat membantu menilai kelayakan mekanis sistem tersebut.
Namun, Scheuring mengakui bahwa hasil pengukuran pun mungkin tidak sepenuhnya mengakhiri perdebatan. Banyak lorong di piramida kemungkinan digunakan ulang untuk berbagai keperluan, sehingga interpretasinya tidak pernah sepenuhnya tunggal.
Secara keseluruhan, model pengangkatan internal menyatukan arsitektur dalam, bekas pada permukaan luar, dan data pemindaian modern ke dalam satu narasi mekanis terpadu. Nilai ilmiahnya akan meningkat jika prediksi poros dan jalur terbukti akurat, dan akan melemah jika penjelasan yang lebih sederhana mampu menjelaskan semua bukti.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal npj Heritage Science.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
konstruksi piramida giza sistem angkat internal rahasia piramida agung

















