Selasa, 20/01/2026 22:39 WIB

Populasi Pohon Elm Menyusut gegara Jamur Misterius, Hewan Ini Kurirnya





Pohon elm di berbagai wilayah belahan Bumi utara terus menghilang dengan kecepatan mengkhawatirkan.

Jamur di pohon elm Belanda (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Pohon elm di berbagai wilayah belahan Bumi utara terus menghilang dengan kecepatan mengkhawatirkan. Banyak di antaranya mati hanya dalam satu musim, setelah terinfeksi penyakit yang tidak terlihat secara kasat mata.

Penelitian terbaru di Italia kini mengungkap bahwa kumbang kecil yang hidup di bawah kulit pohon secara rutin membawa dua jenis jamur dengan peran berbeda dalam menentukan nasib pohon elm, dikutip dari Earth pada Selasa (20/1).

Penelitian dilakukan di Tuscany melalui program pemantauan kesehatan hutan jangka panjang milik Dewan Riset Nasional Italia (CNR). Selama beberapa musim, para ilmuwan mengumpulkan 7.150 kumbang kulit pohon elm, serangga kecil penggerek kayu yang hidup dan berkembang biak di bawah kulit elm. Jamur yang menempel pada tubuh kumbang tersebut kemudian dianalisis secara genetik.

Kumbang dewasa ditangkap menggunakan perangkap berbentuk corong hitam yang dipasang di pagar hidup dan tepi ladang. Perangkap ini dirancang untuk menangkap kumbang yang meninggalkan pohon elm yang sekarat menuju ranting baru yang masih sehat. Dengan metode ini, para peneliti dapat melacak bagaimana serangga memindahkan jamur dari satu pohon ke pohon lain.

Penelitian dipimpin oleh Alessia L. Pepori, Ph.D dari CNR, yang selama ini meneliti bagaimana serangga menyebarkan jamur mematikan di hutan. Dengan pengambilan sampel dari musim semi hingga awal musim gugur, tim dapat membandingkan jamur yang dibawa kumbang di wilayah yang masih sehat dengan daerah yang sudah mengalami wabah penyakit.

Penyakit elm Belanda terjadi ketika jamur masuk melalui luka gigitan kumbang di percabangan ranting. Jamur kemudian menyebar melalui jaringan pembuluh air di dalam pohon. Sebagai respons, pohon elm menyumbat saluran tersebut dengan mekanisme pertahanannya sendiri, yang justru menghentikan aliran air dan menyebabkan layu cepat.

Gejala awal biasanya terlihat pada satu cabang yang daunnya menguning dan menggulung. Jika kulit pohon dikupas, garis-garis cokelat dapat terlihat pada kayu bagian dalam. Meski kumbang menjadi pemicu utama infeksi, jamur juga dapat menyebar melalui akar yang saling terhubung antar pohon, sehingga mempercepat kehancuran kelompok elm di suatu area.

Selain membawa jamur patogen Ophiostoma novo-ulmi, kumbang juga membawa jamur lain dari genus Geosmithia. Kedua jamur ini hidup berdampingan di lorong-lorong yang dibuat kumbang di bawah kulit pohon. Menurut Pepori, hasil penelitian menunjukkan bahwa tanpa memandang kondisi wabah di suatu lokasi, kedua jamur tersebut selalu ditemukan pada tubuh kumbang dewasa.

Karena setiap kumbang membawa dua jenis jamur sekaligus, setiap penerbangan kumbang berpotensi menyebarkan kombinasi spora yang siap memulai infeksi baru di ranting segar. Namun, risiko nyata di lapangan tetap ditentukan oleh faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan siklus hidup kumbang itu sendiri.

Untuk mengukur jumlah jamur yang menumpang, para peneliti menggiling beberapa kumbang dalam satu sampel dan mengekstraksi DNA dari tubuhnya. Mereka menggunakan uji genetik sensitif yang mampu mendeteksi bahkan jumlah DNA yang sangat kecil. Metode ini memungkinkan kedua jamur terdeteksi sekaligus dalam satu proses analisis.

Hasilnya menunjukkan bahwa komposisi kedua jamur berubah sesuai tingkat keparahan wabah di suatu wilayah. Di daerah dengan penyakit yang masih terbatas, DNA Geosmithia ditemukan lebih dari lima kali lipat dibandingkan O. novo-ulmi. Sebaliknya, di daerah dengan wabah aktif, jamur patogen justru sedikit lebih dominan.

Di wilayah yang sebagian besar pohon elmn­ya sudah mati, jumlah kedua jamur sama-sama rendah. Pola ini mengindikasikan bahwa Geosmithia mungkin berkembang lebih baik ketika pohon masih tampak sehat, meskipun keberadaannya tidak otomatis menghentikan wabah.

Perangkap juga menunjukkan adanya dua gelombang penerbangan kumbang setiap musim panas, dengan puncak pada pertengahan Juli dan akhir Agustus. Kumbang mulai aktif ketika suhu mingguan mencapai sekitar 16 derajat Celsius. Sementara itu, kadar jamur pada tubuh kumbang meningkat seiring suhu musim panas yang semakin tinggi.

Kadar DNA jamur memuncak pada paruh kedua Agustus, bertepatan dengan gelombang kedua penerbangan kumbang. Pola musiman ini menunjukkan bahwa suhu berperan besar dalam menentukan jamur mana yang lebih berkembang di lorong-lorong bawah kulit pohon, sekaligus memengaruhi beban spora yang dibawa generasi kumbang berikutnya.

Jenis kelamin kumbang juga berpengaruh. Perangkap menangkap hingga 10 persen lebih banyak kumbang betina, dan kumbang betina umumnya membawa lebih banyak DNA Geosmithia di akhir musim. Hal ini karena kumbang betina biasanya lebih dulu menjajah lokasi berkembang biak, sehingga tubuhnya lebih lama berada di lingkungan tempat jamur tumbuh.

Pada periode akhir pengambilan sampel, jumlah Geosmithia pada betina jauh lebih tinggi dibandingkan jantan, sementara jumlah jamur patogen relatif serupa. Temuan ini menjadikan kumbang betina sebagai target penting dalam pemantauan penyakit, meskipun belum sepenuhnya menjelaskan mengapa beberapa wilayah mampu menahan wabah lebih lama.

Menariknya, percobaan laboratorium menunjukkan bahwa Geosmithia dapat bertindak sebagai jamur yang memangsa jamur lain. Dalam uji mikroskopis, kedua jamur tampak saling bersentuhan, dan ketika diinokulasikan bersama, tingkat keparahan penyakit pada elm menurun. Namun, efek ini bisa melemah di jaringan kulit pohon yang kaya nutrisi, berbeda dengan kondisi laboratorium.

Penggunaan Geosmithia sebagai pengendali hayati masih memerlukan uji lapangan menyeluruh. Jamur tambahan dapat memengaruhi mikroba dan serangga lain, sehingga risiko ekologis harus dipertimbangkan dengan cermat sebelum diterapkan sebagai solusi.

Hingga kini, upaya pengendalian penyakit elm Belanda masih mengandalkan pembersihan kayu mati dan terinfeksi. Kumbang berkembang biak di kayu tersebut sebelum berpindah ke ranting sehat. Pembersihan yang cepat dapat memutus siklus hidup kumbang dan menurunkan risiko penyebaran jamur.

Tim CNR kini mempertimbangkan penggunaan rasio jamur pada tubuh kumbang sebagai alat pemantauan dini untuk mendeteksi wilayah yang mulai terancam wabah. Meski demikian, solusi jangka panjang tetap bergantung pada pengembangan varietas elm yang lebih tahan penyakit serta pengelolaan hutan yang konsisten.

Secara keseluruhan, penelitian ini menyatukan pola musiman kumbang, komposisi jamur, dan kondisi lokasi dalam satu gambaran utuh tentang bagaimana wabah penyakit elm terbentuk.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Ecosphere ini menunjukkan bahwa bahkan jamur berukuran mikroskopis yang menumpang pada serangga kecil dapat menentukan masa depan pohon elm di berbagai belahan dunia.

KEYWORD :

penyakit elm belanda kumbang kulit pohon jamur patogen elm




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :