Selasa, 20/01/2026 21:39 WIB

Ilmuwan Temukan Jejak Stres dan Pola Hidup Manusia Ribuan Tahun Lalu





Sekelompok ilmuwan berhasil menemukan jejak stres dan pola hidup manusia ribuan tahun lalu, melalui fosil gigi yang terbukti menyimpan catatan kehidupan

Fosil manusia (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Sekelompok ilmuwan berhasil menemukan jejak stres dan pola hidup manusia ribuan tahun lalu, melalui fosil gigi yang terbukti menyimpan catatan kehidupan yang jauh lebih detail dibandingkan tulang.

Dari tekanan fisik dan emosional di masa kecil hingga kebiasaan makan di usia dewasa, semua tersimpan rapi dalam lapisan mikroskopis email gigi, sebagaimana dikutip dari Earth pada Selasa (20/1).

Penelitian terbaru dilakukan pada gigi yang berasal dari situs pemakaman Pontecagnano, Italia, yang berusia lebih dari 2.700 tahun. Para peneliti dari Sapienza University memotong dan memindai gigi-gigi tersebut dengan teknik khusus untuk membaca rekam jejak pertumbuhan, stres, dan pola konsumsi pemiliknya.

Proyek ini dipimpin oleh Dr. Roberto Germano, yang meneliti cara gigi merekam dinamika kehidupan manusia sejak kecil. Sebanyak 30 gigi dari sepuluh individu dewasa yang hidup pada abad ke-7 dan ke-6 sebelum Masehi dianalisis secara mendalam.

Potongan tipis dari gigi tersebut memungkinkan para ilmuwan melihat lapisan-lapisan email yang terbentuk secara bertahap selama masa kanak-kanak, seperti garis waktu biologis yang mencatat setiap perubahan kondisi tubuh.

Email gigi tumbuh dalam lapisan-lapisan teratur yang mengikuti usia anak dalam hitungan hari. Sel pembentuk email, yang disebut ameloblas, menambahkan mineral sedikit demi sedikit, sehingga setiap lapisan mencerminkan kecepatan pertumbuhan pada saat itu. Dalam penelitian ini, gigi taring tercatat membutuhkan rata-rata 1.977 hari untuk terbentuk, lebih lama dibandingkan gigi geraham.

Struktur berlapis ini membuat gigi menjadi alat ukur yang sangat presisi. Para peneliti tidak lagi harus menebak-nebak usia terjadinya suatu peristiwa stres hanya dari keausan tulang, melainkan dapat menelusuri bulan bahkan fase tertentu dalam masa kanak-kanak seseorang.

Beberapa garis pada email tampak lebih gelap dan mencolok. Garis-garis ini, yang disebut accentuated lines, muncul ketika tubuh mengalami tekanan saat gigi masih terbentuk. Tekanan tersebut bisa berasal dari penyakit, kekurangan gizi, atau tekanan emosional, karena tubuh sementara memperlambat proses pembentukan email.

Yang membuat temuan ini sangat penting adalah sifat email gigi yang tidak dapat diperbaiki ulang oleh tubuh. Setiap garis stres yang terbentuk akan bertahan seumur hidup dan tetap terlihat meski seseorang telah lama meninggal. Dengan kata lain, gigi menjadi arsip permanen dari masa kecil pemiliknya.

Ketika para peneliti memetakan garis stres tersebut terhadap usia, mereka menemukan dua puncak tekanan utama di masa kanak-kanak awal. Puncak pertama terjadi sekitar usia 12 bulan, ketika 80 persen individu dalam sampel menunjukkan setidaknya satu peristiwa stres. Puncak kedua muncul sekitar usia 44 bulan, masa ketika anak mulai beralih makanan dan lebih sering terpapar lingkungan luar yang meningkatkan risiko infeksi.

Meski demikian, para ilmuwan mengingatkan bahwa tidak semua fase kehidupan terekam dengan tingkat ketelitian yang sama pada setiap gigi. Hal ini berarti beberapa peristiwa stres awal kemungkinan masih belum terdeteksi sepenuhnya, sehingga angka sebenarnya bisa lebih tinggi dari yang terlihat.

Di usia dewasa, gigi merekam informasi dengan cara berbeda. Plak yang menempel di gigi dapat mengeras menjadi karang gigi atau dental calculus. Proses ini terjadi ketika mineral dalam air liur mengikat lapisan lengket tersebut, sekaligus mengurung partikel makanan dan lingkungan di dalamnya.

Penelitian sebelumnya pada 2018 menunjukkan bahwa karang gigi mampu melindungi protein makanan dan serpihan lingkungan dari proses pembusukan. Karena itulah, karang gigi menjadi sumber penting untuk mempelajari pola makan orang dewasa di masa lalu, meskipun hanya mencerminkan apa yang tersisa di mulut, bukan seluruh menu yang dikonsumsi.

Analisis mikroskopis terhadap karang gigi dari lima individu di Pontecagnano menemukan sisa-sisa biji-bijian, kacang-kacangan, serta serat tumbuhan. Temuan ini menunjukkan bahwa makanan sehari-hari mereka kaya akan karbohidrat, sejalan dengan bukti perdagangan Mediterania yang berkembang pada masa tersebut.

Butiran pati dan serat tumbuhan terperangkap dalam lapisan mineral karena aktivitas mengunyah dan menangani makanan. Namun, karena tidak semua individu memiliki karang gigi yang cukup untuk dianalisis, informasi pola makan ini hanya mewakili sebagian kecil komunitas dan harus ditafsirkan secara hati-hati.

Menariknya, para peneliti juga menemukan spora ragi pada beberapa sampel, yang mengindikasikan konsumsi makanan atau minuman hasil fermentasi. Jejak mikroorganisme ini cukup kuat untuk bertahan dalam karang gigi, terutama jika seseorang sering mengonsumsi atau mengolah bahan fermentasi.

Serat tumbuhan yang ditemukan pada seluruh individu juga dapat mencerminkan aktivitas kerja, seperti memegang benang atau membersihkan permukaan dengan gigi. Bukti ini mendukung dugaan adanya praktik pembuatan minuman fermentasi dan pengolahan serat, meskipun tidak memungkinkan untuk mengidentifikasi resep atau tugas spesifik setiap orang.

Untuk melengkapi gambaran tersebut, para ilmuwan menggunakan analisis isotop stabil pada gigi dan tulang. Rasio karbon dan nitrogen menunjukkan bahwa makanan pokok penduduk Pontecagnano didominasi hasil pertanian, dengan konsumsi protein hewani dalam jumlah terbatas.

Studi tahun 2024 yang dikutip dalam penelitian ini memperkirakan masa menyusui eksklusif berlangsung sekitar tujuh bulan, diikuti proses penyapihan dari usia delapan hingga 31 bulan. Pola ini membantu menjelaskan mengapa garis stres sering muncul pada fase transisi makanan tersebut.

Meski hasilnya sangat kaya informasi, penelitian ini memiliki keterbatasan besar karena metode yang digunakan bersifat destruktif. Gigi harus dipotong dan tidak dapat dikembalikan ke bentuk semula. Oleh sebab itu, penelitian semacam ini masih jarang dilakukan dan memerlukan pertimbangan etika yang ketat.

Dr. Germano menegaskan bahwa gigi penduduk Zaman Besi Pontecagnano membuka jendela unik ke dalam kehidupan mereka. Melalui gigi, para peneliti dapat mengikuti pertumbuhan masa kecil dengan presisi tinggi serta mengidentifikasi jejak biji-bijian, kacang-kacangan, dan makanan fermentasi di usia dewasa, sehingga terlihat bagaimana komunitas ini beradaptasi terhadap tantangan lingkungan dan sosial.

Para ilmuwan menyarankan bahwa penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar, analisis isotop tambahan, serta studi pola keausan gigi dapat menunjukkan apakah kisah-kisah individual ini mencerminkan tren masyarakat yang lebih luas. Pendekatan ini juga dapat memperkaya perdebatan tentang perawatan anak dan pola makan di masa lalu.

Secara keseluruhan, lapisan pertumbuhan, garis stres, dan sisa makanan yang terperangkap dalam gigi membuktikan bahwa kehidupan manusia, dengan segala kesulitan dan rutinitasnya, dapat bertahan dalam catatan arkeologi hingga ribuan tahun kemudian.

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal PLOS One.

KEYWORD :

gigi manusia kuno manusia purba stres stres masa lalu pola makan kuno




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :