Ilustrasi kawasan kumuh (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Plastik kini bukan sekadar kemasan makanan, botol minuman, atau kantong belanja. Di berbagai kawasan kumuh perkotaan, plastik berubah fungsi menjadi bahan bakar rumah tangga.
Praktik ini bukan lahir dari pilihan, melainkan dari keterpaksaan akibat kemiskinan energi dan buruknya layanan pengelolaan sampah. Di balik pintu rumah sempit dan gang-gang padat penduduk, plastik dibakar setiap hari demi memasak, menghangatkan tubuh, atau sekadar menyalakan api.
Fenomena ini jarang terlihat oleh dunia luar karena tidak terjadi di cerobong pabrik atau lokasi pembakaran terbuka berskala besar. Pembakaran plastik berlangsung diam-diam di dapur kecil, halaman sempit, dan ruang hidup yang menyatu dengan tempat memasak.
Akibatnya, persoalan ini lama luput dari perhatian global, meski dampaknya langsung menyentuh kesehatan keluarga miskin di berbagai negara berkembang.
Dikutip dari Earth pada Selasa (20/1), sebuah studi penelitian terbaru memberikan gambaran kuantitatif tentang praktik tersembunyi ini. Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 1.000 responden dari 26 negara, terdiri dari peneliti, pekerja pemerintah, serta pemimpin komunitas yang sehari-hari berinteraksi dengan kawasan perkotaan berpenghasilan rendah.
Hasilnya menunjukkan bahwa sepertiga responden mengetahui secara langsung adanya rumah tangga yang membakar plastik, bahkan sebagian mengaku pernah melakukannya sendiri.
Temuan ini menegaskan bahwa pembakaran plastik tidak hanya dilakukan untuk menghilangkan sampah, tetapi juga sebagai sumber energi alternatif.
Plastik dipakai untuk memasak makanan, menghangatkan rumah, menyalakan api, hingga mengusir serangga. Dalam kondisi tanpa akses bahan bakar bersih dan layanan pengangkutan sampah, plastik menjadi solusi darurat yang membawa konsekuensi serius.
Dr. Bishal Bharadwaj dari Curtin Institute for Energy Transition menjelaskan bahwa praktik ini selama ini sulit dipetakan karena berlangsung di ruang privat dan komunitas marjinal. Menurut dia, survei terbaru memberikan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Dia menyebut, masyarakat membakar berbagai jenis plastik, mulai dari kantong, bungkus makanan, hingga botol dan kemasan, demi memenuhi kebutuhan paling dasar.
Bharadwaj menilai bahwa praktik ini jauh lebih luas daripada perkiraan sebelumnya. Namun karena terjadi di lingkungan miskin dan sering tersembunyi, persoalan ini tidak mendapatkan perhatian global yang sebanding dengan tingkat risikonya. Padahal, dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan sangat besar dan bersifat jangka panjang.
Di banyak rumah, pembakaran plastik dilakukan menggunakan tungku sederhana, seperti tungku tiga batu, kompor arang, atau alat bakar darurat. Asap tebal dari plastik yang terbakar memenuhi ruang sempit tempat keluarga memasak, makan, dan beristirahat. Asap tersebut tidak hanya keluar ke lingkungan sekitar, tetapi menetap di dalam rumah, menciptakan paparan beracun yang terus-menerus.
Kelompok yang paling rentan adalah perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu di dekat sumber api. Padahal, paparan asap dari kayu atau arang saja sudah terbukti meningkatkan risiko penyakit pernapasan. Ketika plastik dibakar, tingkat bahaya tersebut meningkat berlipat karena kandungan kimia beracun yang dilepaskan ke udara.
Profesor Hari Vuthaluru, salah satu penulis studi, menyoroti bahaya plastik jenis PVC yang sering dibakar. Dia menjelaskan bahwa pembakaran PVC menghasilkan dioksin dan furan, dua senyawa yang termasuk polutan paling berbahaya di dunia.
Zat-zat ini dapat bertahan lama di lingkungan, menumpuk dalam rantai makanan, serta memicu kanker, gangguan reproduksi, dan kerusakan sistem kekebalan tubuh.
Yang membuat situasi semakin mengkhawatirkan, PVC tercatat sebagai jenis plastik ketiga yang paling sering dibakar di kawasan miskin perkotaan. Artinya, risiko paparan zat beracun bukan sekadar kemungkinan, melainkan kenyataan yang dialami banyak keluarga setiap hari tanpa perlindungan memadai.
Dampak pembakaran plastik tidak berhenti pada udara. Dr. Pramesh Dhungana dari Curtin’s School of Molecular and Life Sciences mengungkapkan bahwa mayoritas responden percaya zat beracun dari asap plastik sangat mungkin mencemari makanan dan air. Temuan lapangan di sekitar lokasi pembakaran plastik juga menunjukkan adanya senyawa beracun dalam telur ayam dan sampel tanah.
Ketika plastik dibakar di dekat rumah dan area memasak, partikel beracun dapat mengendap di tanaman, masuk ke sumber air, serta terakumulasi dalam bahan pangan. Proses ini menciptakan krisis kesehatan tersembunyi yang memperburuk kondisi masyarakat yang sejak awal sudah hidup dalam keterbatasan akses layanan kesehatan dan gizi.
Larangan membakar plastik saja tidak cukup untuk menghentikan praktik ini. Profesor Peta Ashworth, salah satu penulis studi, menekankan bahwa masyarakat membakar plastik bukan karena tidak memahami bahayanya, melainkan karena tidak memiliki pilihan lain.
Kemiskinan energi, mahalnya bahan bakar bersih, dan buruknya sistem pengelolaan sampah menjadi akar masalah yang memaksa mereka mengambil risiko tersebut.
Kondisi ini semakin mengkhawatirkan jika melihat proyeksi bahwa penggunaan plastik global diperkirakan akan meningkat hingga tiga kali lipat pada tahun 2060. Tanpa perubahan kebijakan yang serius, jumlah plastik yang berpotensi dibakar di kawasan miskin akan terus bertambah, bersama dengan beban kesehatan dan lingkungan yang menyertainya.
Para peneliti menekankan bahwa solusi harus bersifat menyeluruh. Peningkatan sanitasi, akses terhadap energi memasak modern, serta pendekatan yang melibatkan komunitas secara langsung menjadi kunci utama.
Intervensi tidak boleh hanya bersifat larangan, tetapi harus menawarkan alternatif yang terjangkau, realistis, dan sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
pembakaran plastik rumah polusi asap plastik kemiskinan energi kota





















