Selasa, 20/01/2026 19:00 WIB

Fenomena Gajah Rusak Ladang Warga, Alasannya Bukan Kerusakan Hutan





Kerusakan ladang akibat invasi gajah dari hutan terjadi tak hanya di Indonesia, namun juga di berbagai belahan dunia, termasuk Gabon

Gajah di ladang warga (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Kerusakan ladang akibat invasi gajah dari hutan terjadi tak hanya di Indonesia, namun juga di berbagai belahan dunia, termasuk Gabon, negara Afrika Barat yang sebagian besar wilayahnya masih tertutup hutan lebat.

Di negara tersebut, para petani sering kali dibuat kesal ketika mendapati tanaman pisang roboh, batang pepaya patah di tanah, dan ladang kecil yang menjadi sumber penghidupan keluarga tampak porak-poranda.

Selama ini, perilaku tersebut dianggap sekadar perampasan hasil panen. Hewan besar dianggap mencari makanan mudah tanpa memikirkan kerugian manusia. Namun, pengamatan lebih teliti menunjukkan pola yang aneh. Banyak buah matang justru dibiarkan, sementara batang dan daun tanaman menjadi sasaran utama.

Temuan inilah yang memicu pertanyaan ilmiah baru. Mengapa gajah mengabaikan bagian tanaman yang paling kaya energi? Peneliti akhirnya menemukan jawaban. Ladang kemungkinan berfungsi sebagai `apotek alami` bagi gajah hutan yang sedang sakit.

Para petani di Gabon telah lama memperhatikan kejanggalan ini. Buah pisang dan pepaya sering tidak dimakan, tetapi batang serta daunnya rusak berat. Pola ini menambah kemarahan karena kerugian tetap terjadi tanpa hasil yang jelas.

Steeve Ngama, ilmuwan konservasi dari Pusat Penelitian Ilmiah dan Teknologi Nasional Gabon, menyebut perilaku ini sebagai sesuatu yang sulit dipahami dari sudut pandang pertanian.

Secara nutrisi, buah menawarkan energi tinggi, sementara daun justru rendah kalori. Dari sisi kelaparan, buah seharusnya lebih menarik. Namun, dari sisi kesehatan, daun menyimpan senyawa kimia yang mampu melawan parasit.

Daun pisang dan pepaya dikenal mengandung zat antiparasit, sehingga kemungkinan besar gajah mencari manfaat penyembuhan, bukan sekadar mengisi perut.

Dalam ekologi modern, pilihan makanan hewan tidak lagi dipahami hanya sebagai upaya memenuhi kebutuhan energi. Kondisi tubuh, penyakit, dan tekanan internal juga memengaruhi preferensi.

Banyak spesies liar diketahui mempraktikkan swamedikasi dengan mencari tanaman tertentu untuk meredakan rasa sakit, infeksi, atau parasit.

Gajah hutan hidup sangat lama dan menjelajah wilayah luas, sehingga parasit menjadi ancaman konstan. Cacing usus dapat melemahkan pencernaan dan mengurangi pemanfaatan energi.

Mengurangi parasit berarti meningkatkan peluang bertahan hidup. Dari sudut pandang teori ekofisiologi, hewan menimbang risiko dan manfaat, termasuk risiko mendekati wilayah manusia demi memperoleh keuntungan kesehatan.

Untuk menguji hipotesis ini, Ngama bekerja sama dengan ilmuwan dari Gabon, Belgia, Prancis, dan Amerika Serikat. Penelitian lapangan dilakukan di sekitar Taman Nasional Monts de Cristal pada 2016–2017.

Dikutip dari Earth pada Selasa (20/1), para peneliti mengikuti jejak gajah setelah kunjungan malam ke ladang dan mengumpulkan sampel kotoran segar.

Analisis laboratorium mengungkap pola yang konsisten. Semakin tinggi tingkat parasit dalam tubuh gajah, semakin besar kecenderungan mereka memakan tanaman pisang dan pepaya. Gajah yang terinfeksi parasit usus menunjukkan minat khusus pada batang dan daun, bukan pada buah.

Kandungan energi tanaman tersebut justru mendukung penjelasan medis. Daun pisang dan pepaya rendah kalori, tetapi kaya senyawa aktif seperti flavonoid, terpenoid, papain, dan benzyl isothiocyanate. Penelitian pada hewan ternak seperti domba dan ayam menunjukkan bahwa senyawa ini efektif menekan parasit, sehingga kemungkinan manfaat serupa juga dirasakan oleh gajah.

Peneliti juga mengukur hormon stres dalam kotoran gajah. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat stres tidak meningkat saat gajah mengunjungi ladang. Aktivitas malam hari tampaknya mengurangi risiko konflik langsung dengan manusia. Ini menunjukkan bahwa gajah merencanakan kunjungan mereka dengan hati-hati, bukan bertindak secara acak.

Perilaku tersebut sejalan dengan teori trade-off, yakni hewan bersedia menerima risiko jangka pendek demi keuntungan jangka panjang. Ladang pertanian bukan sekadar sumber makanan, melainkan lokasi strategis untuk memperoleh obat alami ketika tubuh membutuhkan.

Elodie Freymann, peneliti pascadoktoral dari Brown University, menyatakan bahwa gajah kemungkinan memiliki repertori pengobatan alami yang kompleks. Menurutnya, penelitian semacam ini menjadi langkah penting untuk mengungkap pengetahuan medis alami yang tersimpan dalam perilaku hewan liar.

Jean Marc Dubost, etnobiolog dari Museum Sejarah Alam Prancis, menjelaskan bahwa hewan dapat mengaitkan rasa tertentu dengan efek penyembuhan, lalu menyimpannya dalam ingatan. Pada spesies sosial seperti gajah, pengetahuan ini bahkan bisa diwariskan lintas generasi melalui pengamatan dan pembelajaran.

Fenomena serupa juga ditemukan pada gajah Asia. Di Laos dan Thailand, para pawang gajah atau mahout sering melihat gajah yang sakit dilepas ke hutan dan kembali pulih setelah beberapa minggu. Akar dan tanaman merambat tertentu digunakan sebagai obat diare atau penambah nafsu makan. Bahkan, gajah betina memilih tanaman khusus saat hamil dan menyusui.

Pemahaman baru ini membuka peluang untuk mengurangi konflik antara manusia dan gajah. Selama ini, kerusakan ladang sering memicu tindakan kekerasan terhadap gajah dan melemahkan upaya konservasi. Jika tujuan gajah adalah pengobatan, maka menyediakan alternatif seperti garam mineral dengan sifat antiparasit dapat mengurangi kebutuhan mereka masuk ke ladang.

Perencanaan tata ruang juga berperan penting. Menjauhkan ladang dari jalur satwa liar dan pohon buah yang menarik dapat menurunkan daya tarik wilayah pertanian. Lebih jauh lagi, mengubah cara pandang terhadap gajah, dari hama menjadi makhluk berpengetahuan, dapat memperbaiki hubungan antara manusia dan satwa liar.

Di luar konteks pertanian, perilaku pengobatan alami gajah berpotensi memberi manfaat besar bagi kesehatan manusia. Sejarah menunjukkan bahwa pengamatan terhadap hewan telah membantu penemuan senyawa antimalaria dan pengusir serangga alami. Gajah hutan mungkin menyimpan petunjuk penting untuk pengembangan obat masa depan.

Ngama bahkan berharap penelitian lanjutan dapat mengungkap bagaimana gajah menghadapi penyakit berbahaya, termasuk virus yang juga mengancam manusia. Menurutnya, mungkin saja gajah memiliki strategi biologis yang belum diketahui untuk menghadapi wabah seperti Ebola.

Selama ini, gajah hutan dikenal sebagai penyebar benih dan arsitek ekosistem hutan. Kini, mereka juga muncul sebagai “tabib alami” yang bergerak senyap melalui hutan dan ladang, dipandu oleh pengetahuan yang dibentuk oleh evolusi dan pengalaman panjang.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Ecological Solutions and Evidence dan memberikan sudut pandang baru bahwa konflik antara manusia dan satwa liar tidak selalu berakar pada kerakusan, melainkan pada kebutuhan kesehatan yang sangat mendasar.

KEYWORD :

gajah hutan Gabon pengobatan alami hewan konflik manusia gajah




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :