Selasa, 20/01/2026 18:05 WIB

Arkeolog Temukan Jejak Perempuan Pemimpin Suku Maya di Meksiko





Nama seorang perempuan akhirnya kembali muncul dalam catatan sejarah kota kuno Cobá di Meksiko selatan. Temuan ini mengubah pemahaman ilmuwan

Peninggalan Suku Maya di Meksiko (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Nama seorang perempuan akhirnya kembali muncul dalam catatan sejarah kota kuno Cobá di Meksiko selatan. Temuan ini mengubah pemahaman ilmuwan tentang siapa sebenarnya penguasa yang memimpin kota tersebut pada abad keenam.

Penemuan tersebut menyoroti peran penting seorang ratu Suku Maya yang selama berabad-abad nyaris hilang dari ingatan, meski pengaruhnya terbukti besar dalam membentuk kekuatan politik Cobá.

Bukti baru berasal dari interpretasi ulang sebuah prasasti batu kapur di situs Cobá, yang kini berada di wilayah Quintana Roo. Tulisan pahatan itu mengaitkan kekuasaan kerajaan dengan sosok bernama Ix Ch’ak Ch’een, seorang perempuan yang diyakini memerintah pada masa ketika Cobá sedang memperluas pengaruhnya di wilayah utara Semenanjung Yucatán.

Dikutip dari Earth, para peneliti meyakini bahwa Ix Ch’ak Ch’een bukan pendiri dinasti, namun justru penguasa yang berhasil mengonsolidasikan kekuatan politik yang telah ada.

David Stuart, pakar tulisan Maya Klasik dari University of Texas at Austin yang memimpin penelitian ini, menegaskan bahwa peran sang ratu sangat menentukan dalam menjadikan Cobá sebagai kekuatan regional yang diperhitungkan.

Kesimpulan tersebut diperkuat oleh kesesuaian nama dan tanggal pada beberapa monumen berbeda di Cobá. Para ahli membandingkan bentuk huruf, susunan simbol, dan kronologi prasasti untuk memastikan bahwa semua referensi itu menunjuk pada satu penguasa yang sama, bukan pada beberapa tokoh dengan nama serupa.

Prasasti utama ditemukan tersembunyi selama berabad-abad di bawah tangga dekat kompleks Nohoch Mul, bersebelahan dengan sebuah lubang air alami. Setelah lapisan garam dan endapan mineral dibersihkan, detail hieroglif yang semula buram kembali terlihat. Permukaan batu berukuran besar itu memerlukan pencitraan khusus agar guratan yang hampir lenyap dapat ditelusuri ulang.

Meski begitu, tepi batu yang rusak dan bagian yang tererosi membuat sebagian pesan tetap sulit dibaca. Karena itu, setiap terjemahan yang dihasilkan masih membuka ruang untuk koreksi di masa depan. Namun, pola penulisan yang berulang pada monumen lain membantu memperkuat identifikasi sang ratu.

Nama Ix Ch’ak Ch’een juga muncul pada beberapa stela, yakni monumen batu tegak yang ditempatkan di alun-alun, termasuk Stela 26 dan 30, serta pada Panel 7 di area yang sama. Dalam beberapa inskripsi, namanya dipadukan dengan gelar-gelar dewa yang berbeda, tetapi tanggal di sekitarnya tetap konsisten, menunjukkan bahwa semuanya merujuk pada figur yang sama.

Salah satu baris teks mencatat tanggal spesifik yang berkaitan dengan pembentukan jabatan kepemimpinan tinggi. Jika dikonversi ke kalender modern, tanggal itu jatuh pada 12 Mei 569. Lokasi yang disebut dalam teks kemungkinan besar merujuk pada kawasan Nohoch Mul, pusat pembangunan platform dan piramida terbesar di Cobá.

Pengaitan jabatan politik dengan kawasan tersebut mengisyaratkan adanya reorganisasi pemerintahan. Meskipun tanggal penobatan sang ratu belum ditemukan secara jelas, catatan ini menunjukkan bahwa masa pemerintahannya bertepatan dengan perubahan struktural penting dalam sistem kekuasaan kota.

Bagian lain dari prasasti menandai berakhirnya satu siklus waktu sekitar 20 tahun pada 8 Desember 573, yang bertepatan dengan pembangunan lapangan permainan bola seremonial. Pembangunan fasilitas ini mengubah tata ruang kompleks, menciptakan jalur khusus yang digunakan dalam upacara publik dan mempertegas otoritas penguasa di hadapan masyarakat.

Upacara penutupan periode waktu merupakan peristiwa besar dalam budaya Maya. Dengan mencatat momen tersebut di batu, istana sang ratu tampaknya sengaja menampilkan legitimasi dan kekuasaannya di hadapan khalayak luas, sekaligus mengukuhkan posisi politiknya.

Kekuatan Cobá juga tercermin dari jaringan jalan batu yang disebut sacbeob. Jalan-jalan ini menghubungkan berbagai distrik dan kota lain, termasuk Sacbe 1 yang membentang sekitar 100 kilometer hingga Yaxuná. Infrastruktur semacam ini menunjukkan adanya pemerintahan yang mampu mengoordinasikan tenaga kerja dalam skala besar dan jangka panjang.

Penempatan prasasti di dekat sumber air Nohoch Mul juga sarat makna simbolik. Teks tersebut mengaitkan sang ratu dengan dewa-dewa pelindung garis keturunan Cobá, seolah menegaskan bahwa kekuasaannya mendapat legitimasi ilahi. Lokasi ini memungkinkan masyarakat membaca nama penguasa dan para dewa setiap hari, memperkuat loyalitas melalui kebiasaan sehari-hari.

Beberapa gelar yang tercantum dalam teks, termasuk kaloomte’, mengisyaratkan status militer dan kepemimpinan tingkat tinggi. Para ahli menduga adanya hubungan politik dengan dinasti Kaanul dan penguasanya yang dikenal sebagai Sky Witness, meskipun bukti hubungan langsung tersebut masih terus diteliti.

Di seluruh wilayah Maya, prasasti-prasasti menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya berperan sebagai pendamping raja, tetapi juga sebagai penguasa, diplomat, bahkan pemimpin perang. Ix Ch’ak Ch’een kini resmi bergabung dalam jajaran tokoh perempuan berpengaruh tersebut, meski banyak detail tentang kebijakan dan kehidupan pemerintahannya masih tersembunyi.

Para peneliti menilai bahwa pemahaman lebih lengkap tentang sang ratu hanya dapat diperoleh melalui restorasi prasasti tambahan dan penggalian yang mengaitkan teks dengan permukiman serta makam. Setiap fragmen baru berpotensi mengisi celah besar dalam kisah yang selama ini terputus-putus.

Penemuan ini menunjukkan bahwa sejarah masih menyimpan banyak tokoh penting yang belum sepenuhnya dikenali. Dalam kasus Cobá, sosok ratu yang lama terfragmentasi kini mulai mendapatkan tempat yang lebih layak dalam narasi peradaban Maya. Namun, seperti diakui para arkeolog, apa yang belum terbaca mungkin sama pentingnya dengan apa yang sudah berhasil diungkap.

Penelitian lanjutan diharapkan dapat memperjelas aliansi politik, gelar resmi, dan peran strategis Ix Ch’ak Ch’een dalam membangun kekuatan Cobá. Meski demikian, keterbatasan prasasti yang tererosi memastikan bahwa kisah sang ratu akan selalu menyisakan ruang misteri dalam sejarah Maya.

KEYWORD :

ratu Maya Coba sejarah Coba Maya Suku Maya prasasti Maya kuno




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :