Selasa, 20/01/2026 17:07 WIB

Bahayakan Janin, Benarkah Bumil Dilarang Konsumsi Paracetamol?





Kehamilan sering kali membuat setiap keputusan terasa lebih sensitif. Pola makan menjadi lebih diperhatikan, kebiasaan tidur berubah, dan bahkan obat

Ilustrasi ibu hamil (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Kehamilan sering kali membuat setiap keputusan terasa lebih sensitif. Pola makan menjadi lebih diperhatikan, kebiasaan tidur berubah, dan bahkan obat yang biasanya dianggap sepele pun kini dipertanyakan keamanannya.

Sakit kepala ringan atau demam kecil saja dapat menimbulkan kecemasan besar karena ibu hamil selalu memikirkan dampaknya terhadap janin yang sedang berkembang.

Banyak perempuan hamil akhirnya menahan diri untuk tidak mengonsumsi obat apapun, termasuk obat pereda nyeri, karena takut akan risiko jangka panjang. Paracetamol, yang selama puluhan tahun direkomendasikan dokter sebagai pilihan utama selama kehamilan, ikut menjadi pusat perdebatan.

Tidak sedikit yang memilih menahan nyeri atau demam, meskipun kondisi tersebut mengganggu aktivitas harian. Situasi inilah yang mendorong para ilmuwan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh bukti ilmiah yang tersedia, agar masyarakat tidak terus hidup dalam kebingungan.

Dikutip dari Earth, tim peneliti City St. George’s, University of London, melakukan tinjauan sistematis dan meta-analisis besar terhadap 43 studi berkualitas tinggi dari berbagai negara dan sistem layanan kesehatan.

Penelitian ini dirancang untuk menjawab pertanyaan terkait kemungkinan paracetamol selama kehamilan benar-benar meningkatkan risiko autisme, ADHD, atau disabilitas intelektual pada anak.

Berbeda dari banyak studi sebelumnya, penelitian ini hanya memasukkan data dengan definisi hasil yang jelas serta pengendalian faktor latar belakang yang ketat. Pendekatan ini bertujuan menghilangkan bias yang kerap muncul akibat metode penelitian yang lemah, sehingga hasil yang diperoleh menjadi jauh lebih akurat dan dapat dipercaya.

Peneliti menemukan bahwa sejumlah studi lama memang menunjukkan hubungan kecil antara paracetamol dan gangguan perkembangan saraf. Namun, sebagian besar penelitian tersebut mengandalkan ingatan orang tua, periode tindak lanjut yang singkat, atau catatan medis yang tidak lengkap. Faktor-faktor ini membuka peluang besar terjadinya kesalahan interpretasi.

Selain itu, autisme dan ADHD sangat dipengaruhi oleh faktor genetik. Lingkungan keluarga, kondisi kesehatan ibu, infeksi, demam, serta nyeri kronis selama kehamilan juga berperan besar dalam perkembangan anak.

Jika faktor-faktor ini tidak diperhitungkan secara memadai, penggunaan obat dapat terlihat sebagai penyebab utama, padahal sebenarnya hanya kebetulan bersamaan dengan kondisi lain.

Untuk mengatasi masalah ini, tim peneliti memberikan perhatian khusus pada studi perbandingan saudara kandung. Dalam desain penelitian ini, dua anak dari ibu yang sama dibandingkan, di mana satu kehamilan melibatkan penggunaan paracetamol dan kehamilan lainnya tidak. Metode ini membantu mengendalikan faktor genetik dan lingkungan keluarga yang sama.

Analisis melibatkan lebih dari satu juta anak. Lebih dari 260.000 anak dievaluasi untuk autisme, lebih dari 330.000 untuk ADHD, dan lebih dari 400.000 untuk disabilitas intelektual. Hasilnya konsisten: tidak ditemukan peningkatan risiko yang bermakna terkait penggunaan paracetamol selama kehamilan.

Dari sisi penelitian laboratorium, beberapa eksperimen memang menunjukkan bahwa metabolit paracetamol dapat memengaruhi sinyal hormon, stres oksidatif, atau jalur kimia yang terlibat dalam perkembangan otak. Paracetamol juga diketahui dapat melewati plasenta. Namun, sebagian besar temuan tersebut berasal dari studi hewan atau sel, yang tidak selalu mencerminkan kondisi nyata pada manusia.

Ketika data populasi manusia dianalisis dengan pengendalian faktor genetik dan lingkungan keluarga, tidak ditemukan hubungan signifikan antara paparan paracetamol prenatal dengan gangguan perkembangan saraf. Temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa risiko yang dikhawatirkan selama ini tidak didukung oleh bukti klinis yang kuat.

Para peneliti juga melakukan penilaian kualitas studi menggunakan alat Quality In Prognosis Studies. Evaluasi ini mencakup desain penelitian, cara pengukuran paparan obat, metode diagnosis, pengendalian faktor pengganggu, serta pelaporan statistik. Hasilnya tetap konsisten bahkan ketika hanya studi dengan risiko bias rendah yang dianalisis.

Penelitian dengan masa tindak lanjut lebih dari lima tahun pun menunjukkan pola yang sama. Autisme, ADHD, dan disabilitas intelektual tidak memperlihatkan peningkatan risiko yang dapat dikaitkan langsung dengan penggunaan paracetamol selama kehamilan.

Profesor Asma Khalil, penulis utama studi ini, menegaskan bahwa hubungan yang dilaporkan sebelumnya kemungkinan besar lebih dipengaruhi oleh faktor genetik atau kondisi kesehatan ibu seperti demam dan nyeri, bukan oleh paracetamol itu sendiri. Ia menekankan bahwa paracetamol tetap merupakan pilihan aman jika digunakan sesuai petunjuk.

Dia menambahkan bahwa paracetamol masih menjadi obat lini pertama yang direkomendasikan untuk ibu hamil yang mengalami nyeri atau demam. Oleh karena itu, perempuan hamil seharusnya merasa lebih tenang karena masih memiliki opsi aman untuk meredakan gejala yang mengganggu.

Hal ini penting karena nyeri dan demam yang tidak ditangani selama kehamilan justru dapat menimbulkan risiko serius. Penelitian menunjukkan bahwa demam yang tidak diobati dapat meningkatkan kemungkinan keguguran, kelahiran prematur, dan kelainan bawaan. Nyeri kronis pun dapat menurunkan kualitas hidup serta memengaruhi kesehatan fisik ibu.

Dengan demikian, paracetamol tetap menjadi pilihan paling aman, mudah diakses, dan didukung oleh organisasi medis di berbagai negara, selama dikonsumsi sesuai dosis yang dianjurkan. Bukti ilmiah terbaru kini memberikan kejelasan setelah bertahun-tahun ketidakpastian.

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Obstetrics, Gynaecology, & Women’s Health.

KEYWORD :

obat hamil aman paracetamol kehamilan nyeri saat hamil




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :