Ilustrasi - Imam Al-Ghazali (Foto: Pinterest/Islampos)
Jakarta, Jurnas.com - Kualitas seorang guru tidak hanya diukur dari keluasan materi yang ia kuasai, tetapi juga dari adab atau cara bersikap yang menjaga ilmu tetap bernilai, membentuk karakter murid, dan menghadirkan keberkahan dalam proses belajar.
Imam Al-Ghazali memberi perhatian besar pada sisi etika ini, karena ilmu yang disampaikan tanpa adab berisiko kehilangan pengaruh moralnya.
Salah satu rujukan yang kerap dikutip tentang adab pendidik adalah uraian Al-Ghazali dalam risalah al-Adab fid Din (dalam Majmu‘ah Rasā’il al-Imām al-Ghazālī).
Di sana, Al-Ghazali merangkum sejumlah adab yang seharusnya melekat pada orang alim (guru) ketika berinteraksi dengan murid dan masyarakat.
Berikut rangkuman adab-adab guru menurut Imam Al-Ghazali:
1. Terus menuntut ilmu, tidak merasa “selesai”
Bagi Al-Ghazali, guru ideal adalah pembelajar seumur hidup. Ia tidak berhenti memperbarui pengetahuan, karena stagnasi ilmu mudah melahirkan kekakuan berpikir dan “rasa paling benar”.
2. Mengamalkan ilmu sebelum mengajarkannya
Ilmu yang tidak hidup dalam perilaku pengajar akan sulit meresap ke murid. Karena itu Al-Ghazali menekankan keselarasan ucapan dan tindakan: guru harus menjadi contoh nyata dari materi yang ia sampaikan.
3. Menjaga wibawa dengan sikap tenang dan berimbang
Ketenangan (waqār) adalah tanda kedewasaan ilmiah. Guru sebaiknya tidak reaktif, tidak mudah meledak, dan mampu memimpin kelas/majelis dengan stabil terutama saat menghadapi murid yang beragam karakter.
4. Menolak kesombongan saat memerintah atau memanggil orang
Al-Ghazali mengingatkan: kewibawaan bukan alasan untuk merendahkan. Guru tetap tegas, tetapi tidak sombong dalam memberi instruksi, teguran, atau panggilan kepada murid.
5. Lemah lembut kepada murid, bukan keras apalagi kasar
Kelembutan bukan berarti memanjakan, melainkan cara mendidik yang menjaga martabat murid dan membuka pintu kejujuran. Sikap kasar justru sering melahirkan ketakutan, kepura-puraan, bahkan kebencian pada proses belajar.
6. Tidak membanggakan diri (anti-ujub) meski punya prestasi
Al-Ghazali menilai ujub adalah racun bagi ilmu. Guru yang sibuk memamerkan diri akan menggeser orientasi pendidikan dari pembentukan murid menjadi panggung pembenaran diri.
7. Menyesuaikan pertanyaan dan cara uji pemahaman dengan kemampuan murid
Guru dianjurkan menguji murid dengan cara yang mendidik, bukan menjatuhkan. Pertanyaan, tugas, dan target harus proporsional—agar murid yang lambat memahami tidak patah semangat, dan yang cepat tidak kehilangan tantangan.
8. Berani berkata “saya tidak tahu” ketika memang belum jelas
Kejujuran ilmiah adalah adab besar. Al-Ghazali memuji kerendahan hati seorang guru yang tidak memaksakan jawaban, karena memaksakan jawaban bisa menipu murid dan merusak integritas ilmu.
9. Memberi jawaban ringkas dan mudah untuk penanya yang kapasitasnya terbatas
Tidak semua murid siap menerima penjelasan panjang dan kompleks. Guru perlu “mengukur gelas” sebelum menuang; jawaban bisa dibuat sederhana dulu, lalu bertahap ditingkatkan sesuai kesiapan murid.
10. Menghindari sikap yang tidak wajar: terlalu keras atau terlalu longgar
Al-Ghazali mendorong sikap moderat dan profesional. Terlalu keras mematikan kreativitas, terlalu longgar mengundang sikap meremehkan. Yang ideal adalah ketegasan yang manusiawi dan konsisten.
11. Mau mendengar argumen dan menerima kebenaran meski datang dari “lawan”
Adab ilmiah menuntut keterbukaan. Guru sebaiknya tidak apriori; jika argumen orang lain kuat, ia bersedia mengakui dan mengambil manfaatnya. Sikap ini sekaligus mengajarkan murid bahwa kebenaran lebih utama daripada ego.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Adab Guru Imam Al-Ghazali Akhlak Guru Adab Guru dalam Islam





















