Selasa, 20/01/2026 05:59 WIB

Inilah Alasan Mengapa Kerusakan Laut Bisa Menggandakan Biaya Emisi Karbon





Nelayan sedang menangkap ikan di laut (Foto: Pexels/Quang Nguyen Vinh)

Jakarta, Jurnas.com - Lautan yang menutupi sebagian besar permukaan Bumi selama ini menjadi penyangga utama kehidupan, mulai dari sumber pangan hingga pengendali iklim global. Namun ironisnya, kerusakan laut akibat perubahan iklim hampir tak pernah masuk dalam perhitungan ekonomi iklim dunia.

Sebuah studi terbaru mengubah pandangan tersebut dengan temuan penting bahwa dampak perubahan iklim terhadap laut selama ini diremehkan. Dikutip dari Earth, ketika kerusakan laut dihitung, biaya sebenarnya dari emisi karbon ternyata hampir berlipat ganda.

Penelitian ini untuk pertama kalinya memasukkan dampak laut ke dalam social cost of carbon, indikator yang mengukur kerugian sosial akibat satu ton emisi karbon dioksida. Selama ini, perhitungan tersebut lebih banyak berfokus pada dampak daratan seperti pertanian, kesehatan, dan kerusakan properti.

Akibatnya, kerugian besar yang dialami ekosistem laut, perikanan, dan wilayah pesisir nyaris tak terlihat dalam kebijakan iklim. Padahal, laut telah lama menyerap sebagian besar karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer.

Peneliti utama studi ini, ekonom lingkungan Bernardo Bastien-Olvera dari University of California San Diego, menegaskan bahwa pengabaian ini membuat risiko iklim tampak jauh lebih kecil dari kenyataan. Menurutnya, kerusakan yang tidak diberi nilai ekonomi cenderung diabaikan dalam pengambilan keputusan.

Karbon dioksida yang masuk ke laut memicu pemanasan air, perubahan kimia laut, serta penurunan kadar oksigen yang dibutuhkan makhluk hidup. Kondisi ini merusak terumbu karang, hutan mangrove, padang lamun, hingga perikanan yang menopang jutaan orang.

Selain itu, laut yang lebih hangat memperkuat badai dan meningkatkan risiko banjir pesisir yang mengancam infrastruktur pelabuhan dan permukiman. Dampaknya merembet ke ekonomi lokal dan ketahanan pangan masyarakat pesisir.

Dalam penelitian ini, tim menghitung kerugian ekonomi dari sektor perikanan dan perdagangan laut, serta dampak non-pasar seperti penurunan gizi dari konsumsi seafood dan hilangnya nilai rekreasi. Mereka juga memasukkan nilai keberadaan ekosistem laut yang dihargai masyarakat meski tidak dimanfaatkan langsung.

Hasilnya menunjukkan perubahan signifikan dalam perhitungan biaya emisi karbon. Tanpa kerusakan laut, social cost of carbon berada di kisaran 51 dolar AS per ton, namun setelah dampak laut dihitung nilainya melonjak menjadi 97,2 dolar AS per ton.

Kenaikan hampir 91 persen ini menunjukkan bahwa biaya polusi karbon selama ini jauh lebih mahal dari perkiraan. Dengan emisi global mencapai sekitar 41,6 miliar ton pada 2024, kerugian laut dari satu tahun emisi setara hampir 2 triliun dolar AS.

Ke depan, kerugian dari penurunan hasil perikanan diperkirakan bisa mencapai 1,66 triliun dolar AS per tahun pada 2100. Sementara itu, kerusakan ekosistem laut dan dampak kesehatan akibat menurunnya kualitas gizi seafood juga menimbulkan kerugian ratusan miliar dolar setiap tahun.

Dampak ini tidak dirasakan secara merata karena negara kepulauan dan wilayah pesisir kecil menghadapi risiko paling besar. Ketergantungan tinggi pada laut membuat mereka lebih rentan terhadap penurunan nutrisi, penyakit, dan tekanan ekonomi.

Penelitian ini memperkenalkan konsep blue social cost of carbon sebagai cara baru melihat nilai laut dalam kebijakan iklim. Pendekatan ini memberi gambaran yang lebih jujur tentang harga yang harus dibayar masyarakat dunia atas setiap ton emisi karbon.

Para peneliti menegaskan bahwa angka-angka ini bukan untuk menukar kerusakan ekologis dengan uang, melainkan untuk menunjukkan besarnya kerugian yang selama ini tersembunyi. Dengan memasukkan laut ke dalam perhitungan, kebijakan iklim diharapkan bisa lebih adil, akurat, dan berpihak pada masa depan.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Climate Change dan menjadi peringatan kuat bahwa krisis iklim tidak hanya terjadi di daratan. Kerusakan laut kini terbukti menjadi salah satu biaya terbesar yang harus ditanggung manusia akibat emisi karbon. (*)

KEYWORD :

Kerusakan Laut Emisi Karbon Perubahan Iklim Biaya Emisi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :