Gambar gajah (Foto: africanbudgetsafaris)
Jakarta, Jurnas.com - Manusia purba tidak sekadar berburu untuk bertahan hidup, tetapi juga mengembangkan strategi besar yang mengubah arah evolusi mereka. Salah satu langkah paling berani adalah memburu dan memakan gajah, hewan raksasa yang memberi keuntungan luar biasa bagi kelangsungan hidup manusia awal.
Selama bertahun-tahun, para ilmuwan memperdebatkan apakah manusia purba benar-benar pemburu megafauna atau hanya pemulung yang memanfaatkan sisa buruan predator lain. Namun temuan terbaru dari Olduvai Gorge, Tanzania, menunjukkan bukti kuat bahwa manusia telah aktif memproses gajah sekitar 1,8 juta tahun lalu.
Temuan ini berasal dari situs Emiliano Aguirre Korongo yang menyimpan rangka gajah muda bersama alat batu tajam dalam satu konteks yang sangat terjaga. Susunan tulang dan alat yang rapat menandakan aktivitas pemotongan yang disengaja, bukan kebetulan alam.
Dikutip dari Earth, salah satu alasan utama manusia purba berburu gajah adalah kebutuhan energi yang besar. Daging dan lemak gajah menyediakan asupan kalori masif yang mampu menopang tubuh dan otak manusia yang terus berkembang.
Selain itu, satu ekor gajah dapat memberi makanan bagi banyak individu dalam waktu lama. Strategi ini jauh lebih efisien dibanding berburu hewan kecil yang membutuhkan energi dan risiko berulang.
Keunggulan lain terletak pada sumsum tulang gajah yang kaya lemak dan sulit diakses predator lain. Dengan memecah tulang segar, manusia purba memperoleh sumber energi eksklusif yang memberi keunggulan kompetitif di alam liar.
Pilihan berburu gajah juga berkaitan dengan pemahaman lanskap. Manusia purba tampaknya mengikuti pergerakan gajah di sekitar sungai dan rawa, wilayah yang menjadi pusat aktivitas manusia sekaligus sumber daya alam penting.
Seiring waktu, pola ini menciptakan lokasi hunian yang lebih luas dan digunakan berulang kali. Hal tersebut menunjukkan meningkatnya perencanaan, kerja sama kelompok, dan kemungkinan pembagian peran dalam komunitas manusia purba.
Bukti arkeologis juga memperlihatkan perubahan besar sekitar 1,8 juta tahun lalu, ketika sisa gajah dan kuda nil mulai sering ditemukan bersama alat batu. Sebaliknya, situs yang lebih tua tidak menunjukkan pola serupa, menandakan adanya lompatan strategi bertahan hidup.
Berburu megafauna bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang stabilitas sosial. Pasokan pangan besar memungkinkan kelompok manusia bertahan lebih lama di satu tempat dan memperkuat ikatan sosial.
Temuan ini mengubah pandangan lama tentang manusia purba sebagai makhluk reaktif terhadap alam. Sebaliknya, mereka tampil sebagai perencana yang mampu memanfaatkan hewan terbesar di lingkungannya.
Meski alat batu yang digunakan masih sederhana, cara pemanfaatannya menunjukkan kecerdasan ekologis yang tinggi. Strategi berburu gajah menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan panjang evolusi manusia
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Manusia Purba Perburuan Gajah Evolusi Manusia Hewan Besar Sumber Pangan





















