Sekelompok gajah bejalan melewati sekelompok jerapah (Foto: Reuters)
Jakarta, Jurnas.com - Selama puluhan tahun, para ilmuwan memperdebatkan apakah manusia purba benar-benar berburu hewan raksasa atau sekadar memanfaatkan sisa bangkai. Kini, penelitian terbaru dari Olduvai Gorge, Tanzania, menghadirkan bukti kuat bahwa manusia purba aktif memburu dan mengolah gajah hampir 1,8 juta tahun lalu.
Studi yang dipimpin Institute of Evolution in Africa bersama Rice University ini menunjukkan bahwa manusia purba telah mengembangkan strategi bertahan hidup baru yang jauh lebih terencana. Temuan tersebut menandai perubahan besar dalam pola perilaku, perencanaan, dan organisasi sosial pada fase awal evolusi manusia.
Dikutip dari Earth, penelitian berfokus pada situs Emiliano Aguirre Korongo (EAK), yang terletak di pertemuan dua ngarai di Olduvai Gorge. Di lokasi ini, para peneliti menemukan sisa kerangka gajah muda yang terawetkan dengan sangat baik tepat di atas lapisan abu vulkanik berusia sekitar 1,78 juta tahun.
Di sekeliling tulang-tulang tersebut, ditemukan alat batu dengan sisi tajam yang masih utuh, menandakan minimnya gangguan alam setelah pengendapan. Lebih jauh, analisis spasial canggih menunjukkan susunan tulang dan alat itu terlalu teratur untuk dianggap sebagai kebetulan alami.
Bukti paling kuat berasal dari pola patahan tulang segar atau green bone fractures, yang hanya bisa terjadi jika tulang dipecahkan saat masih segar. Tulang kaki gajah yang tebal nyaris mustahil pecah secara alami, dan pola kerusakan tersebut tidak mungkin dihasilkan oleh karnivora.
Selama ini, ketiadaan bekas sayatan sering membuat pembuktian pemotongan gajah menjadi sulit. Namun, studi modern menunjukkan bahwa proses pengulitan dan pengambilan daging gajah dalam skala besar justru kerap meninggalkan sedikit bekas potongan di permukaan tulang.
Temuan di EAK memperkuat pandangan bahwa manusia purba tidak sekadar oportunis, melainkan sengaja memanfaatkan megafauna sebagai sumber pangan utama. Hal ini menantang asumsi lama bahwa gajah terlalu berbahaya atau terlalu sulit diolah oleh manusia purba.
Kenapa Banyak Hewan Besar Berasal dari Afrika?
Analisis lanskap Olduvai juga menunjukkan pola yang konsisten, di mana sisa gajah dan kuda nil sering ditemukan bersama kepadatan alat batu tinggi setelah sekitar 1,8 juta tahun lalu. Pola ini tidak terlihat pada situs yang lebih tua, menandakan adanya perubahan perilaku yang nyata, bukan sekadar faktor pelestarian.
Lingkungan seperti rawa, tepi sungai, dan dataran banjir menjadi pusat aktivitas manusia purba karena menarik hewan-hewan besar yang bergantung pada air. Dengan memahami pola ini, manusia purba tampaknya sengaja mengikuti pergerakan gajah dan memanfaatkan lokasi strategis.
Situs-situs dari periode ini juga jauh lebih luas dan kompleks dibandingkan lokasi sebelumnya. Area aktivitas mencapai ratusan meter persegi dan menunjukkan penggunaan berulang, mengindikasikan peningkatan perencanaan, kerja sama, dan kemungkinan kelompok sosial yang lebih besar.
Gajah memberikan keuntungan luar biasa karena satu individu dapat menyediakan daging dalam jumlah besar untuk waktu lama. Selain itu, tulang gajah menyimpan lemak kaya energi yang hampir tidak bisa diakses predator lain.
Dengan memecahkan tulang-tulang besar tersebut, manusia purba memperoleh sumber nutrisi unggulan yang memberi keunggulan ekologis. Surplus energi ini diduga mendukung hunian lebih lama, pertumbuhan kelompok, dan stabilitas sosial.
Peneliti menilai bahwa eksploitasi gajah menempatkan manusia purba pada posisi unik dalam ekosistem, tanpa padanan modern yang jelas. Strategi ini bukan eksperimen sesaat, melainkan fondasi penting dalam evolusi manusia.
Bukti dari EAK menunjukkan bahwa manusia purba tidak hanya menyesuaikan diri dengan lingkungan, tetapi mulai membentuk cara mereka memanfaatkannya. Perburuan megafauna ini mengubah pola makan, mobilitas, dan struktur sosial secara mendasar.
Perubahan tersebut sejalan dengan kemunculan hominin bertubuh lebih besar dan situs arkeologi yang semakin kompleks pada periode yang sama. Meski alat batunya masih sederhana, strategi penggunaannya mencerminkan kecerdasan adaptif yang lebih maju.
Kesimpulannya, kemampuan memburu dan memanfaatkan hewan terbesar di lanskap purba merupakan salah satu langkah paling menentukan dalam sejarah panjang evolusi manusia. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal BioRxiv dan membuka bab baru dalam memahami asal-usul strategi bertahan hidup manusia. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Manusia Purba Perburuan Gajah Evolusi Manusia Hewan Besar Sumber Pangan


















