Ilustrasi - Katalog tsunami terbesar dalam sejarah Bumi (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Selama ini tsunami identik dengan gempa bumi besar. Namun, penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa tsunami paling dahsyat dalam sejarah Bumi banyak dipicu oleh longsoran, bukan getaran lempeng tektonik.
Temuan global ini mengungkap bahwa longsor yang ambruk ke laut, fjord, atau waduk dapat menciptakan dinding air raksasa yang jauh lebih tinggi dibanding tsunami akibat gempa, sering kali tanpa peringatan dini.
Penelitian tersebut didasarkan pada katalog global berisi 317 tsunami akibat longsor, yang memetakan lokasi, pemicu, dan ketinggian gelombang tertinggi di berbagai belahan dunia. Studi ini dipimpin Katrin Dohmen dari Technische Universität Berlin (TU Berlin) dan dipublikasikan di jurnal Natural Hazards seperti dikutip Earth.
Berbeda dengan tsunami gempa yang merambat jauh, tsunami longsor sangat dipengaruhi oleh bentuk cekungan air. Fjord sempit, teluk kecil, dan waduk tertutup terbukti mampu “mengurung” energi gelombang sehingga ketinggiannya melonjak ekstrem.
Contoh paling ekstrem terjadi pada 1958 di Teluk Lituya, Alaska, ketika longsoran besar memicu tsunami dengan run-up mencapai 1.720 kaki. Meski demikian, gelombang itu cepat melemah saat keluar dari teluk, menegaskan kuatnya pengaruh geografi lokal.
Sementara itu, tsunami akibat gempa bumi memang menyebabkan korban lebih luas karena menjalar jauh. Namun, data menunjukkan rekor gelombang tertinggi hampir selalu terkait longsoran di medan sempit.
Kondisi ini menyulitkan sistem peringatan dini yang umumnya berfokus pada gempa tektonik. Akibatnya, tsunami akibat longsor sering tiba lebih cepat dari perkiraan, bahkan sebelum peringatan dikeluarkan.
Risiko tersebut semakin meningkat seiring mencairnya gletser akibat perubahan iklim. Hilangnya penyangga es membuat lereng batuan menjadi tidak stabil dan mudah runtuh ke laut.
Fenomena ini terlihat jelas pada 2023 ketika longsoran batuan di Greenland memicu tsunami setinggi 656 kaki. Gelombang tersebut menyebabkan osilasi air di fjord sempit selama sembilan hari berturut-turut.
Selain iklim, curah hujan ekstrem juga berperan dalam melemahkan lereng. Air yang meresap ke dalam tanah meningkatkan tekanan dan mengurangi gesekan, sehingga longsor lebih mudah terjadi.
Aktivitas manusia turut memperbesar risiko, terutama di wilayah waduk dan bendungan. Perubahan tinggi muka air dapat mengganggu kestabilan lereng dan memicu tsunami darat yang berbahaya.
Berbeda dengan tsunami samudra, gelombang akibat longsor bisa mencapai pantai terdekat dalam waktu kurang dari dua menit. Kondisi ini nyaris tidak memberi waktu bagi otoritas untuk mengeluarkan peringatan resmi.
Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor krusial. Deteksi dini di lokasi rawan dan pemahaman tanda bahaya menjadi satu-satunya peluang keselamatan.
Penelitian ini juga menyoroti keterbatasan peta dasar laut global yang masih terlalu kasar. Banyak longsoran bawah laut tidak terdeteksi, padahal ukurannya cukup untuk memicu tsunami berbahaya.
Dengan pemetaan yang lebih rinci dan pemantauan lokal yang lebih cermat, risiko dapat ditekan. Namun hingga saat itu terwujud, ancaman tsunami akibat longsor tetap menjadi bahaya tersembunyi yang kerap luput dari perhatian. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Mega Tsunami Bencana tsunami Sejarah tsunami Tsunami akibat longsor Pemicu tsunami

















