Senin, 19/01/2026 10:18 WIB

Jangan Salah, Pemanis Nol Kalori Justru Picu Lapar dan Obesitas





Pemanis nol kalori paling populer, sucralose, justru dapat memicu rasa lapar lebih kuat dibandingkan gula biasa

Pemanis nol kalori (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Pemanis buatan yang selama ini dianggap sebagai solusi aman untuk mengurangi asupan gula ternyata menyimpan efek yang tidak terduga. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa salah satu pemanis nol kalori paling populer, sucralose, justru dapat memicu rasa lapar lebih kuat dibandingkan gula biasa, terutama pada individu yang sudah mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

Temuan ini berasal dari penelitian terkontrol terhadap 75 orang dewasa muda di Los Angeles yang membandingkan respons otak setelah mengonsumsi minuman dengan tiga jenis perlakuan: gula, sucralose, dan air putih. Hasilnya menunjukkan bahwa otak merespons rasa manis tanpa kalori dengan sinyal yang justru mendorong nafsu makan.

Banyak orang memilih pemanis buatan dengan harapan dapat mengurangi kalori tanpa mengorbankan rasa. Namun, tubuh ternyata tidak hanya bereaksi terhadap kandungan energi, melainkan juga terhadap rasa manis itu sendiri, bahkan dalam hitungan detik setelah konsumsi.

Dikutip dari Earth pada Senin (19/1), penelitian ini dilakukan oleh tim dari Keck School of Medicine, University of Southern California (USC), yang dipimpin oleh Dr. Kathleen Alanna Page.

Dia meneliti hubungan antara rasa, hormon, dan regulasi nafsu makan di otak. Data survei nasional menunjukkan bahwa sekitar 41 persen orang dewasa di Amerika Serikat mengonsumsi pemanis rendah kalori setiap harinya.

Dalam uji coba ini, setiap peserta menjalani metode randomized crossover, di mana mereka mengonsumsi air, minuman manis dengan gula, dan minuman manis dengan sucralose secara bergantian pada hari yang berbeda. Semua minuman disesuaikan tingkat kemanisannya agar perbedaannya bukan berasal dari rasa.

Setelah minum, para peserta menjalani pemeriksaan darah, pemindaian otak menggunakan fMRI, serta penilaian tingkat rasa lapar selama dua jam. Teknologi fMRI memungkinkan peneliti melihat perubahan aliran darah di otak yang mencerminkan aktivitas saraf.

Hasil pemindaian menunjukkan bahwa sucralose meningkatkan aliran darah di hipotalamus, bagian otak yang berperan penting dalam mengatur rasa lapar. Dibandingkan dengan gula, sucralose justru memicu sinyal lapar yang lebih kuat, meskipun tidak memberikan energi nyata bagi tubuh.

Menariknya, air putih juga meningkatkan aliran darah hipotalamus dibandingkan gula, tetapi tidak meningkatkan rasa lapar. Hal ini mengindikasikan bahwa rasa manis saja sudah cukup untuk memicu respons otak, meskipun tubuh tidak menerima kalori yang diharapkan.

Minuman bergula meningkatkan kadar glukosa darah dan insulin, serta memicu pelepasan hormon GLP-1 yang membantu memperlambat pengosongan lambung dan menimbulkan rasa kenyang. Sebaliknya, sucralose hampir tidak memicu perubahan hormon tersebut.

Menurut Dr. Page, tubuh menggunakan sinyal hormon ini untuk memberi tahu otak bahwa kalori telah dikonsumsi sehingga rasa lapar bisa ditekan. Ketika sinyal tersebut tidak muncul, otak tetap berada dalam mode “mencari energi”.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa sucralose memperkuat koneksi antara hipotalamus dengan area otak yang terkait dengan motivasi dan pengambilan keputusan, termasuk anterior cingulate cortex. Penguatan jaringan ini membuat otak lebih fokus pada rasa manis dan potensi imbalan, meskipun tidak ada kalori yang masuk.

Respons ini ternyata lebih kuat pada peserta dengan obesitas. Kelompok ini melaporkan peningkatan rasa lapar paling tinggi setelah mengonsumsi sucralose dibandingkan gula. Aktivitas hipotalamus mereka juga meningkat lebih tajam, sementara sinyal hormon kenyang tetap rendah.

Artinya, bagi individu dengan obesitas, minuman nol kalori justru berpotensi memperburuk pengendalian nafsu makan. Rasa manis tanpa kalori membuat otak “menunggu” energi yang tidak pernah datang, sehingga dorongan makan dapat meningkat.

Penelitian ini juga menemukan perbedaan berdasarkan jenis kelamin. Perempuan menunjukkan perubahan aliran darah hipotalamus yang lebih besar dibandingkan laki-laki setelah mengonsumsi sucralose. Karena tingkat kemanisan sama, perbedaan ini diduga berasal dari faktor biologis, bukan preferensi rasa.

Para peneliti menilai bahwa siklus hormonal dan tingkat stres perlu diperhitungkan dalam studi lanjutan, karena keduanya dapat memengaruhi rasa lapar dan aktivitas otak. Pemisahan efek berat badan dan jenis kelamin akan membantu memberikan rekomendasi nutrisi yang lebih personal.

Secara alami, otak belajar bahwa rasa manis menandakan masuknya kalori. Ketika rasa manis tidak diikuti energi, seperti pada sucralose, terjadi ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas metabolik. Ketidaksesuaian ini diyakini dapat mengubah pola keinginan makan dalam jangka panjang.

Dr. Page menjelaskan bahwa jika tubuh terus-menerus mengharapkan kalori yang tidak pernah datang, otak bisa semakin terdorong untuk mencari makanan manis atau berkalori tinggi sebagai kompensasi. Namun, studi ini baru menguji efek jangka pendek dari satu kali konsumsi.

Karena itu, penelitian ini belum dapat memastikan apakah sucralose secara langsung menyebabkan kenaikan berat badan dalam jangka panjang. Makanan padat juga memiliki tekstur dan volume yang memengaruhi rasa kenyang, sesuatu yang tidak dapat ditiru oleh minuman manis.

Sebagai tindak lanjut, tim USC telah memulai studi serupa pada anak-anak dan remaja. Otak yang masih berkembang dinilai lebih rentan terhadap pengaruh rasa manis tanpa kalori, sehingga periode ini dianggap sebagai kesempatan penting untuk intervensi dini.

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanis nol kalori tidak selalu menjadi solusi ideal untuk mengendalikan nafsu makan. Pada sebagian orang, terutama penderita obesitas dan banyak perempuan, pemanis seperti sucralose justru dapat meningkatkan rasa lapar.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Metabolism ini memperkuat pandangan bahwa pengelolaan berat badan tidak hanya soal kalori, tetapi juga tentang bagaimana otak dan hormon menafsirkan rasa manis. Dalam jangka panjang, pendekatan nutrisi yang lebih personal mungkin diperlukan agar strategi diet benar-benar efektif.

KEYWORD :

pemanis nol kalori sucralose dan lapar riset nafsu makan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :