Senin, 19/01/2026 09:09 WIB

Mengenal Stellata, Tanaman Unik "Pencuri" Gen dari Spesies Lain





Sebuah tanaman kecil yang tumbuh di dinding batu pasir Afrika Barat mengejutkan para ilmuwan karena menampilkan ciri genetik yang tidak lazim. Stellata.

Stellata, tanaman asli Guinea (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah tanaman kecil yang tumbuh di dinding batu pasir Afrika Barat mengejutkan para ilmuwan karena menampilkan ciri genetik yang tidak lazim bagi keluarganya.

Tanaman ini, yang diberi nama Virectaria stellata, tampak memiliki karakter rambut berbentuk bintang yang tidak pernah tercatat sebelumnya dalam keluarga botani Rubiaceae. Penemuan ini menantang pemahaman lama tentang bagaimana tumbuhan berevolusi, beradaptasi, dan mewariskan sifat genetiknya.

Virectaria stellata ditemukan di tiga lokasi tebing batu pasir di Guinea, Afrika Barat, ketika para botanis melakukan survei konservasi tumbuhan pada 2019.

Tanaman ini tampak sederhana, tetapi pemeriksaan mikroskopis mengungkapkan detail yang luar biasa pada struktur rambut permukaannya. Rambut-rambut tersebut berbentuk bintang, atau disebut sebagai rambut stellata, dengan banyak cabang yang menyebar dari satu titik pusat.

Penelitian ini dipimpin oleh Faya Julien Simbiano dari Université Gamal Abdel Nasser de Conakry, dengan dukungan ilmuwan dari Royal Botanic Gardens, Kew, dikutip dari Earth pada Senin (19/1).

Para peneliti awalnya mengidentifikasi tanaman ini sebagai spesies baru dalam genus Virectaria karena bunga dan buahnya sesuai dengan karakter genus tersebut, meskipun tidak cocok dengan spesies yang telah dikenal sebelumnya.

Koleksi spesimen dilakukan di wilayah Forécariah dan Kindia, dengan pengambilan sampel pertama pada 1 November 2019. Pemetaan lokasi menunjukkan bahwa tanaman ini memiliki sebaran yang sangat terbatas, sebuah pola umum pada spesies yang bergantung pada habitat tebing batu yang jarang dan terisolasi.

Yang membuat Virectaria stellata benar-benar istimewa adalah keberadaan rambut stellata. Struktur ini biasanya berfungsi untuk mengurangi penguapan, melindungi permukaan daun dari panas berlebih, serta menghalangi serangga. Namun, dalam keluarga Rubiaceae, jenis rambut bercabang seperti ini belum pernah dilaporkan sebelumnya.

Simbiano menjelaskan bahwa rambut stellata pertama kali tercatat pada keluarga Rubiaceae justru pada spesies ini. Hal tersebut langsung memicu pertanyaan besar, bagaimana sifat yang tidak lazim ini bisa muncul? Apakah hanya hasil mutasi acak, atau ada mekanisme lain yang lebih kompleks?

Menariknya, rambut stellata dengan struktur serupa umum ditemukan pada keluarga tumbuhan Acanthaceae, khususnya genus Barleria, yang juga tumbuh di wilayah Guinea. Kemiripan mikrostruktur rambut antara Barleria dan Virectaria stellata terlalu mencolok untuk diabaikan begitu saja.

Para peneliti kemudian mempertimbangkan kemungkinan terjadinya horizontal gene transfer, yakni perpindahan gen antarspesies tanpa melalui proses reproduksi seksual. Mekanisme ini sudah diketahui terjadi pada bakteri dan beberapa tumbuhan, meskipun jarang dilaporkan pada tumbuhan non-parasit seperti Virectaria.

Dalam dunia tumbuhan, bakteri dapat menyisipkan DNA ke dalam sel tanaman, dan jika DNA tersebut mencapai jaringan reproduktif, sifatnya dapat diwariskan. Ubi jalar budidaya, misalnya, diketahui membawa DNA bakteri dalam genomnya, membuktikan bahwa proses ini memang bisa terjadi secara alami.

Pada tumbuhan parasit, perpindahan gen lebih mudah dijelaskan karena adanya koneksi langsung antara jaringan inang dan parasit. Namun, Virectaria stellata bukan tumbuhan parasit, sehingga jalur potensial perpindahan gen masih menjadi misteri yang perlu ditelusuri lebih lanjut.

Ada pula kemungkinan bahwa perpindahan DNA terjadi melalui organel seperti mitokondria, sebagaimana ditemukan pada spesies Amborella trichopoda. Namun, karena bentuk rambut dikendalikan oleh gen inti, bukan gen organel, mekanisme ini belum cukup untuk menjelaskan sepenuhnya asal-usul rambut stellata.

Penelitian sebelumnya pada tanaman model Arabidopsis thaliana menunjukkan bahwa pembentukan rambut bercabang melibatkan banyak gen yang bekerja bersama. Artinya, kemunculan rambut stellata tidak mungkin disebabkan oleh satu perubahan gen tunggal, melainkan kombinasi perubahan genetik yang kompleks.

Situasi menjadi semakin menarik ketika para peneliti menemukan spesimen mirip Virectaria stellata di lokasi lain sekitar 90 kilometer dari situs utama, tetapi tanpa rambut stellata. Spesimen ini memiliki rambut spiral transparan yang bisa jadi menandai bentuk leluhur atau bahkan spesies berbeda yang masih berkerabat dekat.

Untuk memastikan apakah benar terjadi perpindahan gen lintas spesies, para ilmuwan merencanakan analisis genom menyeluruh. Dengan membandingkan urutan DNA Virectaria stellata dengan kerabat dekatnya dan spesies Barleria, mereka dapat membangun pohon filogenetik untuk melacak asal-usul gen secara lebih akurat.

Proses ini tidak sederhana karena peneliti harus menyingkirkan kemungkinan kontaminasi laboratorium dan memastikan bahwa kemiripan genetik tidak semata-mata hasil evolusi paralel. Hanya dengan bukti kuat dari banyak gen, klaim perpindahan gen dapat diterima secara ilmiah.

Di alam, Virectaria stellata hidup di celah-celah batu pasir vertikal pada ketinggian antara 450 hingga 900 meter. Akar-akarnya menyusup ke celah batu untuk menangkap air limpasan singkat, sementara rambut stellata membantu mempertahankan kelembapan di lingkungan yang keras.

Wilayah sebaran tanaman ini diperkirakan hanya sekitar 120 kilometer persegi. Meski saat ini dikategorikan berisiko rendah, perubahan iklim, aktivitas pertambangan, dan kebakaran musiman tetap menjadi ancaman potensial bagi keberlangsungannya.

Secara keseluruhan, Virectaria stellata memberikan gambaran baru tentang betapa fleksibelnya evolusi tumbuhan. Jika dugaan perpindahan gen ini terbukti, maka kasus ini akan menjadi salah satu contoh langka bagaimana tumbuhan non-parasit dapat memperoleh sifat baru dari spesies lain.

KEYWORD :

transfer gen tanaman Virectaria stellata gen lintas spesies




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :