Ilustrasi lubang hitam atau black hole (Foto: Pexels/Iceberg San)
Jakarta, Jurnas.com - Dalam kosmos yang luas dan penuh misteri, lubang hitam merupakan salah satu fenomena paling ekstrem sekaligus paling menarik bagi astronom. Meski terdengar mengerikan, lubang hitam tidak serta-merta menjadi ancaman bagi Tata Surya.
Para ilmuwan kini telah mengidentifikasi beberapa lubang hitam yang relatif `dekat` dari Bumi menurut standar astronomi, dan pemahaman tentang lokasi serta sifatnya memberi wawasan penting tentang evolusi bintang dan dinamika galaksi.
Secara umum, lubang hitam merupakan objek di luar angkasa dengan gravitasi sangat kuat sehingga tidak ada sesuatu pun yang bisa lolos ketika melewati batas yang disebut event horizon.
Lubang hitam terbentuk ketika bintang massif runtuh pada akhir hidupnya, menghasilkan wilayah ruang-waktu yang terdistorsi secara ekstrem. Lubang hitam ada dalam berbagai ukuran, dari massa bintang (stellar-mass) hingga supermasif yang berada di pusat galaksi seperti Milky Way.
Hingga saat ini, objek lubang hitam paling dekat yang telah terkonfirmasi berada pada jarak sekitar 1.560 hingga 1.600 tahun cahaya dari Tata Surya, jauh lebih dekat dibanding banyak contoh lain di galaksi kita. Ini adalah sebuah lubang hitam bermassa bintang bernama Gaia BH1, yang berada di rasi Ophiuchus.
Gaia BH1 bukanlah lubang hitam yang aktif menangkap materi dari lingkungan sekitarnya sehingga memancarkan banyak sinar-X. Dia merupakan bagian dari sistem biner di mana sebuah bintang mirip Matahari mengorbit lubang hitam tersebut setiap sekitar 185 hari.
Gerakan bintang pada orbit ini memperlihatkan adanya objek tak terlihat yang memiliki massa sekitar 10 kali massa Matahari, yang menjadi bukti adanya lubang hitam.
Walaupun jaraknya relatif dekat secara astronomi, 1.560 tahun cahaya tetap merupakan jarak yang sangat jauh. Sebagai perbandingan, bintang terdekat ke Matahari, Proxima Centauri, berjarak hanya sekitar 4,24 tahun cahaya. Pada jarak ribuan tahun cahaya, medan gravitasi lubang hitam seperti Gaia BH1 tidak memiliki dampak signifikan terhadap Tata Surya kita.
Prediksi teoritis menunjukkan bahwa mungkin ada jutaan lubang hitam bermassa bintang di galaksi Bima Sakti, tetapi sebagian besar tidak terdeteksi karena tidak aktif menarik materi dari bintang pendamping.
Deteksi lubang hitam biasanya tergantung pada pengamatan efek gravitasi pada bintang-bintang di dekatnya atau pancaran sinar-X saat materi jatuh ke dalamnya. Hingga saat ini, Gaia BH1 tercatat sebagai yang terdekat berdasarkan bukti astrometrik yang kuat.
Selain Gaia BH1, lubang hitam lain seperti Gaia BH3 terletak di jarak sekitar 1.900–2.000 tahun cahaya, sementara sistem lain seperti Gaia BH2 berada lebih jauh lagi, sekitar 3.800 tahun cahaya dari Bumi.
Walaupun lubang hitam supermasif seperti Sagittarius A** di pusat Bima Sakti—lebih besar, mereka jauh lebih jauh dari Tata Surya. Sagittarius A**, misalnya, berada sekitar 27.000 tahun cahaya dari Bumi dan mengandung massa jutaan kali Matahari.
Adanya perbedaan jarak ini menegaskan bahwa meskipun supermasif, lubang hitam central galaksi tidak langsung memengaruhi lingkungan sekitar Bumi dalam jangka pendek.
Mengetahui lokasi lubang hitam paling dekat membantu astronom memahami distribusi populasi lubang hitam di Bima Sakti dan mempelajari evolusi bintang masif. Selain itu, sistem biner seperti Gaia BH1 menjadi laboratorium alami untuk menguji relativitas umum Einstein dan model pembentukan lubang hitam bermassa bintang.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
lubang hitam terdekat Gaia BH1 astronomi lubang hitam

















