Senin, 19/01/2026 16:42 WIB

"Wormhole" Penghubung Tata Surya Ditemukan! Mirip Film Interstellar





Masih ingat dengan istilah `wormhole` atau lubang cacing di film `Interstellar`? Nah, para ilmuwan baru saja menemukan indikasi adanya terowongan antarbintang

Ilustrasi terowongan antarbintang atau wormhole di film Interstellar (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Masih ingat dengan istilah `wormhole` atau lubang cacing di film `Interstellar`? Nah, para ilmuwan baru saja menemukan indikasi adanya terowongan antarbintang yang menghubungkan tata surya kita dengan wilayah bintang lain di galaksi.

Penemuan ini berasal dari pemetaan detail lingkungan kosmik di sekitar Matahari yang menunjukkan keberadaan saluran plasma panas berdensitas rendah, membentang menuju rasi bintang jauh di angkasa.

Penelitian tersebut dilakukan oleh tim astronom dari Max Planck Institute dengan memanfaatkan data instrumen eRosita, sebuah teleskop sinar-X yang menjadi bagian dari misi Spectrum-Roentgen-Gamma.

Hasil analisis mereka dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Astronomy & Astrophysics dan langsung menarik perhatian komunitas astronomi global.

Selama beberapa dekade, para ilmuwan telah mengetahui bahwa tata surya berada di dalam wilayah kosmik khusus yang disebut Local Hot Bubble (LHB). Area ini merupakan gelembung gas panas berdensitas rendah yang terbentuk akibat ledakan supernova jutaan tahun lalu. Diameter wilayah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 300 tahun cahaya.

Ledakan supernova di masa lampau memanaskan gas antarbintang di sekitarnya, menciptakan lingkungan bersuhu tinggi dengan kepadatan materi yang sangat rendah. Jejak peristiwa kosmik itu masih terlihat hingga kini dalam bentuk plasma panas yang menyelimuti lingkungan lokal tata surya.

“Kami menemukan bahwa suhu Local Hot Bubble menunjukkan perbedaan mencolok antara wilayah utara dan selatan pada lintang tinggi,” ujar Dr. L. L. Sala, penulis utama penelitian tersebut, dikutip dari Earth.

Untuk memahami struktur wilayah ini dengan lebih akurat, tim peneliti mengombinasikan data eRosita dengan hasil observasi lama dari teleskop ROSAT. Data tersebut kemudian dipecah ke dalam ribuan segmen langit guna menangkap sinyal samar dari gas panas, rongga debu, serta struktur antarbintang lainnya.

Pendekatan ini memungkinkan para astronom memisahkan cahaya latar kosmik dan memperoleh gambaran tiga dimensi yang jauh lebih rinci tentang lingkungan kosmik di sekitar Matahari.

Dari pemetaan tersebut, muncul temuan mengejutkan berupa sebuah saluran atau terowongan kosmik yang tampak membentang menuju rasi bintang Centaurus. Struktur ini seolah menembus material panas di sekitarnya, menghubungkan lingkungan tata surya dengan sistem bintang yang lebih jauh.

Selain itu, jalur serupa juga terdeteksi mengarah ke wilayah rasi Canis Major. Para ilmuwan menduga kedua jalur ini mungkin merupakan bagian dari jaringan saluran plasma yang lebih luas, membentuk sistem cabang yang menghubungkan berbagai rongga panas di galaksi.

Setiap jalur dianggap sebagai “jalan belakang antarbintang” yang terbentuk oleh proses dinamis kosmik dan dipengaruhi oleh aktivitas supernova di masa lalu. Dengan kata lain, struktur ini bukan sekadar ruang kosong, melainkan sisa jejak energi dan materi dari peristiwa kosmik dahsyat.

Gagasan tentang jaringan rongga panas yang saling terhubung sebenarnya telah muncul sejak puluhan tahun lalu. Namun, keterbatasan teknologi observasi membuat teori tersebut sulit dibuktikan. Kehadiran eRosita kini memberikan bukti kuat yang mendukung spekulasi lama tersebut.

Temuan rongga debu yang dipenuhi gas panas memperkuat pandangan bahwa supernova telah membentuk mosaik struktur antarbintang yang saling terkoneksi di sekitar tata surya.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tekanan termal rata-rata di dalam Local Hot Bubble lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa gelembung tersebut kemungkinan terbuka di beberapa arah, memungkinkan terbentuknya jalur-jalur kosmik yang mengarah keluar.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa belum semua aspek struktur ini sepenuhnya dipahami. Beberapa wilayah tampak saling terhubung, sementara daerah lain terlihat lebih tertutup. Kompleksitas pola ini menuntut data yang lebih sensitif dan analisis lanjutan.

Secara historis, tata surya diperkirakan memasuki wilayah Local Hot Bubble pada waktu yang relatif berdekatan dengan terjadinya beberapa supernova di sekitar lingkungan galaksi kita. Para ilmuwan menilai hal ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari proses kosmik jangka panjang yang membentuk kondisi ruang antarbintang saat ini.

Keberadaan Matahari yang kini berada dekat pusat gelembung tersebut hanyalah hasil kebetulan kosmik, namun memberikan sudut pandang unik bagi manusia untuk mempelajari sisa-sisa peristiwa purba yang terjadi jauh sebelum kehidupan muncul di Bumi.

Ke depan, eksplorasi terowongan kosmik ini akan sangat bergantung pada teleskop sinar-X generasi baru, survei langit yang lebih dalam, serta pemodelan distribusi gas panas yang lebih presisi. Dengan teknologi tersebut, para astronom berharap dapat memetakan jaringan saluran ini secara lebih lengkap.

Penemuan terowongan antarbintang ini menjadi pengingat bahwa ruang di sekitar tata surya tidaklah statis atau kosong. Justru, wilayah tersebut penuh dengan struktur tersembunyi yang terus menantang pemahaman manusia tentang alam semesta.

Seiring berkembangnya teknologi observasi, temuan-temuan baru semacam ini diyakini akan semakin memperkaya gambaran kita tentang bagaimana kosmos terbentuk, berkembang, dan saling terhubung dalam skala yang nyaris tak terbayangkan.

KEYWORD :

terowongan antarbintang Local Hot Bubble saluran kosmik plasma film interstellar




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :