Senin, 19/01/2026 08:43 WIB

Hutan Menyusut, Nyamuk Hutan Beralih Mengisap Darah Manusia





Penelitian terbaru menunjukkan bahwa banyak nyamuk justru secara aktif mengisap darah manusia, bahkan di wilayah yang masih memiliki beragam satwa

Ilustrasi nyamuk (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Hutan Atlantik Brasil yang kian menyusut, nyamuk tidak lagi sekadar menggigit hewan liar yang kebetulan lewat. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa banyak nyamuk justru secara aktif mengisap darah manusia, bahkan di wilayah yang masih memiliki beragam satwa liar.

Perubahan perilaku ini menjadi perhatian serius karena berpotensi mempercepat perpindahan virus dari ekosistem hutan ke permukiman manusia, sebagaimana dikutip dari Earth pada Senin (19/1).

Penelitian ini dilakukan di dua kawasan lindung di negara bagian Rio de Janeiro, Brasil, dengan menganalisis darah yang terdapat di dalam tubuh nyamuk betina. Hasilnya cukup mengkhawatirkan.

Dari sampel yang berhasil diidentifikasi, darah manusia mendominasi, sebuah sinyal bahaya di wilayah yang sudah lama dikenal sebagai pusat penyakit yang ditularkan oleh nyamuk.

Hutan Atlantik membentang di sepanjang pesisir Brasil dan dikenal sebagai salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Burung, amfibi, mamalia, hingga ikan hidup di dalam ekosistem yang kompleks dan saling terhubung. Namun, puluhan tahun ekspansi manusia telah memecah hutan ini menjadi potongan-potongan kecil yang terisolasi.

Kini, hanya sekitar sepertiga dari luas asli Hutan Atlantik yang masih tersisa. Fragmentasi ini tidak hanya menghilangkan pepohonan, tetapi juga mengganggu seluruh rantai makanan. Banyak hewan kehilangan habitat, berpindah lokasi, atau menghilang secara lokal, sehingga ketersediaan inang alami bagi nyamuk ikut berkurang.

Dalam kondisi seperti itu, serangga pengisap darah mulai beradaptasi. Ketika inang alami semakin sulit ditemukan, nyamuk cenderung memilih sumber darah yang paling mudah diakses. Manusia, yang semakin banyak beraktivitas di tepi hutan, menjadi target yang paling tersedia.

“Di sini kami menunjukkan bahwa spesies nyamuk yang kami tangkap di sisa-sisa Hutan Atlantik memiliki preferensi jelas untuk mengisap darah manusia,” ujar penulis utama penelitian, Jeronimo Alencar, ahli biologi dari Oswaldo Cruz Institute di Rio de Janeiro.

Pakar lain dari Federal University of Rio de Janeiro, Dr. Sergio Machado, menambahkan bahwa preferensi tersebut sangat berisiko. Dalam ekosistem dengan banyak pilihan inang vertebrata, kecenderungan nyamuk untuk memilih manusia secara signifikan meningkatkan potensi penularan patogen.

Untuk mengetahui sumber darah nyamuk, tim peneliti memasang perangkap cahaya di dua kawasan konservasi, yaitu Sítio Recanto Preservar dan Guapiacu River Ecological Reserve. Nyamuk yang tertangkap kemudian dibawa ke laboratorium untuk dianalisis lebih lanjut.

Fokus utama diberikan pada nyamuk betina yang terlihat memiliki darah di perutnya. Dari darah tersebut, peneliti mengekstraksi DNA dan mengurutkan gen tertentu yang berfungsi sebagai “barcode” spesies. Dengan membandingkan hasilnya dengan basis data, mereka dapat mengetahui dengan pasti dari hewan apa darah tersebut berasal.

Metode ini memberikan bukti langsung, bukan sekadar perkiraan berdasarkan satwa yang hidup di sekitar lokasi. Hasilnya menunjukkan pola yang sangat jelas. Dari 1.714 nyamuk yang ditangkap, terdapat 52 spesies berbeda. Namun, hanya 145 nyamuk betina yang mengandung darah, dan dari jumlah itu, sumber darah hanya berhasil diidentifikasi pada 24 sampel.

Meski jumlahnya terbatas, polanya mencolok. Dari 24 sampel yang teridentifikasi, 18 di antaranya berasal dari manusia. Sisanya berasal dari satu amfibi, enam burung, satu anjing liar, dan satu tikus. Beberapa nyamuk bahkan menunjukkan pola makan campuran.

Salah satu nyamuk jenis Cq. venezuelensis mengandung darah amfibi dan manusia sekaligus. Sementara itu, nyamuk Cq. fasciolata menunjukkan kombinasi darah tikus dan burung, serta burung dan manusia. Temuan ini menandakan bahwa nyamuk bersifat fleksibel, tetapi tetap memiliki kecenderungan kuat terhadap manusia.

Menurut para peneliti, tidak ada satu faktor tunggal yang menjelaskan perubahan perilaku ini. Sebagian nyamuk memang memiliki kecenderungan alami terhadap inang tertentu, tetapi di lapangan, ketersediaan dan kedekatan inang menjadi faktor penentu utama.

Perilaku nyamuk sangat dipengaruhi oleh peluang. Ketika hewan liar semakin jarang dan manusia semakin sering berada di sekitar hutan, nyamuk akan memilih sumber darah yang paling mudah dan aman untuk diakses. Dalam konteks ini, manusia menjadi pilihan utama.

Dengan berkurangnya pilihan alami, nyamuk dipaksa mencari sumber darah alternatif. Mereka akhirnya lebih sering menggigit manusia karena manusia merupakan inang paling dominan di wilayah tersebut. Pergeseran ini berpotensi memperbesar risiko penularan penyakit.

Di kawasan penelitian, nyamuk diketahui mampu menularkan berbagai patogen berbahaya, termasuk demam kuning, dengue, Zika, Mayaro, Sabiá, dan Chikungunya. Penyakit-penyakit ini dapat menimbulkan gejala ringan hingga komplikasi jangka panjang yang serius.

Risiko terbesar muncul ketika nyamuk menjadi jembatan antara patogen hutan dan manusia. Jika nyamuk yang biasa menggigit berbagai hewan liar semakin sering menggigit manusia, maka peluang terjadinya lonjakan penyakit dari hutan ke komunitas manusia menjadi lebih besar.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa penelitian ini memiliki keterbatasan. Hanya sekitar 7 persen nyamuk yang tertangkap mengandung darah, dan dari jumlah itu, sumber darah hanya bisa diidentifikasi pada sekitar 38 persen kasus. Namun, keterbatasan ini tidak menghapus pola kuat yang ditemukan.

Darah di tubuh nyamuk cepat terurai, dan campuran darah dari beberapa inang sulit dianalisis dengan metode standar. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan menggunakan teknik yang lebih sensitif serta melibatkan jumlah sampel yang lebih besar dan beragam.

Meski memiliki keterbatasan, hasil penelitian ini memiliki nilai praktis yang tinggi. Jika nyamuk di suatu wilayah terbukti sering menggigit manusia, hal itu menjadi sinyal peringatan dini bagi pengawasan penyakit menular.

Informasi ini membantu otoritas kesehatan menentukan lokasi prioritas untuk pemantauan dan pencegahan, sehingga sumber daya tidak tersebar tanpa arah. Dengan strategi yang lebih terfokus, risiko wabah dapat ditekan lebih efektif.

Para peneliti berharap temuan ini mendorong pendekatan pengendalian nyamuk yang juga mempertimbangkan keseimbangan ekosistem. Selama Hutan Atlantik terus menyusut, batas antara penyakit hutan dan penyakit manusia akan semakin tipis.

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers in Ecology and Evolution.

KEYWORD :

nyamuk hutan Brasil penyakit akibat nyamuk kerusakan hutan Atlantik




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :