Ilustrasi sakaratul maut (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Pengalaman mendekati kematian atau sakaratul maut atau near-death experiences (NDEs) hingga kini masih menjadi salah satu fenomena paling misterius dalam dunia medis dan neurosains.
Peristiwa ini kerap terjadi saat seseorang mengalami kondisi kritis seperti serangan jantung, kecelakaan berat, atau kehilangan kesadaran akibat trauma serius. Meski berada di ambang kematian, banyak orang justru melaporkan pengalaman mental yang sangat jelas, penuh emosi, dan sulit dilupakan.
Mereka yang pernah mengalami NDE sering menggambarkan pikiran yang terasa jernih, perasaan damai yang mendalam, serta ingatan detail tentang apa yang mereka alami.
Tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa pengalaman tersebut terasa lebih nyata dibandingkan kehidupan sehari-hari. Fenomena inilah yang mendorong para ilmuwan untuk terus mencari penjelasan ilmiah tentang apa yang sebenarnya terjadi di otak manusia pada saat-saat kritis tersebut.
Dikutip dari Earth pada Senin (19/1), para peneliti dari University of Virginia (UVA) menjelaskan bahwa hingga kini, masih banyak pertanyaan penting tentang NDE yang belum dapat dijawab oleh sains.
Meskipun berbagai teori telah diajukan, tidak satu pun yang mampu menjelaskan seluruh aspek pengalaman tersebut secara menyeluruh dan konsisten.
Secara umum, NDE mencakup berbagai bentuk pengalaman, mulai dari perasaan damai, sensasi keluar dari tubuh, melewati terowongan cahaya, hingga bertemu dengan kerabat yang telah meninggal.
Yang membuat fenomena ini semakin menarik adalah kuatnya ingatan para penyintas. Banyak dari mereka masih mengingat detail pengalaman tersebut puluhan tahun kemudian dengan kejernihan yang luar biasa.
Dua peneliti utama di bidang ini, Dr. Bruce Greyson dan Dr. Marieta Pehlivanova dari UVA School of Medicine, menilai bahwa kekuatan ingatan dan dampak emosional NDE tidak sejalan dengan penjelasan neurologis konvensional.
Mereka menyoroti sebuah model neurosains terbaru bernama NEPTUNE, yang mencoba menjelaskan NDE melalui perubahan aktivitas otak, zat kimia, dan faktor evolusi.
Model NEPTUNE berpendapat bahwa perubahan kadar oksigen, karbon dioksida, atau senyawa kimia di otak dapat memicu pengalaman mendekati kematian. Namun, Greyson dan Pehlivanova menunjukkan bahwa banyak penelitian justru menemukan kadar oksigen normal, bahkan lebih tinggi, pada sebagian pasien yang melaporkan NDE. Hal ini secara langsung melemahkan asumsi dasar model tersebut.
Perubahan karbon dioksida memang dapat membantu menjelaskan mengapa ingatan terasa lebih kuat, tetapi tidak menjelaskan bagaimana pengalaman itu dimulai. Greyson menilai bahwa NEPTUNE cenderung mengabaikan bukti ilmiah yang bertentangan dan gagal membahas aspek paling penting dari NDE.
Model tersebut juga sering mengategorikan NDE sebagai bentuk halusinasi. Namun, menurut para peneliti, perbandingan ini tidak sepenuhnya tepat. Halusinasi medis biasanya hanya melibatkan satu indera, seperti penglihatan atau pendengaran. Sebaliknya, NDE sering mencakup penglihatan, suara, sentuhan, dan emosi secara bersamaan.
Selain itu, halusinasi umumnya cepat memudar, sedangkan ingatan NDE justru bertahan sangat lama dan sering membawa perubahan besar dalam hidup seseorang. Banyak penyintas melaporkan berkurangnya rasa takut terhadap kematian, meningkatnya empati, serta munculnya tujuan hidup baru. Pola perubahan ini tidak lazim ditemukan pada kasus halusinasi biasa.
Salah satu aspek paling kontroversial dari NDE adalah pengalaman keluar dari tubuh atau out-of-body experience. Dalam kondisi ini, seseorang merasa kesadarannya terpisah dari tubuh fisik dan mampu melihat situasi dari sudut pandang di luar tubuh. NEPTUNE mengaitkan hal ini dengan aktivitas di area otak bernama temporoparietal junction.
Namun, Greyson dan Pehlivanova menjelaskan bahwa hasil stimulasi otak di laboratorium tidak sesuai dengan laporan NDE nyata. Subjek penelitian memang merasakan sensasi aneh, tetapi tidak benar-benar merasa kesadarannya meninggalkan tubuh. Persepsi visual tetap terbatas, dan tidak ada pandangan dari sudut pandang di luar tubuh.
Menurut para peneliti, tidak ada bukti bahwa stimulasi listrik pada otak mampu menghasilkan persepsi akurat terhadap sesuatu yang tidak terlihat oleh mata fisik, atau pengalaman yang tetap jelas meski mata tertutup. Hal ini berbeda jauh dengan laporan NDE spontan yang sering menggambarkan detail peristiwa secara akurat.
NEPTUNE juga membandingkan NDE dengan pengalaman akibat zat seperti ketamin atau DMT. Meski terdapat beberapa kesamaan permukaan, perbedaan mendasarnya cukup signifikan. Pengalaman akibat obat cenderung terfragmentasi dan cepat memudar, sedangkan NDE memiliki kejelasan tinggi, makna emosional mendalam, serta ingatan jangka panjang.
Bahkan peneliti ketamin Karl Jansen kemudian menyatakan bahwa zat tersebut tidak menciptakan NDE, melainkan hanya membuka akses ke kondisi kesadaran yang mungkin menyerupai sebagian aspek NDE. Pernyataan ini semakin memperkuat bahwa pengalaman mendekati kematian memiliki karakter unik yang sulit disamakan dengan efek obat.
Beberapa studi terbaru juga melaporkan lonjakan aktivitas listrik otak sesaat sebelum kematian. NEPTUNE menilai bahwa lonjakan ini mungkin mendukung kesadaran. Namun, Greyson dan Pehlivanova menekankan bahwa banyak pasien dalam studi tersebut masih memiliki aktivitas jantung dan tidak menunjukkan tanda kesadaran nyata.
Pada kasus henti jantung, pola listrik otak yang dikaitkan dengan kesadaran tidak sesuai dengan laporan pengalaman mendekati kematian. Hingga kini, belum ditemukan hubungan yang jelas antara lonjakan listrik otak dan munculnya NDE.
Yang semakin menantang penjelasan ilmiah adalah adanya laporan NDE yang mencakup detail akurat tentang kejadian di sekitar pasien saat mereka berada dalam kondisi tidak sadar total. Laporan yang terverifikasi ini menunjukkan bahwa pengalaman tersebut terjadi pada saat fungsi otak seharusnya tidak mendukung kesadaran.
Greyson menegaskan bahwa NDE memang dipicu oleh peristiwa fisiologis, sehingga wajar jika ilmuwan mencari hubungan sebab-akibat. Namun, ia juga menekankan bahwa penelitian di bidang ini masih berada pada tahap awal dan memerlukan keterbukaan pikiran agar tidak terjebak pada satu teori semata.
Hingga saat ini, pengalaman mendekati kematian tetap menjadi teka-teki besar dalam ilmu pengetahuan. Fenomena ini seolah berada di antara batas biologi, psikologi, dan kesadaran manusia. Setiap penemuan baru justru memunculkan lebih banyak pertanyaan dibandingkan jawaban.
Studi mengenai fenomena ini telah dipublikasikan dalam jurnal Psychology of Consciousness: Theory, Research, and Practice, dan menjadi pengingat bahwa pemahaman manusia tentang kesadaran masih sangat terbatas. Misteri NDE menunjukkan bahwa masih ada banyak aspek tentang pikiran dan kehidupan yang belum sepenuhnya dapat dijelaskan oleh sains modern.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
pengalaman mendekati kematian misteri kesadaran manusia penelitian near death sakaratul maut
















