Terapi air dingin (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Terapi air dingin atau cold water immersion semakin populer di kalangan atlet profesional maupun penggemar olahraga rekreasional.
Metode ini biasanya dilakukan dengan merendam tubuh ke dalam air bersuhu rendah, umumnya antara 10 hingga 15 derajat Celsius, selama beberapa menit setelah latihan berat. Praktik ini dipercaya membantu pemulihan fisik dan meningkatkan performa jangka panjang.
Dalam dunia olahraga modern, pemulihan dianggap sama pentingnya dengan latihan. Otot yang dipaksa bekerja keras akan mengalami mikrorobekan, yang jika tidak ditangani dengan baik dapat memicu nyeri berkepanjangan dan menurunkan kualitas latihan berikutnya. Terapi air dingin hadir sebagai salah satu solusi berbasis fisiologi.
Secara ilmiah, paparan suhu dingin menyebabkan pembuluh darah menyempit atau vasokonstriksi. Proses ini membantu mengurangi aliran darah ke jaringan yang mengalami peradangan sehingga pembengkakan dan rasa nyeri dapat ditekan. Setelah tubuh kembali ke suhu normal, aliran darah meningkat dan membawa oksigen serta nutrisi yang dibutuhkan untuk perbaikan jaringan.
Penelitian menunjukkan bahwa atlet yang rutin menggunakan terapi air dingin melaporkan penurunan nyeri otot tertunda atau delayed onset muscle soreness (DOMS). Nyeri yang biasanya muncul 24 hingga 48 jam setelah latihan berat menjadi lebih ringan dibandingkan atlet yang hanya mengandalkan istirahat pasif.
Selain efek pada otot, terapi air dingin juga memengaruhi sistem saraf. Paparan suhu rendah merangsang saraf perifer, yang dapat menurunkan sensitivitas rasa sakit. Inilah sebabnya banyak atlet merasa lebih segar dan ringan setelah sesi perendaman.
Manfaat lain yang sering dilaporkan adalah peningkatan kualitas tidur. Setelah latihan intens, sistem saraf simpatis cenderung tetap aktif. Terapi dingin membantu tubuh beralih ke kondisi relaksasi, sehingga tidur menjadi lebih nyenyak dan proses pemulihan berjalan lebih optimal.
Namun, para ilmuwan menekankan bahwa terapi air dingin bukan solusi tunggal. Metode ini paling efektif bila dikombinasikan dengan nutrisi yang tepat, hidrasi cukup, dan pola tidur teratur. Tanpa ketiga faktor tersebut, efek terapi akan jauh berkurang.
Beberapa studi juga mencatat bahwa penggunaan terapi dingin yang terlalu sering dapat menghambat adaptasi otot terhadap latihan kekuatan. Artinya, atlet angkat beban yang mengejar pertumbuhan massa otot perlu lebih selektif dalam menggunakannya.
Karena itu, banyak pelatih menyarankan terapi air dingin lebih difokuskan pada masa kompetisi, saat pemulihan cepat menjadi prioritas utama, dibandingkan pada fase pembentukan otot.
Durasi perendaman juga menjadi faktor penting. Umumnya, waktu ideal berkisar antara 10 hingga 15 menit. Perendaman lebih lama justru berpotensi menurunkan suhu inti tubuh secara berlebihan.
Suhu air yang terlalu rendah pun tidak dianjurkan. Air es ekstrem dapat memicu stres berlebihan pada sistem kardiovaskular, terutama bagi individu yang tidak terbiasa.
Para ahli olahraga menekankan pentingnya mendengarkan respons tubuh. Jika muncul pusing, mati rasa berlebihan, atau ketidaknyamanan ekstrem, terapi harus segera dihentikan.
Dengan pendekatan yang tepat, terapi air dingin dapat menjadi alat pemulihan yang efektif bagi atlet. Metode ini bukan sekadar tren, melainkan bagian dari strategi ilmiah untuk menjaga performa jangka panjang.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
terapi air dingin pemulihan atlet manfaat olahraga














