Senin, 19/01/2026 11:42 WIB

Ternyata Serangga "Berkomunikasi" dengan Tanaman sebelum Bertelur





Peneliti menemukan bahwa ngengat betina tidak hanya mengandalkan penglihatan dan penciuman, tetapi juga kemampuan mendengar suara ultrasonik

Seranggga ngengat di tanaman tomat (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Para ilmuwan mengungkap temuan revolusioner tentang cara serangga memilih lokasi bertelur. Dalam sebuah studi terbaru, peneliti menemukan bahwa ngengat betina tidak hanya mengandalkan penglihatan dan penciuman, tetapi juga kemampuan mendengar suara ultrasonik yang dihasilkan tanaman saat mengalami stres.

Dikutip dari Earth pada Senin (19/1), penelitian tersebut menunjukkan bahwa tanaman yang kekurangan air memancarkan bunyi ultrasonik berupa klik halus yang sebelumnya dianggap tidak dapat dideteksi oleh hewan.

Namun, bagi ngengat daun kapas Mesir, atau Spodoptera littoralis, suara ini justru menjadi sinyal penting dalam menentukan tempat bertelur yang aman bagi keturunannya.

Ngengat ini memiliki telinga timpani yang sangat sensitif terhadap frekuensi antara 20 hingga 60 kilohertz, dengan sensitivitas tertinggi di sekitar 38 kilohertz.

Menariknya, rentang inilah yang paling sering digunakan oleh tanaman saat mengeluarkan bunyi akibat stres kekeringan. Artinya, apa yang selama ini dianggap “sunyi” bagi manusia ternyata merupakan sumber informasi penting bagi serangga.

Berdasarkan karakteristik tersebut, para peneliti mengajukan hipotesis bahwa ngengat betina mungkin menggunakan suara tanaman sebagai panduan dalam memilih lokasi bertelur. Serangkaian eksperimen laboratorium pun dirancang untuk menguji dugaan tersebut, dan hasilnya memperkuat hipotesis secara signifikan.

Dalam lingkungan tanpa tanaman, ngengat lebih sering bertelur di dekat pengeras suara yang memutar rekaman bunyi tanaman stres. Namun, ketika kemampuan pendengaran ngengat tersebut dihilangkan, preferensi itu lenyap. Hal ini membuktikan bahwa respons mereka memang dipicu oleh suara, bukan oleh faktor lain seperti getaran atau aroma.

Ketika tanaman sehat dimasukkan ke dalam arena eksperimen, hasilnya justru berbalik. Ngengat betina memilih tanaman yang tidak mengeluarkan bunyi, sementara tanaman yang disertai suara stres dihindari. Ini menandakan bahwa dalam konteks alami, suara tersebut diartikan sebagai peringatan bahwa tanaman tidak berada dalam kondisi ideal untuk mendukung pertumbuhan larva.

Profesor Yossi Yovel dari Universitas Tel Aviv, salah satu penulis studi, menjelaskan bahwa temuan ini berangkat dari riset sebelumnya yang membuktikan tanaman mampu menghasilkan suara. Menurutnya, langkah berikutnya adalah memahami apakah hewan benar-benar merespons sinyal tersebut dalam pengambilan keputusan nyata di alam.

Ia menambahkan bahwa banyak serangga memiliki interaksi kompleks dengan tanaman, sehingga sangat mungkin mereka memanfaatkan informasi akustik ini. Penelitian ini, kata Yovel, menjadi bukti awal bahwa suara tanaman bukan sekadar fenomena fisik, tetapi juga bagian dari sistem komunikasi ekologis.

Peneliti lain, Profesor Lilach Hadany, menekankan bahwa fokus pada ngengat betina bukan tanpa alasan. Serangga ini bertelur langsung di tanaman agar larvanya dapat segera memperoleh makanan. Oleh karena itu, mereka diasumsikan akan memilih tanaman yang sehat dan mampu menopang kehidupan generasi berikutnya.

Hadany menjelaskan bahwa ketika tanaman memberi sinyal sedang mengalami dehidrasi, ngengat tampaknya memahami pesan tersebut sebagai peringatan untuk menjauh. Respons ini menunjukkan adanya proses pengambilan keputusan berbasis konteks, bukan sekadar reaksi refleks.

Dalam eksperimen lanjutan, ngengat menghabiskan lebih banyak waktu di area yang memutar suara tanaman sebelum akhirnya bertelur. Mereka juga menunjukkan preferensi terhadap sumber suara atau sumber makanan di tengah arena, sementara area yang tidak mengeluarkan bunyi hampir tidak dipilih sama sekali.

Menariknya, meskipun suara kawin ngengat jantan berada pada rentang frekuensi serupa, ngengat betina tidak menunjukkan ketertarikan bertelur di sisi tersebut. Hal ini menguatkan kesimpulan bahwa respons mereka sangat spesifik terhadap suara tanaman, bukan sekadar terhadap bunyi ultrasonik secara umum.

Para peneliti juga menemukan bahwa ngengat mengombinasikan informasi suara dengan bau. Uji elektroantennogram menunjukkan perbedaan signifikan dalam cara antena ngengat merespons aroma tanaman kering dibandingkan tanaman terhidrasi. Ini menandakan bahwa serangga tersebut memadukan sinyal akustik dan kimia dalam satu proses pengambilan keputusan.

Di alam, tanaman tomat dapat menghasilkan sekitar 20 klik per menit ketika mengalami stres. Dalam eksperimen, suara diputar pada kisaran 30 hingga 60 klik per menit untuk mensimulasikan kondisi beberapa tanaman yang mengalami kekeringan secara bersamaan. Tingkat suara yang digunakan disesuaikan dengan intensitas bunyi yang diukur langsung dari tanaman hidup.

Penelitian ini memperlihatkan bahwa interaksi akustik antara tanaman dan hewan bukanlah sekadar kemungkinan teoritis, melainkan fenomena nyata yang memengaruhi perilaku. Para ilmuwan meyakini bahwa penyerbuk, predator, atau hewan lain mungkin juga menggunakan informasi serupa dalam aktivitas sehari-hari mereka.

Meski bunyi tanaman kemungkinan besar muncul sebagai efek samping dari proses kehilangan air, suara tersebut kini terbukti memiliki fungsi ekologis. Temuan ini membuka peluang besar bagi penelitian lanjutan tentang bagaimana suara dapat membentuk hubungan antara organisme dalam suatu ekosistem.

Para peneliti dalam jurnal eLife menyimpulkan bahwa studi ini baru merupakan langkah awal. Mereka yakin masih banyak bentuk interaksi akustik antara tanaman dan hewan yang belum terungkap. Dunia komunikasi alami, menurut mereka, jauh lebih kaya dan kompleks daripada yang selama ini dibayangkan.

KEYWORD :

suara tanaman stres komunikasi tanaman serangga ngengat bertelur tanaman




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :