Minggu, 18/01/2026 16:49 WIB

Tak Cuma Korbankan "Jatah" Tidur, Ini Dampak Buruk Begadang





Begadang sering dianggap bagian dari gaya hidup modern. Banyak orang mengorbankan waktu tidur demi pekerjaan, hiburan, atau aktivitas digital

Ilustrasi begadang (Foto: Pexels/Vazhnik)

Jakarta, Jurnas.com - Begadang sering dianggap bagian dari gaya hidup modern. Banyak orang mengorbankan waktu tidur demi pekerjaan, hiburan, atau aktivitas digital tanpa menyadari bahwa kebiasaan ini berdampak langsung pada tingkat sel tubuh.

Tidur bukan hanya waktu istirahat, melainkan fase biologis terpenting untuk perbaikan jaringan. Saat tidur, tubuh mengaktifkan mekanisme regenerasi sel, perbaikan DNA, serta pembuangan zat sisa metabolik dari otak.

Ketika begadang menjadi kebiasaan, seluruh proses tersebut terganggu. Sel tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan pemulihan optimal, sehingga kerusakan kecil terus menumpuk dari hari ke hari.

Pada tingkat molekuler, kurang tidur meningkatkan produksi radikal bebas. Radikal bebas mempercepat kerusakan membran sel dan materi genetik, yang menjadi dasar proses penuaan dini.

Hormon pertumbuhan yang berperan dalam regenerasi jaringan juga menurun drastis saat tidur tidak cukup. Akibatnya, kulit, otot, dan organ dalam kehilangan kemampuan memperbaiki diri secara optimal.

Kulit menjadi indikator paling cepat terlihat. Begadang kronis membuat kulit lebih kusam, elastisitas menurun, garis halus muncul lebih cepat, dan proses penyembuhan luka melambat.

Namun, dampaknya tidak berhenti di permukaan. Organ dalam, termasuk jantung dan hati, juga mengalami penurunan fungsi regeneratif ketika pola tidur terganggu.

Otak merupakan organ yang paling sensitif terhadap kurang tidur. Saat tidur, otak membersihkan protein berbahaya yang dapat memicu penyakit neurodegeneratif. Begadang membuat proses ini terhambat.

Akumulasi protein beracun tersebut dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia dan penurunan daya ingat di usia lebih muda.

Sistem imun juga ikut terdampak. Sel imun diproduksi dan dimatangkan selama fase tidur nyenyak. Tanpa tidur cukup, daya tahan tubuh menurun dan peradangan meningkat.

Kurang tidur juga mengganggu keseimbangan hormon lapar dan kenyang. Akibatnya, orang yang sering begadang cenderung lebih mudah mengalami kenaikan berat badan.

Kondisi ini mempercepat munculnya sindrom metabolik, yang kemudian mempercepat proses penuaan biologis secara keseluruhan.

Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan pola tidur buruk memiliki usia biologis lebih tua dibandingkan usia kronologisnya. Sayangnya, banyak orang baru menyadari dampak begadang ketika penyakit mulai muncul. Padahal, kerusakan sel telah berlangsung jauh sebelumnya.

Tidur cukup bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan biologis yang tidak dapat digantikan oleh suplemen atau kopi. Menjaga kualitas tidur berarti memberi tubuh kesempatan memperbaiki dirinya sendiri setiap hari. Dalam konteks kesehatan jangka panjang, tidur adalah salah satu strategi anti-penuaan paling efektif dan murah.

KEYWORD :

efek buruk begadang kurang tidur penuaan sel kesehatan tubuh




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :