Ilustrasi pekerja di depan laptop (Foto: Unsplash/SumUp)
Jakarta, Jurnas.com - Duduk sering dianggap aktivitas paling aman bagi tubuh. Padahal, kebiasaan duduk terlalu lama kini dipandang sebagai salah satu faktor risiko kesehatan terbesar di era modern. Gaya hidup sedentari perlahan mengubah cara tubuh memproses energi, hormon, dan lemak.
Tubuh manusia pada dasarnya dirancang untuk bergerak. Otot, sendi, dan sistem metabolisme bekerja optimal saat tubuh aktif. Ketika duduk dalam waktu lama, banyak fungsi biologis melambat secara signifikan.
Salah satu dampak awal, dikutip dari berbagai sumber, ialah penurunan aktivitas enzim pembakar lemak. Enzim ini berperan penting dalam mengatur kadar trigliserida dan kolesterol dalam darah. Saat aktivitasnya menurun, lemak lebih mudah menumpuk di pembuluh darah.
Duduk terlalu lama juga menurunkan sensitivitas insulin. Artinya, sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin, sehingga kadar gula darah lebih mudah meningkat.
Kondisi ini memperbesar risiko diabetes tipe 2, bahkan pada orang yang tidak mengalami obesitas. Banyak kasus diabetes modern justru muncul pada individu dengan berat badan normal tetapi aktivitas fisik rendah.
Aliran darah ke bagian bawah tubuh juga melambat saat duduk terlalu lama. Akibatnya, tekanan pada pembuluh darah meningkat dan risiko varises serta pembekuan darah ikut bertambah.
Selain itu, postur duduk yang buruk memberikan tekanan berlebih pada tulang belakang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu nyeri punggung kronis, gangguan saraf, hingga perubahan struktur tulang.
Dari sisi jantung, gaya hidup duduk terlalu lama dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Jantung harus bekerja lebih keras untuk mengompensasi sirkulasi darah yang kurang optimal.
Menariknya, olahraga rutin belum tentu sepenuhnya menghapus dampak duduk terlalu lama. Seseorang yang berolahraga satu jam, tetapi duduk sepuluh jam sehari, tetap berada dalam kelompok risiko tinggi.
Dampak metabolik juga memengaruhi hormon lapar dan kenyang. Duduk lama membuat tubuh lebih mudah merasa lapar, tetapi kurang mampu mengenali rasa kenyang secara akurat.
Akibatnya, konsumsi kalori meningkat tanpa disadari. Pola ini mempercepat kenaikan berat badan meskipun asupan makanan tidak terasa berlebihan.
Anak-anak dan remaja juga semakin terpapar risiko ini akibat waktu layar yang tinggi. Kebiasaan duduk sejak dini membentuk pola metabolik yang kurang sehat hingga dewasa.
Para ahli kesehatan menyarankan jeda gerak setiap 30–60 menit. Berdiri, berjalan singkat, atau melakukan peregangan ringan sudah cukup untuk mengaktifkan kembali metabolisme.
Aktivitas sederhana seperti naik tangga, berjalan saat menelepon, atau berdiri saat bekerja dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan jangka panjang.
Tubuh tidak menuntut olahraga ekstrem, tetapi membutuhkan konsistensi gerak. Mengurangi waktu duduk berarti memberi tubuh kesempatan untuk bekerja sebagaimana mestinya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
duduk terlalu lama gaya hidup sedentari metabolisme tubuh kesehatan jantung




















