Ilustrasi - telur rebus (Foto: Getty Images/iStockphoto/fcafotodigital)
Jakarta, Jurnas.com - Saat mengalami diare, kembung, atau mual, banyak orang langsung mengubah pola makan. Namun, tanpa disadari, sebagian perubahan justru memperburuk kondisi pencernaan.
Masalahnya, informasi mengenai makanan untuk pencernaan sering disalahartikan secara praktis di kehidupan sehari-hari. Sebagian orang memilih berhenti makan sama sekali. Padahal, tubuh tetap membutuhkan energi untuk memperbaiki jaringan usus dan menjaga keseimbangan cairan.
Dikutip dari berbagai sumber, puasa terlalu lama justru dapat memperlambat pemulihan dan meningkatkan risiko lemas serta gangguan elektrolit.
Kesalahan berikutnya adalah mengonsumsi makanan berserat tinggi secara berlebihan. Saat pencernaan bermasalah, serat kasar dari sayuran mentah, kulit buah, dan biji-bijian utuh dapat mempercepat pergerakan usus dan memperparah diare.
Serat memang penting, tetapi pada fase akut gangguan pencernaan, serat perlu dibatasi sementara. Banyak orang juga mengira makanan pedas dapat “membersihkan” perut. Faktanya, cabai dan bumbu kuat justru dapat mengiritasi lapisan lambung dan usus yang sedang sensitif. Akibatnya, nyeri perut, mulas, dan rasa terbakar semakin terasa.
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah mengandalkan minuman manis sebagai sumber energi. Minuman tinggi gula dapat menarik cairan ke dalam usus melalui proses osmosis, sehingga memperparah diare.
Minuman bersoda juga meningkatkan produksi gas yang memperburuk rasa kembung. Produk susu sering dianggap aman, tetapi pada sebagian orang, gangguan pencernaan sementara dapat menurunkan kemampuan tubuh mencerna laktosa. Akibatnya, konsumsi susu justru memicu kram, diare, dan perut bergas.
Mengonsumsi makanan berlemak juga menjadi pemicu umum. Lemak memperlambat pengosongan lambung dan merangsang kontraksi usus, sehingga gejala mual dan diare dapat semakin intens. Gorengan, santan, dan daging berlemak sebaiknya dihindari hingga pencernaan benar-benar pulih.
Kesalahan lain yang jarang disadari adalah makan terlalu cepat. Saat perut sensitif, sistem pencernaan membutuhkan waktu lebih lama untuk bekerja. Makan terburu-buru membuat udara lebih banyak tertelan, meningkatkan gas, dan memperparah kembung.
Sebaliknya, pendekatan yang lebih aman adalah memilih makanan bertekstur lunak, rendah lemak, dan rendah serat kasar. Nasi putih, roti tawar, kentang tanpa kulit, pisang matang, dan sup bening menjadi pilihan yang lebih bersahabat bagi usus.
Protein tetap dibutuhkan, tetapi sebaiknya berasal dari sumber yang mudah dicerna seperti telur, ayam tanpa kulit, tahu lembut, atau ikan kukus. Cara pengolahan juga sangat menentukan. Merebus, mengukus, atau memanggang jauh lebih aman dibandingkan menggoreng.
Selain makanan, hidrasi menjadi kunci utama pemulihan. Diare dan muntah dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar. Air putih, oralit, dan kaldu hangat membantu menjaga keseimbangan cairan sekaligus memberikan mineral penting bagi tubuh.
Banyak ahli gizi menekankan bahwa diet mudah dicerna sebaiknya bersifat sementara. Setelah kondisi membaik, asupan serat dan variasi makanan perlu dikembalikan secara bertahap.
Jika gangguan pencernaan berlangsung lebih dari beberapa hari, disertai demam, darah pada feses, atau nyeri hebat, pemeriksaan medis sangat dianjurkan. Gangguan pencernaan bukan sekadar masalah makanan, tetapi juga bisa menjadi sinyal adanya infeksi, intoleransi, atau penyakit saluran cerna tertentu.
Dengan memahami kesalahan umum ini, masyarakat dapat lebih bijak dalam mengatur pola makan saat pencernaan bermasalah, sehingga proses pemulihan berlangsung lebih cepat dan aman.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
gangguan pencernaan diet rendah serat makanan mudah dicerna kesehatan pencernaan





















