Ilustrasi makanan tinggi serat (Foto: Hello Tempayy)
Jakarta, Jurnas.com - Selama ini, kanker usus sering dianggap sebagai penyakit orang lanjut usia. Namun, data medis menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kasus kanker usus pada usia muda terus meningkat, dan salah satu pemicunya adalah pola makan rendah serat.
Generasi modern tumbuh dengan makanan cepat saji, roti putih, daging olahan, dan minuman manis. Makanan tersebut mengenyangkan, tetapi miskin serat alami yang sangat dibutuhkan sistem pencernaan.
Serat memiliki fungsi mekanis dan biologis. Secara mekanis, serat membantu mempercepat pergerakan sisa makanan. Secara biologis, serat menjadi bahan bakar utama bagi bakteri baik di usus.
Tanpa serat yang cukup, proses pencernaan melambat. Limbah metabolik lebih lama menempel di dinding usus, meningkatkan kontak jaringan dengan senyawa toksik dan karsinogen.
Kontak berkepanjangan ini memicu iritasi mikro yang terjadi terus-menerus. Dalam jangka panjang, iritasi tersebut dapat menyebabkan perubahan struktur sel yang bersifat prakanker.
Masalahnya, perubahan ini terjadi secara diam-diam. Banyak penderita kanker usus muda tidak pernah mengalami keluhan berarti sebelum diagnosis ditegakkan.
Mikrobiota usus juga ikut terdampak. Ketika serat minim, bakteri baik berkurang, sementara bakteri patogen lebih mudah berkembang. Lingkungan usus pun berubah menjadi lebih inflamatorik.
Dikutip dari American Cancer Society, peradangan kronis di usus merupakan salah satu faktor utama pembentukan polip. Polip inilah yang sering menjadi tahap awal perkembangan kanker kolorektal.
Selain itu, serat membantu mengikat zat sisa empedu dan kolesterol berlebih. Tanpa serat, senyawa tersebut dapat berubah menjadi zat berbahaya bagi dinding usus.
Diet rendah serat juga berkaitan dengan obesitas dan resistensi insulin, dua kondisi yang semakin memperbesar risiko kanker usus melalui jalur metabolik.
Ironisnya, banyak anak muda merasa sudah makan cukup karena tidak merasa lapar. Padahal, rasa kenyang dari makanan olahan tidak mencerminkan kecukupan nutrisi.
Konsumsi sayur dan buah sering tergeser oleh makanan instan yang lebih praktis. Akibatnya, kebutuhan serat harian jarang tercapai.
Para ahli gizi menekankan bahwa perlindungan usus harus dimulai sejak usia produktif, bukan menunggu gejala muncul. Pola makan tinggi serat terbukti menurunkan risiko kanker usus secara signifikan dalam berbagai penelitian jangka panjang.
Menjaga usus berarti menjaga sistem imun, metabolisme, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Pencegahan kanker usus bukan hanya tugas dunia medis, tetapi juga tanggung jawab setiap individu terhadap pola makannya sendiri.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
diet rendah serat kanker usus kesehatan usus pencegahan kanker

















