Minggu, 18/01/2026 14:48 WIB

Awas! Konsumsi Gula Berlebih Picu Penurunan Fungsi Otak





Di balik rasanya yang manis, konsumsi gula berlebihan justru menyimpan dampak serius bagi kesehatan otak

Ilustrasi pemanis bebas gula (Foto: Harian Disway)

Jakarta, Jurnas.com - Gula selama ini dikenal sebagai sumber energi cepat bagi tubuh. Namun, di balik rasanya yang manis, konsumsi gula berlebihan justru menyimpan dampak serius bagi kesehatan otak yang kerap luput dari perhatian.

Otak memang membutuhkan glukosa untuk berfungsi. Akan tetapi, kebutuhan tersebut hanya dalam jumlah terbatas dan stabil. Ketika kadar gula darah sering melonjak akibat pola makan tinggi gula, sistem saraf justru mengalami tekanan metabolik.

Lonjakan gula darah memicu pelepasan insulin dalam jumlah besar. Jika kondisi ini terjadi berulang, tubuh dapat mengalami resistensi insulin, termasuk di jaringan otak. Padahal, insulin berperan penting dalam proses pembelajaran dan pembentukan memori.

Beberapa studi menunjukkan bahwa resistensi insulin di otak berkaitan erat dengan penurunan fungsi kognitif. Individu dengan pola makan tinggi gula cenderung memiliki daya ingat yang lebih rendah dibandingkan mereka yang mengonsumsi karbohidrat kompleks.

Area hipokampus, pusat pembentukan memori, menjadi bagian otak yang paling rentan. Kelebihan gula mempercepat peradangan di area ini, sehingga kemampuan mengingat dan belajar ikut menurun sebagaimana dikutip dari Harvard Health Publishing.

Selain memengaruhi memori, gula berlebih juga berdampak pada suasana hati. Fluktuasi gula darah menyebabkan perubahan tajam pada kadar hormon dopamin dan serotonin, yang berperan dalam regulasi emosi.

Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah merasa cemas, mudah marah, dan lebih rentan mengalami gejala depresi. Kondisi ini sering tidak disadari sebagai akibat pola makan.

Dalam jangka panjang, konsumsi gula tinggi juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko demensia. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan kadar gula darah tinggi kronis memiliki kemungkinan lebih besar mengalami penurunan fungsi otak di usia lanjut.

Kualitas tidur juga ikut terdampak. Gula mengganggu ritme sirkadian alami tubuh, sehingga tidur menjadi lebih dangkal dan tidak nyenyak. Padahal, tidur merupakan waktu utama otak melakukan proses pembersihan racun metabolik.

Gangguan tidur yang berlangsung lama mempercepat akumulasi zat berbahaya di otak. Kondisi ini memperburuk penurunan kognitif secara perlahan.

Anak-anak dan remaja menjadi kelompok paling rentan. Otak mereka masih dalam tahap perkembangan, sehingga pola makan tinggi gula dapat memengaruhi struktur saraf secara permanen.

Sayangnya, banyak produk makanan dan minuman modern menyimpan gula tersembunyi dalam jumlah besar. Minuman kemasan, roti, sereal, hingga saus sering mengandung gula lebih tinggi dari yang disadari konsumen.

Para ahli menyarankan pengurangan gula secara bertahap, bukan sekadar mengganti dengan pemanis buatan. Fokus utama sebaiknya pada konsumsi buah, sayur, biji-bijian utuh, dan protein berkualitas.

Menjaga kesehatan otak bukan hanya soal latihan mental, tetapi juga tentang kestabilan nutrisi harian. Mengendalikan asupan gula menjadi salah satu investasi terpenting untuk fungsi kognitif jangka panjang.

KEYWORD :

Dampak gula otak konsumsi gula kesehatan kognitif fungsi otak




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :