Alpukat mengandung magnesium yang kaya (Foto: Health)
Jakarta, Jurnas.com - Magnesium kerap luput dari perhatian dalam pembahasan nutrisi harian. Padahal, mineral ini memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas fungsi jantung, pembuluh darah, serta sistem saraf. Banyak orang fokus pada kalsium, zat besi, atau vitamin D, sementara magnesium justru sering tertinggal dalam daftar prioritas gizi.
Di dalam tubuh, magnesium terlibat dalam ratusan proses biokimia. Mineral ini membantu mengatur kontraksi otot, transmisi sinyal saraf, produksi energi, hingga pengaturan irama jantung. Tanpa kadar magnesium yang memadai, berbagai sistem vital tubuh berisiko bekerja tidak optimal.
Masalahnya, kekurangan magnesium sering terjadi tanpa gejala yang jelas. Pada tahap awal, defisiensi hanya menimbulkan keluhan ringan seperti kelelahan, mudah kram, sulit tidur, atau rasa gelisah. Banyak orang menganggap keluhan tersebut sebagai akibat stres atau kurang istirahat, bukan tanda kekurangan mineral.
Dalam jangka panjang, defisiensi magnesium dapat berdampak lebih serius. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kadar magnesium rendah berkaitan erat dengan peningkatan tekanan darah, gangguan irama jantung, serta risiko penyakit jantung koroner.
Tekanan darah tinggi menjadi salah satu indikator paling kuat. Magnesium berperan membantu relaksasi dinding pembuluh darah, sehingga aliran darah menjadi lebih lancar. Ketika kadar magnesium rendah, pembuluh darah cenderung lebih kaku, yang akhirnya memicu peningkatan tekanan darah.
Selain itu, magnesium juga memengaruhi keseimbangan elektrolit, terutama kalsium dan kalium. Ketidakseimbangan ketiga mineral ini dapat mengganggu impuls listrik jantung, sehingga meningkatkan risiko aritmia atau denyut jantung tidak teratur.
Kekurangan magnesium juga berhubungan dengan meningkatnya peradangan dan stres oksidatif. Kedua kondisi ini merupakan faktor utama dalam pembentukan plak di pembuluh darah, yang menjadi cikal bakal aterosklerosis dan penyumbatan arteri.
Tak hanya itu, kadar magnesium yang rendah juga sering ditemukan pada penderita diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik. Kondisi ini memperburuk sensitivitas insulin dan mempercepat kerusakan pembuluh darah, sehingga risiko serangan jantung semakin meningkat.
Sayangnya, pola makan modern justru memperparah masalah ini. Makanan olahan, roti putih, makanan cepat saji, serta minuman tinggi gula umumnya sangat miskin magnesium. Proses pengolahan pangan menghilangkan sebagian besar kandungan mineral alami.
Akibatnya, banyak orang yang merasa sudah makan cukup, tetapi sebenarnya mengalami defisiensi magnesium secara kronis. Kondisi ini diperburuk oleh konsumsi alkohol berlebihan, stres berkepanjangan, serta penggunaan obat tertentu seperti diuretik.
Para ahli gizi menilai bahwa pencegahan defisiensi magnesium seharusnya dimulai dari pola makan. Sayuran hijau, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, polong-polongan, alpukat, dan cokelat hitam merupakan sumber magnesium alami yang relatif mudah diperoleh.
Namun, penting untuk diingat bahwa kebutuhan magnesium setiap orang berbeda. Faktor usia, tingkat aktivitas fisik, kondisi kesehatan, dan pola makan sangat memengaruhi kebutuhan harian mineral ini.
Bagi sebagian orang, suplemen magnesium dapat menjadi pilihan tambahan. Meski demikian, penggunaannya sebaiknya tetap dikonsultasikan dengan tenaga medis, terutama bagi penderita gangguan ginjal atau penyakit kronis tertentu.
Dengan menjaga asupan magnesium yang cukup, tubuh tidak hanya mendapat manfaat pada tekanan darah dan jantung, tetapi juga pada kualitas tidur, kestabilan emosi, serta metabolisme energi secara keseluruhan.
Kesehatan jantung bukan hanya ditentukan oleh kolesterol atau tekanan darah semata. Mineral kecil seperti magnesium justru memiliki peran besar yang sering diabaikan. Kesadaran terhadap nutrisi ini dapat menjadi langkah sederhana namun berdampak besar dalam menjaga kualitas hidup jangka panjang.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
defisiensi magnesium risiko jantung tekanan darah nutrisi mineral














