Ilustrasi struktur Bumi, termasuk cadangan air di dalamnya (Foto: Science Alert)
Jakarta, Jurnas.com - Bumi mungkin menyimpan rahasia besar tentang asal-usul air yang membuatnya layak huni. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar air di planet ini kemungkinan tidak pernah sepenuhnya muncul ke permukaan, melainkan tersimpan jauh di dalam perut bumi sejak masa awal pembentukannya.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Science mengungkap bahwa saat Bumi mendingin dari kondisi lautan magma miliaran tahun lalu, mineral-mineral di mantel mampu menyerap dan mengunci air dalam jumlah sangat besar. Jumlah air yang terperangkap ini bahkan diperkirakan setara dengan volume seluruh samudra di permukaan saat ini.
Tim peneliti yang dipimpin geokimiawan Wenhua Lu dari Chinese Academy of Sciences merekonstruksi kondisi ekstrem Bumi purba melalui eksperimen laboratorium bertekanan dan bersuhu sangat tinggi. Dengan menggunakan alat diamond anvil cell dan pemanasan laser, mereka mensimulasikan proses kristalisasi batuan mantel dalam kondisi awal planet.
Hasilnya menunjukkan bahwa mineral bernama bridgmanite, komponen paling melimpah di mantel bawah, mampu menyerap hidrogen dalam jumlah besar ke dalam struktur kristalnya. Alih-alih membentuk air cair, hidrogen tersebut terikat langsung dengan oksigen, menciptakan bentuk “air tersembunyi” yang stabil dan bertahan sangat lama.
Suhu menjadi faktor kunci dalam proses ini. Semakin panas kondisi mantel, semakin besar kemampuan bridgmanite untuk menyimpan air, sehingga pada masa awal Bumi yang sangat panas, sebagian besar air justru terkunci di kedalaman, bukan mengalir ke permukaan.
Seiring waktu dan pendinginan planet, mineral tersebut mulai melepaskan air secara perlahan melalui proses geologi seperti pergerakan mantel dan aktivitas vulkanik. Artinya, samudra di Bumi kemungkinan terbentuk secara bertahap, bukan sekaligus, melalui pasokan air dari dalam bumi selama jutaan hingga miliaran tahun.
Temuan ini juga berdampak besar pada pemahaman dinamika Bumi. Mantel yang lebih “basah” cenderung lebih lunak dan mudah mengalir, sehingga memengaruhi pergerakan lempeng tektonik, sirkulasi panas, serta siklus vulkanisme jangka panjang yang berperan dalam menjaga stabilitas iklim planet.
Bukti pendukung sebelumnya ditemukan pada berlian langka yang membawa mineral ringwoodite dari kedalaman mantel, mengandung air hingga satu persen beratnya. Namun riset terbaru ini memperluas kemungkinan penyimpanan air hingga ke mantel bawah, wilayah yang hampir tak terjangkau oleh sampel alami.
Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami bagaimana air ini berpindah dari kedalaman ke permukaan dan sejauh mana cadangan tersembunyi tersebut masih bertahan hingga kini. Satu hal menjadi semakin jelas, sejarah air di Bumi mungkin lebih banyak dimulai dari bawah tanah, bukan dari langit atau permukaan. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Sumber Air Air dalam Bumi Cadangan Air Bumi
























