Anggota DPR RI Novita Hardini (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com — Anggota DPR RI Novita Hardini, meminta dorongan strategis terhadap pengelolaan ekosistem pariwisata nasional saat melakukan Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI ke PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney).
Dalam kesempatan itu, politisi dari daerah pemilihan Jawa Timur 7 itu mempertanyakan visi jangka panjang InJourney dalam memposisikan Indonesia sebagai hub global pariwisata, sebagaimana yang telah berhasil dilakukan oleh Singapura dan Abu Dhabi.
“Singapura dan Abu Dhabi membangun hub pariwisatanya dengan visi jangka panjang yang konsisten, lintas sektor, dan terintegrasi. Pertanyaannya, visi besar InJourney ke depan itu apa? Bagaimana Indonesia bisa menjadi hub global dimasa depan, mengingat posisi Indonesia sangat strategis. Indonesia berada dijalur perdagangan dunia. Penghubung Asia-Pasifik dan Asia-Australia. Maka, jika di kelolah serius seharusnya Indonesia lebih unggul daripada Singapura dan Abu Dhabi” tegas Novita.
Ia menilai bahwa keinginan menjadikan Indonesia sebagai pusat pariwisata global masih jauh terlihat dari kesenjangan konektivitas yang belum ditangani secara serius. Ia menyebut, hingga hari ini, ekosistem pariwisata belum dipandang sebagai satu kesatuan utuh, melainkan masih terpecah-pecah.
Salah satu contoh konkret adalah transportasi bandara. Menurutnya, kereta bandara yang ada saat ini belum ramah bagi wisatawan asing, minim informasi multibahasa, informasi pemberhentian tujuan berikutnya dan belum terintegrasi optimal dengan moda transportasi publik seperti TransJakarta maupun sistem transportasi perkotaan lainnya.
“Bagi wisatawan asing, pengalaman pertama mereka tentang Indonesia itu dimulai dari bandara. Kalau dari bandara saja sudah membingungkan, kita kehilangan nilai jual sebagai destinasi global,” ujarnya.
Ia melihat Injourney belum mampu memanfaatkan potensi destinasi wisata di sekitar bandara untuk menjadikan Jakarta sebagai destinasi transit yang menarik, bukan sekadar titik singgah.
Ia mencontohkan berbagai atraksi yang seharusnya bisa dikoneksikan secara sistematis dengan bandara, seperti factory outlet, pusat hiburan, dan wahana wisata tematik, yang dapat mendorong wisatawan asing untuk memperpanjang masa tinggal (length of stay).
“Kalau transit 5–6 jam saja sudah bisa belanja, menikmati atraksi wisata, dan merasakan pengalaman Indonesia, maka perputaran nilai ekonominya akan jauh lebih besar,” jelasnya.
Kita bandingkan dengan Bangkok. Svarnabhumi Airport menuju Factory Outlet hanya sekitar 5- 10 menit saja.
Di Jakarta perlu menempuh 1- 2 jam menuju Factory Outlet atau atraksi wisata lainnya
Tak hanya di Jakarta, Ia juga melihat konektivitas bandara dengan destinasi wisata daerah yang dinilai belum optimal. Ia menyebut wilayah seperti Yogyakarta dan destinasi unggulan lainnya masih menghadapi persoalan serupa seperti minim integrasi antara bandara, moda transportasi yang sudah siap sedia menuju Borobudur dan paket wisata UMKM sekitar. Apakah tata kelola In Journey ini sudah bisa menyajikan data kepada Negara dampak positif dalam memajukan pariwisata dan UMKM daerah sejauh mana?
“Bandara seharusnya bukan hanya tempat datang dan pergi. In journey harus mampu membangun kolaborasi dengan maskapai global untuk dapat menjadikan Indonesia tempat tujuan dan destinasi transit dunia.
In-Journey perlu mengkoreksi bentuk Investasi yang diperlukan. Bukan hanya berupa fisik. Namun juga layanan, dan perkuat jaringan kolaborasi global dengan maskapai terkemuka yang sering dipakai wisatawan asing. In journey juga perlu melakukan investasi teknologi.” katanya.
InJourney belum serius membangun konsep Smart Airport dan Smart Logistic sebagai tulang punggung pariwisata modern.
Menurutnya, negara-negara yang sukses menjadi hub global telah menjadikan digitalisasi bandara, manajemen logistik, dan integrasi data sebagai keunggulan kompetitif.
“Kalau kita bicara hub global, maka smart airport dan smart logistic bukan pilihan, tapi keharusan. Tanpa investasi teknologi dan peningkatan kolaborasi dengan jejaring superhub global, kita akan selalu tertinggal,” tegas politisi fraksi PDI Perjuangan itu.
Sebagai mitra kerja di Komisi VII DPR RI yang membidangi pariwisata dirinya menegaskan bahwa DPR akan terus mendorong InJourney untuk keluar dari pendekatan sektoral dan mulai membangun visi besar yang terintegrasi, lintas moda, lintas destinasi, dan berorientasi global.
“Indonesia punya modal budaya, alam, dan posisi strategis yang luar biasa. Namun, tanpa visi jangka panjang terkait deregulasi sektor penerbangan dan logistik dan konektivitas antar moda dengan destinasi wisata yang menarik, potensi itu akan terus terbuang,” katanya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Warta DPR Novita Hardini Strategi InJourney Indonesia Hub Global Pariwisata


















