Ilustrasi - istri mengeluhkan suami (Foto: AI/Terasmuslim)
Jakarta, Jurnas.com - Dalam pandangan Islam, pernikahan bukan sekadar ikatan sosial atau pemenuhan kebutuhan lahiriah, melainkan sarana untuk saling menguatkan dalam ketaatan kepada Allah.
Rumah tangga yang ideal diarahkan untuk menghadirkan ketenangan jiwa yang menuntun pasangan menuju kebaikan dan keselamatan akhirat. Ketenteraman sejati itu tumbuh ketika suami dan istri saling menumbuhkan iman dan kepedulian terhadap ibadah.
Allah SWT berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama pernikahan adalah ketenangan batin yang berlandaskan iman, bukan semata kenyamanan duniawi.
Rasulullah SAW juga memberikan pedoman tegas dalam memilih pasangan hidup. Beliau menjelaskan bahwa banyak faktor yang sering menjadi pertimbangan, namun hanya satu yang benar-benar menentukan keberkahan.
Rasulullah SAW bersabda:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa ukuran utama seorang istri bukanlah materi atau rupa, melainkan kualitas agamanya, yakni kepedulian terhadap shalat, Al-Qur’an, dan ketaatan kepada Allah.
Istri yang shalihah bukan hanya hadir dalam kebahagiaan, tetapi juga berperan mengingatkan ketika suami mulai lalai. Islam memandang tanggung jawab menjaga iman sebagai amanah bersama dalam rumah tangga.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menegaskan kewajiban saling menasihati dalam keluarga. Seorang istri yang merasa resah ketika suaminya meninggalkan shalat, malas menghadiri majelis ilmu, atau lalai dari ibadah Subuh sejatinya sedang menunjukkan kepedulian terhadap keselamatan akhirat suaminya.
Sebaliknya, Islam mengingatkan bahaya rumah tangga yang hanya bertumpu pada kenikmatan dunia. Ketika harta, gaya hidup, dan kenyamanan dijadikan tolok ukur utama, kelalaian ibadah sering dianggap sepele. Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan tentang hakikat perhiasan dunia.
Nabi SAW bersabda:
الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman wanita shalihah hubungan suami Istri Rasulullah SAW

















