Ilustrasi - lafadz Nabi Muhammad SAW (Foto: Pexels/Necati Ömer Karpuzoğlu)
Jakarta, Jurnas.com - Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan dalam Majmū‘ al-Fatāwā (15/93) bahwa terdapat dua penghalang terbesar yang membuat seseorang tidak istiqamah mengikuti Rasulullah SAW, yaitu ketidaktahuan terhadap kebenaran dan rusaknya tujuan atau niat.
Kedua faktor ini kerap berjalan beriringan dan saling menguatkan dalam menjerumuskan seseorang dari jalan sunnah.
Penghalang pertama adalah kebodohan, yang dimaksud bukan sebatas buta huruf, melainkan ketidakpahaman terhadap ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur`an dan sunnah yang sahih. Tanpa ilmu, seseorang mudah mengira suatu amalan benar, padahal menyelisihi tuntunan Nabi SAW. Karena itu, Islam memerintahkan umatnya untuk bertanya kepada ahlinya ketika tidak mengetahui suatu perkara.
Allah SWT berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)
Ayat ini menunjukkan bahwa mengikuti sunnah tidak mungkin terwujud tanpa ilmu. Ketidaktahuan sering menjadi pintu masuk munculnya bid’ah atau pengabaian terhadap ajaran Nabi Muhammad SAW tanpa disadari oleh pelakunya.
Penghalang kedua yang tidak kalah berbahaya adalah rusaknya tujuan atau niat. Ada orang yang telah mengetahui kebenaran sunnah, namun enggan mengamalkannya karena motivasinya bukan untuk mencari ridha Allah, melainkan demi mempertahankan tradisi, fanatisme kelompok, atau kepentingan duniawi. Dalam kondisi ini, ilmu tidak lagi membuahkan ketaatan.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi prinsip agung dalam Islam bahwa nilai dan kebenaran amal—termasuk dalam mengikuti sunnah—sangat ditentukan oleh keikhlasan hati. Amal yang lahir dari niat yang rusak tidak akan mengantarkan pelakunya kepada kebenaran, meskipun secara lahir tampak sesuai.
Al-Qur’an juga memberikan peringatan keras terhadap orang-orang yang menyimpang meskipun memiliki pengetahuan, karena mereka lebih mengikuti hawa nafsu daripada petunjuk Allah.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)
Hawa nafsu sering merusak niat dan menutup hati dari kebenaran, sehingga seseorang menolak sunnah yang jelas hanya karena tidak sejalan dengan keinginannya atau kebiasaan yang telah mengakar dalam dirinya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman Sunnah Nabi Rasulullah SAW kitab Al-Qur`an



















