Sabtu, 17/01/2026 21:14 WIB

Kenali Gejala Anemia dari Kelelahan hingga Gangguan Saraf





Anemia terjadi ketika jumlah sel darah merah dalam tubuh berkurang sehingga kemampuan darah membawa oksigen dari paru-paru

Ilustrasi anemia (Foto: VIP Lab)

Jakarta, Jurnas.com - Anemia terjadi ketika jumlah sel darah merah dalam tubuh berkurang sehingga kemampuan darah membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh menjadi tidak optimal.

Kondisi ini lebih berisiko dialami oleh penderita kanker, penyakit autoimun, perempuan dengan perdarahan menstruasi berat, serta individu dengan kekurangan zat besi atau vitamin tertentu.

Dalam banyak kasus, anemia ditangani dengan suplemen atau obat yang membantu pembentukan sel darah merah. Namun pada kondisi yang lebih berat, pasien dapat memerlukan obat intravena, transfusi darah, hingga tindakan bedah. Tingkat keparahan anemia sangat menentukan jenis terapi yang diberikan.

Gejala anemia tidak selalu langsung terasa. Pada tahap awal, sebagian orang bahkan tidak merasakan keluhan apa pun. Namun seiring perkembangan penyakit, tanda-tandanya dapat muncul dan memburuk bila tidak ditangani.

Keluhan paling umum adalah rasa lelah dan keletihan ekstrem. Kondisi ini sering dialami pada anemia defisiensi besi, anemia aplastik, maupun anemia hemolitik. Sel darah merah berperan membawa oksigen untuk menghasilkan energi.

Ketika jumlahnya rendah, jaringan tubuh dan otot kekurangan oksigen, sementara jantung harus bekerja lebih keras untuk mengedarkan darah yang tersedia. Kombinasi inilah yang memicu kelelahan berat dan penurunan stamina.

Perubahan warna kulit juga menjadi tanda khas anemia. Kulit tampak lebih pucat karena aliran darah merah ke permukaan kulit berkurang. Tenaga medis kerap menjadikan pucat sebagai salah satu indikator awal saat mendiagnosis anemia. Pucat bisa terlihat di seluruh tubuh atau hanya pada area tertentu, seperti kuku, telapak tangan, serta bagian dalam kelopak mata.

Sakit kepala, bahkan migrain, juga sering dikaitkan dengan anemia. Meski mekanismenya belum sepenuhnya dipahami, kekurangan zat besi diduga menjadi salah satu pemicu, terutama pada perempuan dan remaja putri saat menstruasi.

Anemia juga diketahui sebagai faktor risiko hipertensi intrakranial idiopatik, yaitu kondisi peningkatan tekanan di sekitar otak yang menimbulkan nyeri kepala, dan lebih sering terjadi pada perempuan dewasa dengan obesitas.

Gejala lain yang kerap muncul adalah sesak napas. Rendahnya kadar hemoglobin membuat jaringan tubuh kekurangan suplai oksigen. Akibatnya, aktivitas ringan seperti berjalan, menaiki tangga, atau merapikan tempat tidur bisa terasa berat.

Penderita juga dapat merasa pusing atau melayang. Jika sesak napas terjadi secara terus-menerus, pemeriksaan medis sangat dianjurkan karena keluhan ini bisa menandakan anemia maupun penyakit serius lainnya.

Anemia juga dapat memengaruhi irama jantung. Ketika hemoglobin rendah, jantung harus memompa lebih keras untuk mengedarkan oksigen. Kondisi ini dapat memicu jantung berdebar, berdetak terlalu cepat, atau tidak teratur, meskipun hubungan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Perubahan pada kuku, kulit, dan rambut pun tidak jarang terjadi. Pada anemia defisiensi besi kronis, kuku dapat menjadi tipis, rapuh, dan berbentuk cekung seperti sendok, suatu kondisi yang dikenal sebagai koilonychia. Kulit menjadi kering, sementara rambut bisa rontok lebih banyak atau tumbuh lebih lambat akibat rendahnya pasokan oksigen ke jaringan.

Bagian dalam mulut juga dapat menunjukkan tanda anemia. Sebuah penelitian menemukan bahwa 76 persen penderita anemia defisiensi besi mengalami sensasi terbakar di mulut. Mereka juga melaporkan mulut kering, peradangan, serta lidah yang tampak halus, pucat, dan membengkak. Gejala lain yang mungkin muncul adalah sariawan dan luka pecah di sudut bibir.

Pada anemia pernisiosa akibat kekurangan vitamin B12, kerusakan saraf dapat terjadi. Penderitanya bisa merasakan kesemutan dan mati rasa di tangan serta kaki, penurunan refleks, kelemahan otot, hingga gangguan keseimbangan dan kesulitan berjalan.

Anemia juga dapat menyerang anak-anak dan bayi, terutama karena kebutuhan zat besi yang tinggi selama masa pertumbuhan. Pola makan rendah zat besi atau konsumsi susu berlebihan yang menghambat penyerapan zat besi dapat menjadi penyebab.

Tanda anemia pada anak meliputi kelelahan, sesak napas, nafsu makan menurun atau keinginan makan benda tidak lazim, mudah marah, sakit kepala, lidah nyeri, kulit pucat, bagian putih mata yang sangat pucat atau kebiruan, serta kuku rapuh.

Para ahli menekankan pentingnya berkonsultasi dengan tenaga medis jika mengalami gejala-gejala tersebut. Anemia ringan hingga sedang sering kali tidak menunjukkan tanda yang jelas, sehingga keluhan seperti lelah atau sakit kepala tidak boleh dianggap sepele. Jika dibiarkan, anemia dapat memicu komplikasi serius, termasuk kegagalan organ dan memperburuk penyakit kardiovaskular.

Perempuan hamil juga perlu lebih waspada. Anemia saat kehamilan dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, serta risiko anemia pada bayi.

Melalui pemeriksaan medis, dokter dapat memastikan apakah keluhan yang muncul disebabkan oleh anemia atau kondisi lain. Dari hasil diagnosis tersebut, rencana pengobatan yang paling tepat dapat ditentukan agar komplikasi jangka panjang dapat dicegah.

KEYWORD :

gejala anemia tanda anemia kekurangan darah anemia pada anak




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :