Sabtu, 17/01/2026 19:48 WIB

Kenali Berbagai Pemicu Asma agar Gejala Lebih Terkendali





Asma merupakan penyakit kronis yang menyebabkan peradangan dan penyempitan saluran napas, sehingga penderitanya kerap mengalami sesak napas

Debu dapat memicu asma (Foto: Health)

Jakarta, Jurnas.com - Asma merupakan penyakit kronis yang menyebabkan peradangan dan penyempitan saluran napas, sehingga penderitanya kerap mengalami sesak napas, bunyi mengi, hingga batuk berkepanjangan. Di Amerika Serikat, kondisi ini memengaruhi lebih dari empat juta anak dan lebih dari 20 juta orang dewasa.

Hingga kini, para peneliti belum mengetahui secara pasti mengapa seseorang bisa mengalami asma. Namun, sejumlah faktor diketahui dapat meningkatkan risikonya, seperti memiliki alergi atau riwayat asma dalam keluarga.

Selain faktor risiko tersebut, ada pula berbagai pemicu yang dapat memperburuk gejala dan memicu serangan asma. Mengenali pemicu ini menjadi langkah penting untuk membantu mengendalikan gejala sekaligus meningkatkan kualitas hidup.

Salah satu pemicu utama adalah asap rokok, baik dari rokok konvensional maupun vape. Asap tembakau dapat mengiritasi saluran napas dan memperparah gejala asma.

Orang yang merokok atau memiliki orang tua yang merokok saat kehamilan juga berisiko lebih tinggi mengalami asma. Bahkan, paparan asap rokok orang lain atau asap rokok pasif pun dapat memicu serangan asma.

Menghentikan kebiasaan merokok memang tidak mudah, tetapi tenaga kesehatan dapat membantu mengelola gejala putus nikotin dan merekomendasikan terapi pengganti nikotin. Menghindari lingkungan dengan paparan asap rokok juga sangat dianjurkan.

Tungau debu menjadi pemicu lain yang sering tidak disadari. Serangga mikroskopis ini hidup di debu rumah dan memakan sel kulit manusia yang mati. Pada penderita asma yang memiliki alergi, tungau debu dapat memicu mata berair, bersin, pilek, hingga batuk berat, hidung tersumbat, dada terasa sesak, dan kesulitan bernapas.

Untuk menguranginya, disarankan rutin membersihkan rumah dengan penyedot debu berfilter HEPA, menjaga kelembapan ruangan di bawah 50 persen, mencuci sprei dan gorden dengan air panas setiap minggu, serta mengurangi barang yang menumpuk. Meski sulit menghilangkan tungau sepenuhnya, obat antihistamin, obat resep, atau suntikan alergi dapat membantu mengendalikan gejala.

Jamur atau mold juga kerap menjadi pemicu asma. Jamur tumbuh subur di tempat lembap dan gelap, baik di dalam maupun luar ruangan. Menghirup spora jamur dapat memicu serangan asma, bahkan pada orang yang tidak memiliki alergi.

Jika seseorang merasa lebih sering sakit di rumah atau tempat kerja, pemeriksaan profesional terhadap kemungkinan adanya jamur patut dipertimbangkan. Mengurangi risiko paparan dapat dilakukan dengan memperbaiki kebocoran air, menggunakan dehumidifier, membersihkan jamur dengan sabun dan air panas, serta rutin membuka jendela untuk sirkulasi udara.

Serbuk sari atau pollen juga dikenal sebagai pemicu musiman, terutama pada musim semi. Bagi penderita alergi serbuk sari, paparan dari rumput, pohon, dan gulma dapat memicu serangan asma.

Untuk mengurangi dampaknya, disarankan menutup jendela saat musim pollen, menggunakan pembersih udara berfilter HEPA, membatasi aktivitas di luar ruangan, mengganti pakaian setelah dari luar, serta menggunakan obat alergi sesuai anjuran dokter.

Bulu dan serpihan kulit hewan peliharaan, atau animal dander, juga dapat memicu asma. Sekitar 10–20 persen penduduk dunia diketahui alergi terhadap kucing dan anjing. Kontak langsung dengan serpihan kulit hewan dapat memicu gejala asma.

Upaya pencegahan antara lain menjauhkan hewan dari tempat tidur dan sofa, meminta orang lain untuk memandikan dan merawat hewan, serta mandi dan mengganti pakaian setelah berinteraksi dengan hewan peliharaan.

Polusi udara luar ruangan, termasuk asap, ozon, abu, uap kimia, dan gas berbahaya, juga dapat memperparah asma. Ozon, komponen utama kabut asap, dikenal meningkatkan risiko gejala asma.

Meski kualitas udara sering berada di luar kendali individu, risiko dapat ditekan dengan menghindari lingkungan kerja yang penuh bahan kimia atau menggunakan alat pelindung seperti masker. Memantau indeks kualitas udara (AQI) melalui aplikasi cuaca atau sumber resmi juga sangat dianjurkan.

Aktivitas fisik pun dapat menjadi pemicu pada sebagian penderita. Kondisi ini dikenal sebagai exercise-induced asthma atau exercise-induced bronchoconstriction (EIB), yang terjadi pada 40–90 persen penderita asma dan hingga 20 persen orang tanpa asma.

Gejalanya berupa batuk, dada terasa sesak, dan mengi dalam waktu 15 menit setelah olahraga intens. Meski demikian, olahraga tetap penting untuk kesehatan paru dan mental. Tenaga kesehatan dapat membantu menentukan jenis dan durasi olahraga yang paling sesuai serta memberikan saran penyesuaian agar aktivitas fisik tetap aman.

Infeksi virus seperti flu, influenza, dan RSV juga dapat memicu serangan asma. Bahkan, infeksi saluran napas pada masa kanak-kanak dapat meningkatkan risiko asma kronis di kemudian hari.

Untuk menurunkan risiko, dianjurkan sering mencuci tangan, menghindari keramaian, memakai masker di tempat umum, menjauhi orang yang sedang sakit, serta rutin mendapatkan vaksin flu dan COVID-19. Penderita juga disarankan memiliki rencana penanganan asma yang jelas, termasuk daftar pemicu, obat yang digunakan, dan nomor darurat.

Stres emosional, seperti marah, takut, atau kondisi emosi yang tidak stabil, dapat mempercepat napas dan memicu gejala asma. Aktivitas seperti yoga, latihan pernapasan, dan meditasi direkomendasikan untuk membantu relaksasi.

Jika stres sulit dikendalikan, dikutip dari Health, konsultasi dengan tenaga kesehatan atau profesional kesehatan mental dapat membantu menemukan strategi yang lebih efektif.

Obesitas juga dikaitkan dengan risiko asma yang lebih tinggi. Lemak berlebih, terutama di area perut, dapat memicu peradangan yang memperburuk gejala.

Menjaga pola makan rendah kalori, mengurangi makanan olahan dan tinggi gula, serta rutin beraktivitas fisik dapat membantu menurunkan risiko serangan asma. Konsultasi dengan dokter diperlukan jika berat badan menjadi kekhawatiran utama.

Selain pemicu-pemicu tersebut, setiap orang dapat memiliki faktor unik. Infeksi sinus, cuaca dingin dan berangin, udara dingin atau kering, penyakit refluks asam lambung (GERD), kehamilan, bau menyengat dari bahan pembersih, serta obat-obatan tertentu seperti beta blocker dan NSAID juga dapat memicu asma pada sebagian orang.

Karena itu, mengenali dan mencatat pemicu pribadi menjadi kunci utama pengelolaan asma. Dengan pemahaman yang lebih baik, penderita dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat dan menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik meski memiliki asma.

KEYWORD :

pemicu asma serangan asma kesehatan saluran napas alergi asma




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :