Ilustrasi diaera (Foto: Kauvery Hospital)
Jakarta, Jurnas.com - Diare kerap datang tanpa tanda, membuat tubuh lemas dan aktivitas terganggu. Kondisi ini bisa dipicu oleh infeksi virus atau bakteri, efek samping obat, gangguan pencernaan, hingga pengobatan tertentu seperti kemoterapi. Meski sering dianggap sepele, diare tidak boleh diabaikan karena berisiko menyebabkan dehidrasi.
Salah satu langkah paling penting saat diare adalah mengatur asupan makanan. Para ahli merekomendasikan pola makan rendah serat yang dikenal sebagai diet BRAT. Pola ini mencakup pisang, nasi putih, saus apel, dan roti tawar. Pisang yang belum terlalu matang mengandung pati resisten yang membantu menyerap cairan di usus. Nasi putih lebih mudah dicerna dibandingkan biji-bijian utuh, sementara saus apel dan roti tawar lebih ramah bagi lambung yang sedang sensitif.
Namun, diet BRAT bukan satu-satunya pilihan. Makanan hambar lain seperti kentang panggang tanpa kulit, sup bening, biskuit polos, sereal rendah serat, serta sumber protein rendah lemak seperti putih telur, ayam, ikan, dan daging tanpa lemak juga umumnya aman dikonsumsi. Makanan-makanan ini membantu tubuh tetap mendapat energi tanpa membebani sistem pencernaan.
Asupan garam juga tidak kalah penting. Saat diare, dikutip dari Health, tubuh kehilangan natrium melalui tinja cair. Karena itu, sup ayam mi atau camilan asin dalam jumlah wajar dapat membantu mengganti elektrolit yang hilang dan mencegah dehidrasi.
Selain itu, probiotik berperan menjaga keseimbangan bakteri baik di usus. Probiotik bisa ditemukan pada kefir, yogurt, susu kedelai fermentasi, serta buah dan sayuran fermentasi. Meski begitu, produk susu tetap perlu dikonsumsi dengan hati-hati karena pada sebagian orang justru dapat memperparah diare.
Yang paling krusial adalah menjaga cairan tubuh. Diare membuat tubuh kehilangan banyak air dan elektrolit, sehingga risiko dehidrasi meningkat. Disarankan untuk minum setidaknya delapan gelas air per hari, ditambah satu gelas setiap kali buang air besar cair. Teh, kaldu, dan minuman olahraga juga dapat membantu proses rehidrasi.
Di sisi lain, ada beberapa makanan dan minuman yang sebaiknya dihindari. Makanan tinggi serat seperti kacang-kacangan, buah kering, dan gandum utuh dapat memperberat kerja usus. Gorengan dan makanan berlemak juga berisiko memperparah gejala. Begitu pula sayuran penghasil gas seperti brokoli dan kol, serta produk susu tinggi lemak seperti es krim dan susu full cream.
Untuk minuman, alkohol, kopi, teh berkafein, soda, serta minuman dengan kadar gula atau pemanis buatan tinggi sebaiknya dihindari karena dapat merangsang usus dan memperparah diare.
Perawatan di rumah dapat membantu meringankan gejala. Istirahat cukup, makan dalam porsi kecil namun lebih sering, serta minum cairan sedikit demi sedikit tetapi rutin merupakan langkah sederhana yang efektif. Obat bebas seperti bismuth subsalicylate atau loperamide bisa digunakan sesuai aturan, tetapi tidak dianjurkan jika diare disertai darah atau demam, karena kondisi tersebut dapat menandakan infeksi.
Meski sebagian besar kasus diare dapat membaik dengan perawatan mandiri, ada kondisi yang memerlukan perhatian medis. Diare yang berlangsung lebih dari lima hari pada orang dewasa, lebih dari dua hari pada anak, disertai demam berkepanjangan, muntah hebat, nyeri perut parah, atau tinja berdarah dan berlendir sebaiknya segera diperiksakan ke dokter. Kelompok rentan seperti ibu hamil, lansia, penderita gangguan imun, serta pasien penyakit radang usus juga perlu lebih waspada.
Dengan pemilihan makanan yang tepat, asupan cairan yang cukup, serta kewaspadaan terhadap tanda bahaya, diare dapat ditangani dengan lebih aman. Tubuh pun memiliki kesempatan lebih besar untuk pulih tanpa komplikasi.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
makanan diare diet BRAT minuman diare pantangan diare














