Jum'at, 16/01/2026 15:48 WIB

Kementerian ESDM: Harga Minyak Indonesia Turun ke USD 61,1 per Barel





Kementerian ESDM mengungkapkan bahwa kondisi kelebihan pasokan minyak di pasar global menjadi faktor utama turunnya harga rata-rata minyak mentah Indonesia

Ilustrasi - Kapal tanker minyak (Foto: REUTERS)

Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa kondisi kelebihan pasokan minyak di pasar global menjadi faktor utama turunnya harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Desember 2025. Pada periode tersebut, ICP tercatat berada di level 61,1 dolar AS per barel.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa pelemahan harga minyak tidak terlepas dari kekhawatiran pasar terhadap potensi super glut akibat suplai minyak dunia yang melimpah, terutama dipicu oleh tingginya produksi minyak Amerika Serikat.

"Penurunan angka ICP pada bulan Desember 2025 diakibatkan kekhawatiran pasar akan narasi super glut atau kelebihan pasokan, serta kondisi oversupply minyak dunia yang dipengaruhi oleh produksi Amerika Serikat yang tinggi," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman dalam keterangan resminya yang dikutip dari Jakarta, pada Jumat (16/1).

Selain produksi AS, tekanan harga juga datang dari peningkatan pasokan negara-negara OPEC+. Laode menyebutkan, produksi OPEC+ pada November 2025 mengalami kenaikan secara month over month dibandingkan November 2024, dengan total produksi mencapai 43,1 juta barel per hari.

Di sisi lain, OPEC turut merevisi proyeksi pertumbuhan produksi negara non-OPEC+ untuk tahun 2025. Dalam publikasi Desember 2025, proyeksi tersebut naik sekitar 40 ribu barel per hari dibandingkan laporan bulan sebelumnya, sehingga mencapai 0,95 juta barel per hari.

Sementara itu, dari sisi permintaan, S&P Global justru menurunkan proyeksi pertumbuhan kebutuhan minyak dunia pada 2025. Dalam laporan terbarunya, estimasi permintaan direvisi turun 16 ribu barel per hari menjadi 730 ribu barel per hari dibandingkan proyeksi bulan November 2025.

Tekanan berlanjut dengan proyeksi Badan Energi Internasional (IEA) yang memperkirakan terjadinya surplus minyak global pada 2026 di kisaran 3,7 hingga 4 juta barel per hari. Jumlah tersebut bahkan disebut melampaui kondisi kelebihan stok saat masa pandemi.

Faktor geopolitik juga turut memengaruhi pergerakan harga. Laode menilai potensi meredanya konflik Rusia-Ukraina, menyusul adanya sinyal pembatalan aspirasi Ukraina untuk bergabung dengan NATO, ikut menekan sentimen pasar minyak. Ditambah lagi, Rusia memproyeksikan peningkatan produksi minyaknya pada 2025 menjadi 10,36 juta barel per hari dan kembali naik pada 2026 hingga 10,54 juta barel per hari.

"Penurunan ICP bulan Desember disebabkan peningkatan suplai minyak dunia," kata Laode.

Untuk kawasan Asia Pasifik, pelemahan harga minyak juga dipengaruhi oleh turunnya crude throughput China. Pada November 2025, angka pengolahan minyak China tercatat turun 0,9 persen secara bulanan menjadi 14,86 juta barel per hari, level terendah dalam enam bulan terakhir.

Secara bulanan, ICP Desember 2025 mengalami penurunan sebesar 1,73 dolar AS per barel dibandingkan November 2025 yang berada di level 62,83 dolar AS per barel. Penetapan ICP tersebut resmi tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 10.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Bulan Desember 2025.

Adapun harga minyak mentah utama dunia pada Desember 2025 juga bergerak melemah dibandingkan bulan sebelumnya. Dated Brent turun menjadi 62,70 dolar AS per barel, WTI (Nymex) turun ke 57,87 dolar AS per barel, dan Brent (ICE) melemah ke 61,64 dolar AS per barel.

Sementara Basket OPEC turun ke level 61,85 dolar AS per barel, seiring penurunan rata-rata ICP minyak mentah Indonesia menjadi 61,10 dolar AS per barel.

KEYWORD :

Kementerian ESDM Minyak mentah harga minyak Indonesian Crude Price




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :