Jum'at, 16/01/2026 13:53 WIB

Inilah 7 Tradisi Isra Miraj di Indonesia yang Sarat Makna





Berikut beberapa tradisi Isra Mi’raj di Indonesia yang sarat makna, dan masih lestari hingga kini

Tradisi Rajaban di Cirebon Jawa Barat, salah satu tradisi Isra Miraj di Indonesia (Foto: Radar Cirebon)

Jakarta, Jurnas.com - Isra Mi’raj merupakan peristiwa agung dan penting dalam sejarah Islam yang diperingati umat Muslim di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Peristiwa ini menandai perjalanan istimewa dan spesial Nabi Muhammad SAW sekaligus turunnya perintah salat wajib.

Perjalanan Isra Mi’raj dimulai dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjid Al-Aqsha di Palestina, sebelum Nabi Muhammad SAW naik ke Sidratul Muntaha. Momentum sakral ini kemudian diperingati dengan beragam tradisi, termasuk di berbagai daerah di Indonesia.

Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Indonesia tidak hanya diisi dengan pengajian dan doa, tetapi juga diwujudkan dalam berbagai tradisi lokal yang kaya makna spiritual dan budaya.

Setiap daerah di Indonesia memiliki cara khas untuk mengenang peristiwa agung perjalanan Rasulullah SAW dalam menerima perintah sholat wajib. Lantas, terdapat tradisi apa saja? Berikut ulasannya yang dihimpun dari berbagai sumber.

Berikut beberapa tradisi Isra Mi’raj di Indonesia yang sarat makna, dan masih lestari hingga kini.

1. Hajad Dalem Yasa Peksi Burak (Yogyakarta)

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki tradisi Hajad Dalem Yasa Peksi Burak, sebuah kirab budaya yang sarat simbol dakwah. Yasa berarti membuat, sedangkan Peksi Burak merujuk pada Burak, kendaraan Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra Mi’raj.

Tradisi ini diawali dengan pembuatan simbol Burak dari ukiran jeruk bali, dirangkai bersama buah-buahan dan bunga, lalu diarak menuju Masjid Gedhe Kauman. Setelah doa bersama, buah-buahan dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol keberkahan dan kebersamaan.

2. Pembacaan Kitab Arja (Temanggung)

Di Desa Wonoboyo, Temanggung, Jawa Tengah, Isra Mi’raj diperingati dengan pembacaan Kitab Arja hingga khatam. Kitab bernama lengkap Arjaa Syafa’at ini dibaca selepas salat Isya, diawali tahlil dan diakhiri doa bersama.

Makna utama tradisi ini adalah harapan mendapatkan syafaat Rasulullah SAW, sekaligus menjaga tradisi keilmuan Islam yang diwariskan secara turun-temurun.

3. Rajaban dan Nasi Bogana (Cirebon, Jawa Barat)

Di Cirebon, Jawa Barat, peringatan Isra Mi’raj dikenal dengan istilah Rajaban. Warga melakukan ziarah ke makam tokoh penyebar Islam, seperti Pangeran Kejaksan dan Pangeran Panjunan.

Keraton Kasepuhan dan Kesultanan Kanoman juga menggelar pengajian dan pembacaan Babad Rajaban, yang mengisahkan perjalanan Isra Mi’raj. Acara ditutup dengan pembagian Nasi Bogana, hidangan khas yang melambangkan kesederhanaan dan pengendalian diri dari orientasi duniawi.

4. Nganggung (Bangka Belitung)

Di Bangka Belitung, khususnya Pangkalpinang, masyarakat merayakan Isra Mi’raj dengan tradisi Nganggung, yakni membawa makanan secara beramai-ramai ke masjid atau balai desa.

Tradisi ini menjadi simbol gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur, sekaligus sarana mempererat persaudaraan antarwarga.

5. Maapam (Pasaman Barat)

Masyarakat Pasaman Barat, Sumatra Barat, memiliki tradisi Maapam, yaitu memasak kue apam berbahan tepung beras dan air kelapa, lalu disajikan dengan kuah gula aren.

Maapam digelar setiap bulan Rajab sebagai bentuk syukur atas peristiwa Isra Mi’raj dan pengingat pentingnya salat dalam kehidupan umat Islam.

6. Meraji (Gorontalo)

Di Gorontalo, peringatan Isra Mi’raj dikenal dengan tradisi Meraji, yakni pembacaan naskah kuno berbahasa Gorontalo yang ditulis dengan huruf Arab Pegon.

Naskah ini dibaca hingga selesai dalam sepertiga malam, berisi ajaran Islam, sifat-sifat Nabi Muhammad SAW, kisah Isra Mi’raj, hingga doa keselamatan dunia dan akhirat. Meraji juga dipercaya sebagai ritual doa perlindungan dan permohonan keberkahan.

7. Mamace (Nusa Tenggara Barat/NTB)

Di NTB, terdapat tradisi Mamace, yaitu pembacaan kitab keagamaan dengan irama lagu. Saat Isra Mi’raj, kitab yang dibaca adalah Kifayatul Muhtaj, yang mengisahkan perjalanan Rasulullah SAW.

Tradisi ini melibatkan beberapa peran, mulai dari pembaca naskah, penerjemah ke bahasa lokal, hingga pengiring bacaan, mencerminkan harmoni dakwah dan seni budaya.

Beragam tradisi Isra Mi’raj di Indonesia tersebut di antarannya menunjukkan bahwa dakwah Islam berkembang secara inklusif dan berakulturasi dengan budaya lokal, tanpa meninggalkan nilai-nilai utama ajaran Islam.

Lebih dari sekadar peringatan tahunan, tradisi-tradisi ini menjadi sarana memperkuat iman, mempererat persaudaraan, hingga menjaga warisan budaya religius Nusantara agar tetap hidup lintas generasi. (*)

KEYWORD :

Peringatan Isra Miraj Tradisi Lokal daerah Indonesia Tradisi Isra Miraj Bulan Rajab




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :