Ilustrasi pemanis buatan (Foto: Harian Disway)
Jakarta, Jurnas.com - Pemanis buatan kerap dianggap solusi cerdas bagi mereka yang ingin mengurangi asupan gula tanpa kehilangan rasa manis. Aspartam, sukralosa, stevia, hingga xylitol banyak digunakan dalam minuman diet, makanan rendah kalori, dan berbagai produk olahan.
Namun, berbagai temuan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa dampaknya terhadap kesehatan jantung dan otak tidak sesederhana yang dibayangkan.
Kate Townsend Creasy, dosen ilmu gizi di Penn Nursing, menyebut pemanis buatan memang dapat membantu sebagian orang, terutama penderita diabetes atau obesitas, dalam mengontrol kadar gula darah dan berat badan.
Meski demikian, sejumlah penelitian justru mengaitkan konsumsi rutin pemanis buatan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Sebuah studi pada 2022 menemukan bahwa konsumsi pemanis buatan yang tinggi berhubungan dengan risiko lebih besar terhadap gangguan jantung dan pembuluh darah.
Aspartam, misalnya, dikaitkan dengan peningkatan risiko kejadian serebrovaskular seperti stroke. Sementara itu, acesulfame potassium dan sukralosa berhubungan dengan risiko penyakit jantung koroner.
Tak hanya itu, kelompok pemanis alkohol gula seperti xylitol dan erythritol juga dilaporkan berkaitan dengan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke. Zat-zat ini banyak ditemukan dalam minuman rendah gula dan makanan penutup “bebas gula”.
Meski demikian, dikatakan bahwa hasil penelitian masih beragam. Saat ini bukti ilmiah terkait dampak jangka panjang pemanis buatan terhadap kesehatan jantung masih terus berkembang dan memerlukan penelitian lanjutan.
Kekhawatiran serupa juga muncul terkait kesehatan otak. Sebuah studi pada 2025 yang dipublikasikan di jurnal Neurology menemukan hubungan antara konsumsi rutin pemanis buatan dengan penurunan fungsi kognitif yang lebih cepat.
Beberapa jenis yang disorot antara lain aspartam, sakarin, acesulfame potassium, erythritol, sorbitol, dan xylitol, dikutip dari Health pada Jumat (16/1).
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa konsumsi minuman bersoda diet dalam jumlah besar berkaitan dengan peningkatan risiko demensia. Creasy menjelaskan, salah satu mekanisme yang diduga berperan adalah peningkatan peradangan dan stres oksidatif di dalam tubuh.
Selain itu, pemanis buatan seperti sukralosa dinilai dapat mengganggu sinyal lapar dan kenyang di otak. Dikatakan, tingkat kemanisan yang sangat tinggi pada pemanis buatan justru bisa meningkatkan keinginan terhadap makanan manis. Akibatnya, seseorang lebih mudah mengalami craving, meski tidak sedang mengonsumsi gula asli.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyatakan pemanis buatan aman dikonsumsi selama tidak melebihi batas harian. Sebagai contoh, konsumsi hingga 23 sachet sukralosa per hari masih dianggap berada dalam batas aman.
Namun, Creasy mengingatkan bahwa “aman” tidak selalu berarti pilihan terbaik bagi kesehatan. Dia menyarankan masyarakat membatasi pemanis buatan sebisa mungkin dan lebih mengutamakan makanan minim proses.
Bagi penderita diabetes atau obesitas, konsultasi dengan dokter tetap diperlukan untuk menimbang manfaat dan risikonya.
Jika tetap memilih pemanis buatan, jenis berbasis tanaman seperti stevia dan monk fruit dinilai memiliki risiko kesehatan yang relatif lebih rendah dibandingkan pemanis sintetis lainnya, meskipun data ilmiah masih terus dikembangkan.
Sementara itu, cara paling sehat untuk mendapatkan rasa manis tetap berasal dari buah-buahan. Selain memberi rasa manis alami, buah juga mengandung serat, vitamin, dan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan jantung dan otak.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
pemanis buatan kesehatan jantung kesehatan otak risiko kognitif





















