Ilustrasi depresi (foto: Better Help)
Jakarta, Jurnas.com - Antidepresan kerap menjadi bagian penting dalam terapi depresi. Namun, tidak semua orang merespons obat ini dengan cara yang sama.
Pada sebagian pasien, obat yang semula membantu justru terasa tidak lagi efektif, bahkan menimbulkan keluhan baru. Mengenali tanda-tandanya sejak dini penting agar penanganan bisa segera disesuaikan.
Berikut tujuh sinyal utama bahwa antidepresan mungkin tidak bekerja optimal, dirangkum dari Health pada Jumat (16/1):
1. Efek samping terasa sangat mengganggu
Antidepresan dapat menimbulkan sejumlah efek samping, mulai dari penglihatan kabur, pusing, mengantuk, mulut kering, sakit kepala, peningkatan kecemasan, insomnia, penurunan gairah seksual, mual, hingga kenaikan berat badan.
Jika keluhan tersebut sampai menurunkan kualitas hidup, dokter perlu mengetahuinya. Risiko efek samping harus ditimbang dengan manfaat pengobatan. Dalam beberapa kasus, mengganti jenis obat menjadi solusi terbaik.
2. Gejala tidak juga membaik
Perbaikan pola makan dan tidur biasanya muncul lebih dulu dibanding perbaikan suasana hati. Secara umum, efek antidepresan baru terlihat jelas setelah 4–8 minggu.
Bila setelah dua bulan hampir tidak ada perubahan berarti, dokter dapat mempertimbangkan mengganti obat atau menyesuaikan dosis.
3. Gejala justru memburuk
Antidepresan dianggap tidak bekerja dengan baik bila keluhan depresi malah meningkat setelah pengobatan dimulai. Tanda-tandanya antara lain nyeri tubuh, perubahan nafsu makan, gangguan pencernaan, perasaan cemas, putus asa, mudah marah, kehilangan minat pada hobi, gangguan tidur, kelelahan, hingga muncul pikiran menyakiti diri sendiri.
Kondisi ini memerlukan evaluasi medis segera.
4. Muncul sindrom serotonin
Sindrom serotonin adalah reaksi langka tetapi serius. Biasanya terjadi akibat interaksi obat atau dosis berlebihan. Gejalanya meliputi gelisah, kebingungan, denyut jantung cepat, kulit kemerahan, kecemasan meningkat, mual, muntah, keringat berlebih, dan rasa tidak tenang.
Keluhan ini umumnya muncul dalam 24 jam dan mereda setelah obat dihentikan. Dokter dapat menurunkan dosis atau mengganti jenis antidepresan.
5. Gangguan tidur berkepanjangan
Insomnia dan rasa mengantuk berlebihan termasuk efek samping yang paling sering terjadi. Tidur terlalu sedikit atau terlalu banyak dapat memperparah depresi.
Beberapa langkah sederhana yang dianjurkan antara lain menghindari kafein sore hari, tidak tidur siang setelah pukul 15.00, rutin berolahraga, menjaga jam tidur yang konsisten, serta melakukan aktivitas relaksasi sebelum tidur.
6. Terjadi toleransi obat
Sebagian orang mengalami penurunan efektivitas obat setelah penggunaan jangka panjang. Kondisi ini disebut toleransi atau tachyphylaxis antidepresan.
Pengguna selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) disebut lebih berisiko mengalaminya. SSRI bekerja dengan meningkatkan serotonin, hormon yang berperan penting dalam pengaturan suasana hati.
7. Dosis sering terlewat
Lupa minum obat atau mengonsumsinya pada jam yang tidak konsisten dapat membuat terapi tidak optimal. Antidepresan harus diminum sesuai anjuran dokter agar manfaatnya maksimal.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
antidepresan tidak efektif efek samping antidepresan toleransi obat ganti antidepresan



















