Ilustrasi perempuan menggigit kuku (Foto: Health)
Jakarta, Jurnas.com - Bintik putih pada kuku, yang dalam istilah medis disebut leukonychia, kerap dianggap sepele. Padahal, perubahan warna ini dapat menjadi petunjuk adanya gangguan pada kuku maupun kondisi kesehatan tertentu. Meski sebagian besar kasus tidak berbahaya, memahami penyebabnya penting agar tidak mengabaikan sinyal tubuh.
Leukonychia memiliki beberapa bentuk. Bintik putih kecil dan terpisah dikenal sebagai leukonychia punctata dan merupakan jenis yang paling sering dijumpai. Selain itu, perubahan warna bisa muncul dalam bentuk garis, bercak besar, bahkan menutupi seluruh kuku.
Secara umum, pola leukonychia dibedakan menjadi beberapa tipe, antara lain garis memanjang pada kuku (longitudinal leukonychia), bercak putih yang menutupi sebagian besar kuku (partial leukonychia), perubahan warna putih pada seluruh kuku (total leukonychia), serta garis melintang atau Mees’ lines yang biasanya selebar 1–2 milimeter.
Para ahli membagi leukonychia menjadi dua kategori: “true leukonychia” dan “apparent leukonychia”. True leukonychia terjadi akibat gangguan langsung pada lempeng kuku, khususnya pada matriks kuku tempat pertumbuhan sel baru. Sementara itu, apparent leukonychia dipicu oleh kelainan pada jaringan di bawah kuku.
Berikut tujuh penyebab utama bintik putih pada kuku yang perlu diketahui, dikutip dari Health pada Jumat (16/1):
1. Cedera pada kuku
Benturan ringan, terjepit pintu, atau kebiasaan menggigit kuku merupakan penyebab paling umum. Trauma kecil sering kali baru terlihat beberapa minggu kemudian dalam bentuk bintik putih.
Selain itu, penggunaan cat kuku, lem kuku, atau kuku akrilik juga dapat memicu reaksi alergi yang menimbulkan leukonychia. Prosedur manicure yang terlalu agresif pun bisa memberi efek serupa.
2. Infeksi jamur
Infeksi jamur pada kuku, khususnya pada kuku kaki, dapat menyebabkan munculnya bintik putih pada tahap awal. Kondisi ini dikenal sebagai onikomikosis. Jika tidak ditangani, kuku dapat berubah menjadi rapuh, menguning, atau kecokelatan.
3. Kekurangan mineral
Defisiensi mineral tertentu juga berkaitan dengan leukonychia. Bintik putih kecil sering dikaitkan dengan kekurangan zinc. Selain itu, kadar kalsium, selenium, dan zat besi yang rendah turut berperan dalam perubahan warna kuku.
4. Penyakit tertentu
Beberapa penyakit peradangan seperti psoriasis dan alopecia dapat memicu leukonychia. Psoriasis, misalnya, dikenal menyebabkan kulit kering dan gatal, sekaligus memengaruhi struktur kuku. Lichen planus, yang ditandai ruam keunguan dan gatal, juga dapat menimbulkan garis putih vertikal pada kuku.
Selain itu, kondisi seperti diabetes, pneumonia, hepatitis, serta hipertiroidisme dapat memicu leukonychia dalam bentuk garis horizontal maupun vertikal.
5. Efek samping obat
Sejumlah obat dan terapi medis diketahui dapat menyebabkan perubahan warna kuku. Terapi kanker, termasuk kemoterapi, sering menimbulkan leukonychia transversal maupun longitudinal. Obat-obatan seperti hydroxyurea, vorinostat, dan carmustine termasuk di antaranya.
Selain itu, retinoid turunan vitamin A, obat imunosupresan seperti siklosporin, antidepresan trazodone, serta beberapa jenis antibiotik juga dilaporkan dapat memicu bercak putih pada kuku.
6. Faktor keturunan
Kasus leukonychia yang diturunkan secara genetik tergolong jarang. Jika terjadi, biasanya seluruh kuku tampak putih. Beberapa sindrom genetik, seperti Bart-Pumphrey syndrome dan hiperparatiroidisme kongenital, diketahui berkaitan dengan kondisi ini.
7. Keracunan logam berat
Paparan logam berat seperti stronsium, talium, atau arsenik dapat menyebabkan garis putih melintang pada kuku. Keracunan jenis ini biasanya disertai gejala lain, seperti nyeri perut, mual, muntah, menggigil, dan sensasi panas mendadak. Kondisi tersebut memerlukan penanganan medis segera.
Jika bintik putih muncul akibat cedera ringan, biasanya tidak diperlukan perawatan khusus. Namun, apabila bercak terus berulang, melebar, atau disertai garis putih yang jelas, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.
Leukonychia memang sering tidak berbahaya, tetapi dalam beberapa kasus bisa menjadi tanda infeksi jamur, kekurangan mineral, atau penyakit sistemik. Pemeriksaan umumnya meliputi evaluasi fisik, riwayat kesehatan, serta tes darah untuk menilai fungsi organ seperti hati dan ginjal.
Dalam beberapa situasi, dokter juga dapat menggunakan dermoskopi, yakni teknik pengamatan kuku dengan pembesaran, untuk memantau perkembangan kondisi.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
bintik putih kuku penyebab leukonychia kesehatan kuku penyakit kuku

















