Kamis, 15/01/2026 15:52 WIB

Perbedaan Stroke dan Serangan Jantung yang Mudah Dikenali





Serangan jantung dan stroke merupakan dua kondisi medis darurat yang sama-sama berbahaya dan dapat mengancam nyawa.

Ilustrasi wanita menjaga kesehatan jantung (Foto: Health)

Jakarta, Jurnas.com - Serangan jantung dan stroke merupakan dua kondisi medis darurat yang sama-sama berbahaya dan dapat mengancam nyawa. Keduanya terjadi akibat adanya penyumbatan pada pembuluh darah, sehingga aliran darah ke organ vital terganggu. Pada serangan jantung, aliran darah terhambat menuju jantung, sedangkan pada stroke, aliran darah terhenti menuju otak.

Meski sering dianggap serupa, kedua kondisi ini menyerang organ yang berbeda dan menimbulkan dampak jangka panjang yang tidak sama. Serangan jantung cenderung sedikit lebih sering terjadi. Di Amerika Serikat, sekitar 805.000 orang mengalami serangan jantung setiap tahun, sementara sekitar 795.000 orang mengalami stroke.

Gejala kedua penyakit ini dapat muncul secara tiba-tiba dan tidak boleh diabaikan. Mengenali tanda-tandanya sejak dini sangat penting untuk menyelamatkan nyawa. Pada serangan jantung, gejala yang umum meliputi nyeri atau rasa tidak nyaman di dada, pusing, mual atau muntah, nyeri di leher, punggung, atau rahang yang menjalar ke bahu dan lengan, serta sesak napas.

Sementara itu, stroke biasanya ditandai dengan kebingungan mendadak, kesulitan berbicara atau memahami pembicaraan, mati rasa atau kelemahan pada satu sisi tubuh, sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, hingga kesulitan berjalan dan hilangnya keseimbangan.

Perbedaan utama terletak pada organ yang terdampak. Serangan jantung terjadi ketika arteri koroner tersumbat sehingga otot jantung kekurangan oksigen. Kondisi ini dapat merusak jaringan jantung dan mengganggu kemampuan jantung memompa darah secara optimal.

Stroke, di sisi lain, terjadi saat aliran darah ke otak terhenti. Penyebabnya bisa berupa sumbatan pembuluh darah (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah di otak yang memicu perdarahan (stroke hemoragik). Kedua jenis stroke sama-sama berisiko menimbulkan kerusakan otak permanen.

Dampak jangka panjang dari kedua penyakit ini juga berbeda. Serangan jantung dapat melemahkan otot jantung dan meningkatkan risiko gagal jantung, yang membuat penderitanya mudah lelah dan sesak napas. Gangguan irama jantung atau aritmia juga dapat muncul dan berpotensi memicu henti jantung mendadak.

Sementara itu, stroke sering menyebabkan kelumpuhan sebagian tubuh, gangguan bicara, kesulitan bergerak, hingga penurunan kemampuan berpikir dan mengingat. Banyak penyintas stroke membutuhkan rehabilitasi jangka panjang untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari.

Dari sisi diagnosis, serangan jantung biasanya diperiksa melalui elektrokardiogram (EKG), ekokardiogram, rontgen dada, tes darah, angiografi koroner, serta uji latih jantung. Stroke lebih sering didiagnosis menggunakan CT scan, MRI, serta pemeriksaan darah untuk menilai kondisi kesehatan secara umum.

Meski berbeda, serangan jantung dan stroke memiliki banyak kesamaan, terutama dari sisi faktor risiko. Tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, diabetes, dan obesitas merupakan pemicu utama kedua penyakit ini. Riwayat keluarga serta gaya hidup tidak sehat juga turut meningkatkan risiko.

Upaya pencegahan pun serupa. Pola makan sehat, olahraga teratur, berhenti merokok, mengelola stres, serta mengontrol penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes menjadi kunci utama menurunkan risiko serangan jantung dan stroke.

Pakar kesehatan menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap perbedaan dan kesamaan kedua kondisi ini, dikutip dari Health pada Kamis (15/1). Dengan mengenali gejala sejak dini dan menerapkan gaya hidup sehat, risiko komplikasi serius akibat serangan jantung maupun stroke dapat ditekan secara signifikan.

KEYWORD :

perbedaan stroke serangan jantung gejala stroke jantung pencegahan jantung risiko stroke jantung




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :