Ilustrasi punggung sakit akibat dampak panjang flu (Foto: Health)
Jakarta, Jurnas.com - Influenza atau flu kerap dianggap sebagai penyakit musiman yang ringan. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa flu dapat meninggalkan dampak kesehatan jangka panjang, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis.
Salah satu komplikasi paling serius adalah gangguan jantung. Penyakit pernapasan, termasuk flu, diketahui dapat memicu serangan jantung. Risiko serangan jantung bahkan dilaporkan meningkat hingga enam kali lipat pada minggu pertama setelah seseorang terdiagnosis flu dibandingkan periode satu tahun sebelum atau sesudahnya.
Sekitar 12 persen pasien yang dirawat di rumah sakit akibat flu juga mengalami komplikasi jantung. Risiko ini lebih tinggi pada penderita penyakit jantung maupun mereka yang memiliki riwayat stroke. Karena itu, vaksin flu tahunan menjadi langkah penting untuk menekan potensi komplikasi tersebut.
Selain jantung, flu juga dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh dan kekuatan otot. Kondisi ini muncul akibat kurangnya aktivitas selama masa sakit, terutama jika pasien harus beristirahat total di tempat tidur.
William Schaffner, MD, spesialis penyakit menular dari Vanderbilt University, menjelaskan bahwa kehilangan kekuatan otot ini sangat berbahaya bagi lansia, meski pada orang muda dampaknya tetap bisa dirasakan. Ia menyarankan aktivitas ringan seperti berjalan cepat untuk membantu pemulihan setelah flu.
“Setelah infeksi virus yang berat, tubuh membutuhkan waktu untuk pulih. Memaksakan diri terlalu cepat justru dapat membuat kondisi memburuk,” ujar Sharon Nachman, MD, Kepala Divisi Penyakit Infeksi Anak di Stony Brook University School of Medicine, dikutip dari Health pada Kamis (15/1).
Nachman juga mengingatkan agar pasien mendengarkan sinyal tubuh. Jika muncul sesak napas atau kelelahan berlebihan, intensitas aktivitas sebaiknya segera dikurangi.
Pada lansia, flu bahkan dapat menjadi awal dari penurunan fungsi fisik secara berkelanjutan. Risiko sakit berat, rawat inap, penurunan kualitas hidup, hingga kematian meningkat signifikan setelah terinfeksi flu.
“Pastikan mereka mendapatkan bantuan untuk kembali ke rutinitas normal. Dalam beberapa kasus, terapi fisik bisa sangat diperlukan,” kata Schaffner.
Flu juga dapat melemahkan sistem imun sehingga tubuh lebih rentan terhadap infeksi lanjutan, seperti pneumonia. Karena itu, wajar jika seseorang merasa belum sepenuhnya pulih setelah flu berat. Namun, bila gejala menetap atau memburuk, konsultasi medis sangat dianjurkan.
Beberapa kelompok memiliki risiko komplikasi lebih tinggi, di antaranya anak di bawah lima tahun, lansia di atas 65 tahun, penderita diabetes, penyakit paru atau jantung, gangguan saraf, gangguan ginjal atau hati, serta individu dengan sistem imun lemah.
Flu juga dapat memengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium. Setelah infeksi virus, jumlah sel darah putih biasanya menurun. Oleh sebab itu, pasien disarankan memberi tahu tenaga medis jika недавно mengalami flu sebelum menjalani tes darah.
Untuk mencegah dampak jangka panjang, dokter dapat meresepkan obat antivirus, terutama jika diberikan dalam dua hari pertama sejak gejala muncul. Selain itu, vaksin flu tahunan tetap menjadi perlindungan utama.
Langkah pencegahan lain meliputi menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, rutin membersihkan permukaan yang sering disentuh, tidak berbagi barang pribadi, menjaga sirkulasi udara, mencuci tangan dengan sabun, menggunakan hand sanitizer, serta tetap di rumah saat sakit.
Segera hubungi tenaga kesehatan jika mengalami demam tinggi, pusing, sesak napas, atau tanda-tanda dehidrasi. Penanganan cepat dapat mencegah komplikasi yang lebih serius akibat flu.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
dampak flu jangka panjang komplikasi flu pencegahan influenza risiko flu


















