Kamis, 15/01/2026 12:02 WIB

Iklim Bumi Pernah Berubah Ekstrem Tanpa Es, Studi Ungkap Peran Matahari





Perubahan iklim di Bumi tidak selalu terjadi secara perlahan, karena sejarah menunjukkan lonjakan ekstrem bisa terjadi dalam waktu singkat

Ilustrasi perubahan iklim ekstrem di Bumi (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Perubahan iklim di Bumi tidak selalu terjadi secara perlahan, karena sejarah menunjukkan lonjakan ekstrem bisa terjadi dalam waktu singkat. Bahkan tanpa lapisan es raksasa, iklim Bumi pernah berayun tajam antara kondisi basah dan kering.

Temuan ini terungkap dalam studi terbaru yang dipimpin China University of Geosciences, yang meneliti iklim Bumi sekitar 83 juta tahun lalu. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa penyebab perubahan cepat itu tertanam langsung dalam cara sinar Matahari menyinari Bumi.

Untuk membuktikannya, para peneliti menganalisis sedimen purba dari Cekungan Songliao di China yang terbentuk pada era Kapur Akhir. Lapisan sedimen ini menyimpan rekaman kontinu perubahan lingkungan, dari kimia hingga gangguan biologis.

Melalui rekaman tersebut, peneliti menemukan iklim saat itu berosilasi secara teratur antara lembap dan kering. Pergeseran ini terjadi setiap 4.000 hingga 5.000 tahun, meski Bumi berada dalam kondisi panas ekstrem tanpa lapisan es.

Kunci penjelasannya terletak pada presesi sumbu Bumi, yakni gerakan goyang perlahan seperti gasing di angkasa. Gerakan ini mengubah distribusi musiman sinar Matahari, terutama di wilayah tropis.

Berbeda dengan lintang tinggi, daerah tropis menerima dua puncak radiasi Matahari setiap tahun akibat kemiringan Bumi. Pola ganda ini memecah siklus presesi menjadi denyut iklim yang lebih cepat.

Akibatnya, muncul ritme iklim yang disebut seperempat presesi dengan periode sekitar 5.000 tahun. Pola inilah yang terekam jelas dalam sedimen Kapur Akhir di Cekungan Songliao.

Lebih jauh, kekuatan perubahan iklim tersebut mengikuti siklus orbit Bumi yang lebih panjang, sekitar 100.000 tahun. Ketika orbit Bumi berubah lebih lonjong atau bulat, dampak musiman presesi ikut menguat atau melemah.

Peneliti juga menemukan bahwa proses iklim nonlinier mampu mempercepat ritme ini menjadi fluktuasi 1.800 hingga 4.000 tahunan. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan iklim cepat bukan peristiwa acak, melainkan denyut sistemik.

Era Kapur Akhir menjadi penting karena kadar CO₂ saat itu mencapai sekitar 1.000 ppm, setara dengan proyeksi terburuk abad ini. Kondisi tersebut menjadikannya analog kuat untuk memahami masa depan iklim Bumi.

Meski susunan benua dan ekosistem berbeda, hukum fisika orbit Bumi tetap sama hingga miliaran tahun ke depan. Karena itu, perubahan iklim cepat berpotensi kembali muncul di dunia yang semakin panas.

Temuan ini menggeser pandangan lama bahwa perubahan iklim ekstrem selalu membutuhkan pemicu besar seperti lapisan es. Sebaliknya, iklim Bumi ternyata mampu berfluktuasi cepat sebagai bagian alami dari interaksi antara Matahari, orbit, dan sistem iklim itu sendiri. (*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Iklim Bumi Perubahan Iklim Cuaca Ekstrem Sinar Matahari Cekungan Songliao




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :