Kamis, 15/01/2026 08:29 WIB

Sisi Kepemimpinan Nabi Musa AS yang Jarang Dibahas





Kisah Nabi Musa AS mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati bukanlah tentang kemudahan, melainkan tentang kemampuan bertahan dalam ujian

Ilustrasi - Kisah Nabi Musa yang jarang dibahas (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Nabi Musa AS dikenal luas sebagai sosok pembebas Bani Israil dari penindasan Fir`aun dan penerima wahyu Taurat.

Namun, di balik narasi besar tersebut, terdapat sisi kepemimpinan Nabi Musa AS yang jarang dibahas secara mendalam, terutama terkait cara beliau mengelola umat yang keras kepala, beragam karakter, dan sering kali menentang otoritasnya sendiri.

Kepemimpinan Nabi Musa AS tidak dibangun di atas kekuasaan mutlak, melainkan kesabaran dan keteguhan moral. Ia memimpin bukan masyarakat ideal, tetapi umat yang kerap mengeluh, membangkang, bahkan meragukan perintah Allah meski telah menyaksikan mukjizat secara langsung. Kondisi ini menuntut Musa AS untuk memiliki daya tahan emosional dan spiritual yang luar biasa.

Salah satu aspek kepemimpinan Nabi Musa AS yang menonjol adalah keberaniannya menyampaikan kebenaran, bahkan ketika hal itu berisiko besar. Ia berhadapan langsung dengan Fir`aun, penguasa tiran dengan kekuatan politik dan militer yang besar. Musa AS tidak datang sebagai pemimpin revolusioner bersenjata, melainkan sebagai utusan yang membawa pesan moral dan keadilan.

Al-Qur’an menggambarkan dialog Nabi Musa AS dengan Fir’aun sebagai bentuk kepemimpinan berbasis argumen dan kejelasan misi, bukan provokasi emosional. Musa AS menunjukkan bahwa pemimpin sejati tidak bergantung pada kekuatan fisik, tetapi pada legitimasi nilai dan keberanian menyampaikan kebenaran.

Sisi lain yang jarang disorot adalah kerendahan hati Nabi Musa AS dalam kepemimpinan. Ia tidak ragu mengakui keterbatasannya, bahkan memohon kepada Allah agar saudaranya, Nabi Harun AS, mendampinginya dalam menjalankan misi. Permohonan ini menunjukkan kesadaran Musa AS bahwa kepemimpinan tidak harus dijalankan sendirian.

Allah SWT mengabadikan doa Nabi Musa AS dalam Al-Qur’an:

وَاجْعَل لِّي وَزِيرًا مِّنْ أَهْلِيهَارُونَ أَخِي

Artinya:
Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, yaitu Harun, saudaraku. (QS. Thaha: 29–30)

Doa tersebut mencerminkan model kepemimpinan kolaboratif yang mengedepankan kerja sama dan pembagian peran. Nabi Musa AS memahami bahwa efektivitas kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh visi, tetapi juga oleh kemampuan membangun tim yang saling melengkapi.

Selain itu, Nabi Musa AS juga dikenal tegas dalam menegakkan prinsip, meski harus menghadapi umatnya sendiri. Ketika Bani Israil menyimpang, Musa AS tidak menutup mata demi popularitas. Ia menegur, mengingatkan, bahkan marah ketika nilai-nilai ketauhidan dilanggar. Sikap ini menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu identik dengan sikap lunak, tetapi juga ketegasan yang berlandaskan nilai.

Dalam konteks modern, kepemimpinan Nabi Musa AS memberikan pelajaran penting tentang integritas, keteguhan, dan kesabaran menghadapi tekanan. Ia memimpin bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi misi yang lebih besar, meski harus berhadapan dengan konflik internal dan eksternal secara bersamaan.

KEYWORD :

Info Keislaman Nabi Musa AS Pemimpin Fir`aun wahyu Taurat




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :