Ilustrasi Peristiwa Isra Mikraj - Lafadz Nabi Muhammad Saww berdampingan dengan lafadz Allah SWT (Foto: Pexels/Khalili)
Jakarta, Jurnas.com - Peringatan Isra Mi`raj merupakan momen istimewa bagi umat Muslim, memperingati perjalanan agung Nabi Muhammad SAW. Dua peristiwa besar dalam agama Islam ini, Isra dan Mi`raj, menyimpan hikmah mendalam yang tidak hanya relevan pada zaman dahulu, tetapi juga memberikan pelajaran penting untuk kehidupan sehari-hari hingga kini.
Peristiwa Isra Mikraj memberi gambaran bahwa pengalaman keagamaan dalam Islam tidak berhenti pada hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Spiritualitas justru menemukan maknanya ketika hadir dalam relasi sosial, tercermin melalui sikap adil, jujur, peduli, hingga bertanggung jawab terhadap sesama. Dari sini, Isra Mikraj menghadirkan keterpaduan antara ibadah atau spiritual dan akhlak sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Isra Mikraj yang diabadikan dalam Surah Al-Isra menjadi bagian penting dalam perjalanan kenabian Muhammad SAW. Dari peristiwa inilah lahir perintah salat, yang tidak hanya bermakna ritual individual, tetapi juga sarana membangun keadilan, kedamaian, dan kesejahteraan bersama. Ketika salat dijalankan dengan kesadaran penuh, nilai-nilai tersebut dapat tumbuh dan membentuk masyarakat yang lebih harmonis dan bermartabat.
Ini Makna Isra Mikraj bagi Kehidupan Umat Islam
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa salat merupakan fondasi spiritualitas dan pilar agama. Salat mengajarkan kedisiplinan, ketundukan, dan hubungan yang erat dengan Sang Pencipta.
Dan, lanjut Menag, salat ditutup dengan salam, memberi pesan tentang pentingnya menebar kedamaian dan keselamatan. Salat mengajarkan tentang pentingnya keseimbangan antara hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia.
Cendekiawan Muslim M. Quraish Shihab memandang pengalaman spiritual sebagai bagian dari proses perbaikan kehidupan. Kedekatan dengan Tuhan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi sumber energi etis yang menggerakkan lahirnya keadilan, ketertiban, dan kasih sayang dalam hubungan antarmanusia. Spiritualitas yang tidak berbuah pada perubahan perilaku sosial berisiko kehilangan daya hidupnya.
Kesadaran ini membantu umat agar tidak terjebak pada dimensi ritual semata. Pemikir Islam Mun’im Sirry mengingatkan bahwa pesan keagamaan hadir dalam ruang sejarah dan dipahami melalui proses penafsiran manusia. Karena itu, ajaran agama perlu dibaca dari arah nilai dan tujuan moral yang hendak diwujudkan, bukan hanya dari bentuk lahiriahnya.
Isra Mikraj juga memperlihatkan bahwa religiositas bukanlah pelarian dari realitas dunia, melainkan sumber komitmen untuk merawatnya. Seseorang yang mengalami pendalaman rohani justru dipanggil untuk kembali ke kehidupan sosial dengan empati yang lebih luas dan tanggung jawab yang lebih besar terhadap sesama manusia.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Komaruddin Hidayat, yang melihat agama sebagai kekuatan yang menumbuhkan kepekaan terhadap penderitaan, ketidakadilan, dan kerentanan manusia. Kedalaman iman tidak semata diukur dari intensitas ibadah, melainkan dari kualitas kepedulian sosial yang tampak dalam tindakan nyata.
Dalam kehidupan masyarakat yang beragam, pesan sosial Isra Mikraj terasa semakin relevan. Agama hadir di ruang publik sebagai sumber nilai etika bersama. Kedekatan dengan Tuhan idealnya memperhalus relasi antarmanusia, memperkuat solidaritas sosial, serta menumbuhkan tanggung jawab kolektif untuk menjaga kebersamaan. (*)
Wallahu`alam
Sumber: Kemenag.go.id, Jurnas.com, dan berbagai sumber lainnya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Isra Mikraj Nilai Sosial Isra dan Mikraj Nabi Muhammad


















