Rabu, 14/01/2026 18:04 WIB

Isra Mikraj dan Penetapan Salat Lima Waktu bagi Umat Islam





Isra Mikraj dan penetapan salat lima waktu bukan sekadar peristiwa historis, melainkan fondasi ajaran Islam yang terus hidup dan membimbing umat hingga hari ini

Ilustrasi - ini sejarah Isra Mikraj yang ada hubungannya dengan salat lima waktu (Foto: Pexels/Khalili)

Jakarta, Jurnas.com - Peristiwa Isra Mikraj tidak hanya dikenal sebagai perjalanan agung Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam penetapan kewajiban salat lima waktu bagi umat Islam.

Dalam sejarah ajaran Islam, salat menempati posisi istimewa karena diperintahkan secara langsung oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW di langit, bukan melalui perantaraan wahyu di bumi.

Perintah salat diterima Nabi Muhammad SAW saat Mikraj, ketika beliau dinaikkan hingga Sidratul Muntaha. Pada awalnya, Allah SWT mewajibkan salat sebanyak lima puluh kali sehari semalam.

Namun, setelah Rasulullah SAW beberapa kali kembali menghadap atas saran Nabi Musa AS, kewajiban tersebut diringankan menjadi lima waktu dengan pahala setara lima puluh salat.

Keistimewaan perintah salat ini menegaskan bahwa ibadah tersebut merupakan fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Salat tidak hanya menjadi kewajiban ritual, tetapi juga sarana komunikasi langsung antara hamba dan Tuhannya. Dalam konteks ini, salat disebut sebagai mi’raj-nya orang beriman.

Dasar kewajiban salat ditegaskan dalam Al-Qur`an, sebagaimana firman Allah SWT:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Artinya:
Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisa: 103)

Selain Al-Qur`an, penetapan salat lima waktu melalui Isra Mikraj juga ditegaskan dalam hadis sahih. Rasulullah SAW bersabda:

فُرِضَتِ الصَّلَاةُ خَمْسِينَ صَلَاةً، ثُمَّ نُقِصَتْ حَتَّى جُعِلَتْ خَمْسًا، وَهِيَ خَمْسُونَ فِي الْأَجْرِ

Artinya:
Salat diwajibkan sebanyak lima puluh kali, kemudian dikurangi hingga menjadi lima waktu, namun tetap bernilai lima puluh dalam pahala. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam perspektif sosial dan spiritual, salat lima waktu berfungsi sebagai penopang keseimbangan hidup. Ia mengatur ritme harian seorang Muslim, mengingatkan manusia untuk tidak larut dalam urusan duniawi, serta membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, pesan Isra Mikraj tentang salat menjadi semakin relevan. Salat lima waktu berperan sebagai jeda spiritual yang menjaga kesehatan mental, ketenangan batin, dan orientasi hidup yang berlandaskan nilai ketuhanan.

KEYWORD :

Info Keislaman Isra Mikraj salat lima waktu Sejarah Islam




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :