Ilustrasi - Isra Mikraj (Foto: Pexels/Faheem Ahamad)
Jakarta, Jurnas.com - Peristiwa Isra Mikraj merupakan salah satu momentum paling penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada masa paling berat dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Perjalanan agung ini diyakini berlangsung setelah Rasulullah mengalami fase penuh tekanan, baik secara psikologis maupun sosial, yang dikenal dalam sejarah sebagai ‘Amul Huzn atau Tahun Kesedihan.
Tahun Kesedihan merujuk pada periode wafatnya dua sosok utama pendukung dakwah Nabi, yakni Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib.
Lima Amalan Utama di Akhir Bulan Rajab
Kehilangan ini tidak hanya berdampak secara emosional, tetapi juga memperlemah posisi sosial Rasulullah di tengah kerasnya penolakan kaum Quraisy terhadap ajaran Islam.
Dalam situasi tersebut, tekanan terhadap Nabi Muhammad SAW semakin meningkat. Penolakan dakwah, intimidasi, hingga perlakuan tidak manusiawi menjadi bagian dari keseharian beliau.
Bahkan, perjalanan dakwah ke Thaif yang diharapkan membuka jalan baru justru berakhir dengan penolakan dan perlakuan kasar dari penduduk setempat.
Di tengah kondisi inilah, peristiwa Isra Mikraj hadir sebagai bentuk penguatan langsung dari Allah SWT kepada Rasul-Nya. Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu dilanjutkan dengan Mikraj ke langit, menjadi simbol bahwa pertolongan Ilahi kerap datang setelah kesabaran mencapai puncaknya.
Dasar utama peristiwa Isra Mikraj disebutkan secara jelas dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 1:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya:
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
Ayat ini menegaskan bahwa Isra Mikraj bukan sekadar kisah spiritual, melainkan peristiwa nyata yang memiliki landasan wahyu. Dalam perspektif sejarah Islam, Isra Mikraj juga berfungsi sebagai legitimasi kenabian sekaligus penghiburan ilahi setelah masa penderitaan yang panjang.
Para ulama sejarah dan tafsir sepakat bahwa Isra Mikraj menandai fase transisi penting dalam dakwah Nabi Muhammad SAW. Setelah peristiwa ini, arah perjuangan Islam mulai menunjukkan perubahan signifikan yang pada akhirnya mengarah pada hijrah ke Madinah dan penguatan komunitas Muslim.
Dengan demikian, latar belakang historis Isra Mikraj menunjukkan bahwa Islam tumbuh melalui proses ujian, keteguhan, dan kesabaran. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dalam setiap fase kesulitan, selalu ada hikmah besar yang sedang disiapkan oleh Allah SWT.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman Isra Mikraj sejarah Islam Nabi Muhammad SAW.

















