Rabu, 14/01/2026 15:54 WIB

Awal 2026, Ini Deretan Mata Uang Paling Lemah di Dunia





Nilai tukar mata uang sering menjadi cerminan kondisi ekonomi sebuah negara.

Ilustrasi - Tumpukan pound Suriah (Foto: REUTERS)

Jakarta, Jurnas.com - Nilai tukar mata uang kerap dijadikan indikator untuk membaca kondisi ekonomi suatu negara. Dalam konteks global, istilah mata uang paling lemah umumnya merujuk pada nilai nominal mata uang yang sangat rendah terhadap dolar Amerika Serikat, sehingga dibutuhkan puluhan ribu hingga jutaan unit mata uang lokal untuk menyamai satu dolar AS.

Pelemahan nilai tukar ini tidak terjadi tanpa sebab. Faktor-faktor seperti inflasi tinggi, krisis ekonomi berkepanjangan, ketidakstabilan politik, lemahnya cadangan devisa, hingga sanksi internasional menjadi pemicu utama merosotnya nilai mata uang suatu negara di pasar valuta asing.

Memasuki awal 2026, sejumlah mata uang masih berada di posisi terbawah dalam daftar nilai tukar dunia.

Berikut deretan mata uang dengan nilai nominal terlemah terhadap dolar AS, beserta gambaran kondisi ekonomi yang memengaruhinya.

1. Iranian Rial (Iran)

Rial Iran masih menempati posisi teratas sebagai mata uang terlemah secara nominal. Nilainya berada di kisaran 1.420.000 rial per dolar AS. Tekanan sanksi internasional, inflasi yang sangat tinggi, serta ketidakpastian politik membuat nilai rial terus tergerus dan berdampak langsung pada daya beli masyarakat.

2. Pound Lebanon (Lebanon)

Pound Lebanon berada di kisaran 89.500 hingga 89.800 per dolar AS. Krisis ekonomi dan perbankan yang berkepanjangan sejak beberapa tahun terakhir membuat mata uang ini kehilangan nilainya secara drastis dan belum menunjukkan tanda pemulihan signifikan.

3. Dong Vietnam (Vietnam)

Dong Vietnam diperdagangkan di kisaran 26.000 hingga 26.200 per dolar AS. Meski bernilai nominal rendah, kondisi ini tidak sepenuhnya mencerminkan krisis ekonomi, karena Vietnam justru mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dan terkelola dengan baik.

4. Kip Laos (Laos)

Kip Laos berada pada kisaran 21.500 hingga 21.700 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang ini dipicu oleh keterbatasan cadangan devisa serta tingginya ketergantungan pada impor, yang membuat posisi kip rentan terhadap gejolak eksternal.

5. Rupiah Indonesia (Indonesia)

Rupiah juga termasuk dalam jajaran mata uang dengan nilai nominal rendah. Per 14 Januari 2026, rupiah bergerak di kisaran Rp16.400 hingga Rp16.880 per dolar AS. Fluktuasi rupiah dipengaruhi oleh kondisi global, kebijakan moneter, serta sentimen pasar internasional.

6. Som Uzbekistan (Uzbekistan)

Mata uang Uzbekistan, som, diperdagangkan di kisaran 12.900 hingga 12.960 per dolar AS. Pemerintah setempat masih menjalankan berbagai reformasi ekonomi untuk memperkuat stabilitas mata uang, meski dampaknya belum sepenuhnya terasa di pasar global.

7. Franc Guinea (Guinea)

Dari kawasan Afrika, franc Guinea berada di kisaran 8.600 hingga 8.700 per dolar AS. Inflasi, keterbatasan infrastruktur keuangan, serta tantangan ekonomi domestik menjadi faktor utama lemahnya mata uang ini.

8. Guarani Paraguay (Paraguay)

Guarani Paraguay diperdagangkan di kisaran 7.800 hingga 8.000 per dolar AS. Meski secara nominal tergolong lemah, perekonomian Paraguay relatif lebih stabil dibandingkan sejumlah negara lain yang mata uangnya berada dalam daftar ini.

9. Ariary Madagaskar (Madagaskar)

Ariary Madagaskar berada di kisaran 4.400 hingga 4.700 per dolar AS. Ketergantungan pada sektor tertentu, keterbatasan industri domestik, serta tekanan ekonomi internal turut memengaruhi nilai tukarnya.

10. Riel Kamboja (Kamboja)

Riel Kamboja diperdagangkan di kisaran 4.100 hingga 4.200 per dolar AS. Dalam praktik sehari-hari, dolar AS digunakan berdampingan dengan riel, sehingga lemahnya nilai nominal mata uang ini telah lama menjadi bagian dari sistem ekonomi Kamboja.

KEYWORD :

Mata Uang Terlemah Dolar AS Rial Iran Uang Rupiah




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :